
Oleh : Anang Prasetyo
“Generasi yang sedang berkembang harus kita didik, agar menguasai teknologi modern, tetapi sekaligus juga terbuka bagi kesenian. Budi mereka harus dibina, agar tidak melulu berjiwa seni, tetapi juga tidak melulu berjiwa mesin komputer”
( Van Peursen : 1992)
Prolog
FAKTOR LAKU
Perhelatan Festival Padhang Njingglang tahun ini telah menapaki 15 tahun perjalanan Komunitas Padhang Njingglang. Adapun pameran seni rupa komunitas adalah masih untuk pertama kalinya digelar. Pameran yang menampilkan semuanya. Baik karya kreatifitas selama melaksanakan kegiatan, ditambah dengan arsip komunitas serta respon dan gagasan dengan mewadahi kelompok lain untuk berkolaborasi.
Selama 15 tahun Komunitas Padhang Njingglang itu pula, pengabdian atau pengkhidmahan pada dunia pendidikan seni dan kreativitas anak, remaja dan dewasa terjalani.
Komunitas Padhang Njingglang awalnya fokus pada pembelajaran edukatif untuk anak kecil. Dengan menyelenggarakan metode pembelajaran BCMK Bermain Cerita Menyanyi dan Kreasi. Namun dalam perkembangannya akhirnya melibatkan mahasiswa sebagai volunteer pengisi acara komunitas.
Sejak didirikan 29 Nopember 2009, baru empat tahun kemudian diselenggarakan perhelatan Festival untuk pertama kalinya. Itu artinya, selama 4 tahun ( 2009 – 2013) itu pula pembinaan internal kepada mahasiswa lebih menjadi prioritas yang ditekankan.
Sehingga kegiatan awalnya adalah tatkala para mahasiswa telah memperoleh bekal pembelajaran di komunitas, itu kemudian diterapkan kepada anak didiknya. Tempatnya terkadang di sekitar rumah di Kampung desa Jepun Kabupaten Tulungagung. Kadang di alun-alun Tulungagung. Bahkan kadang berkeliling ke rumah- rumah, di sekolah, madrasah, yang mau ditempati acara. Setiap bulannya, khususnnya Ahad ke 3.
Pada perkembangan selanjutnya,
penulis di tahun 2011 mengabdikan diri menjadi Guru di SMKN 1 Boyolangu. Praktis relasi sosial pengajarannya akhirnya lebih kepada anak SMK. Ini nantinya mempengaruhi pola pembinaan dari mahasiswa kepada murid remaja SMK. Meskipun fokus pembelajaran seni dan kreativitas tetap untuk anak-anak setingat sekolah dasar.
Disisi yang lain, KOMPAN ( akronim Komunitas Padhang Njingglang) , tetap aktif menyelenggarakan metode pembelajaran BCMK ( Bermain Cerita Menyanyi dan Kreasi) setiap pekan ke 3.
Sehingga sejak 2009 sampai 2026, selain metode pembelajaran BCMK pada akhirnya pada tahun 2015, mendapat tambahan metode AMB ( Aktivasi Memori Bahagia). Hingga akhirnya KOMPAN mendapati momentum ditandai munculnya GSRK ( Gerakan Seni Rupa Kebahagiaan). Hingga paska laku lampah penulis di tahun 2017, mendapati Ilham penciptaan wayang godhong.
Kompan dengan menginisiasi GSRK- nya serta metode AMB, mau tidak mau, produk hasil dari pembinaannya lebih banyak kepada aspek karya seni rupa dan kreativitas. Dibanding misalnya metode bercerita, atau menyanyi . Sekedar contoh, metode bercerita berjudul Kancil Bertaubat, sebagai antitesis cerita Kancil Mencuri Mentimun, memiliki landasan filosofis agar anak-anak memiliki kepekaan dan kejujuran untuk bertobat jika bersalah ( mencuri mentimun) dan output nya menjadi pengusaha yang jujur ( karena syarat diberi maaf oleh petani, ia harus menanam mentimun untuk dikembalikan kepada sang petani).
Sedangkan aktivitas menyanyi lebih kepada menyanyikan lagu Padhang Mbulan dan lagu doa Allohummaghfirli, di setiap awal pembelajaran. Diselingi dengan membaca puisi doa untuk ibu oleh salah satu peserta.
Metode AMB pada akhirnya telah dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia dan desa-desa di Tulungagung. Tercatat di kota Batu, Tulungagung, Bojonegoro, Kediri, Tuban, Jogyakarta, Surabaya, Papua secara daring dan kota-kota lainnya.
Walhasil, pola BCMK menjadi standar dalam pembelajaran Komunitas Padhang Njingglang. Hingga pada tahun 2015, dengan terbitnya 5 buku yang ditulis Anang Prasetyo, salah satunya berjudul Menggambar Memori Bahagia. itu menjadi cikal bakal GSRK (Gerakan Seni Rupa Kebahagiaan). Sebuah gerakan untuk membahagiakan anak – anak melalui pendidikan seni rupa.
Terlebih saat buku tersebut dibedah di Omah Mikir Batu Malang, di rumah gerakan kesenirupaan dan kebudayaan Prof. Djulijatprambudi, akhirnya mendapati titik pencerahannya. Sebab, ternyata , baru disadari ada muatan spiritualitas di dalam metode AMB ( Aktivasi Memori Bahagia). Yakni adanya nilai kesyukuran kepada Tuhan atas diberinya pengalaman bahagia dalam hidupnya.
Hingga pada tahun 2021 saat prosiding seminar berjudul Aktivasi Memori Bahagia sebagai Pemantik ide & kreativitas, diterima pihak ISI Jogyakarta. Metode AMB, itu akhirnya meneguhkan keyakinan bahwa metode ( baca: Lisa Sidyawati menurut pembimbing disertasinya, menyebut sebagai model pembelajaran AMB), akhirnya memiliki kekuatan dalam landasan keilmuannya.
Sampai pada saat kuliah tamu di Jurusan Pendidikan Seni Rupa & Desain Universitas Negeri Surabaya pada 29 September 2022, metode itu tersampaikan kepada para mahasiswa.
Termasuk pada saat ada undangan menjadi dosen praktisi bertajuk ” Integrasi Ilmu Agama dalam Gerakan Seni Rupa Kebahagiaan” pada 23 Oktober 2023 di kampus yang sama, seolah itu menabalkan konsep integrasi keilmuan baik ilmu agama ( spiritualitas) , pendidikan seni dan psikologi serta motivasi, menjadi satu kesatuan keilmuan.
Hingga pada titik dimana terselenggara Pameran Aposteriori 23 – 25 Mei 2024 di Outdetrach Semarang, oleh Lisa Sidyawati. Dia adalah dosen pendidikan seni rupa Universitas Negeri Malang. Lisa Sidyawati adalah mahasiswa tingkat doktoral di Universitas Negeri Semarang. Disertasinya berjudul Aspek Humanisme dalam Pendidikan di Komunitas Padhang Njingglang.
Ini seolah mencapai titik lain keilmuan, tatkala terselenggara acara Menggambar Memori Bahagia di Lab School Universitas Negeri Malang pada Selasa 25 Nopember 2025. Dengan semua pesertanya adalah anak-anak ABK.
Sehingga perjalanan keilmuan yang panjang itu seolah menjadi bahan bakar gerakan Komunitas Padhang Njingglang dalam pemberdayaan pendidikan seni ( rupa) khususnya di lembaga pendidikan dan masyarakat.
Dialog
FAKTOR MENGALIRNYA ILMU
Maka demikianlah, kegiatan lintas keilmuan dan lintas sektoral kreativitas menjadi tak terhindarkan. Mulai dari ranah pendidikan seni rupa , kemudian pada spiritualitas agama ( baca: kesyukuran kepada Sang Pencipta) . Ilmu psikologi lebih kepada seni rupa sebagai terapi. Dan motivasi pengembangan diri. Hingga pada akhirnya ke wilayah sejarah.
Yaitu dengan adanya Sanggrahan Visual Art Project di tahun 2026 ini. Ia aslinya adalah merespon terselenggaranya Padhang Njingglang Art Fest di situs Candi Sanggrahan Tulungagung Jawa Timur.
Sehingga integrasi keilmuan Pendidikan – Spiritualitas – Psikologi – Motivasi – Kesejarahan menjadi bahan baku yang melengkapi gerakan di Komunitas Padhang Njingglang.
Dialektika kesadaran keilmuan ini merupakan perjalanan Komunitas. Kearifan orang Jawa dengan mengatakan Ilmu tumekane kanthi kaku ( ilmu itu datang nya karena menjalani suatu perjalanan), maka demikianlah yang terjadi dalam Komunitas Padhang Njingglang.
Termasuk dengan pertemuan tak terduga dengan alumni Gontor, Ustadz Agus Mustaqiem. Beliau menyukai dunia melukis kaligrafi Kufi. Maka jadilah karya – karya itu ikut dipamerkan.
Ini seolah menjadi oase gagasan dan semua cabang keilmuan kesenirupaan.
Termasuk karya terakhir berjudul Tribute to Pelangi. Aslinya venue itu disiapkan untuk memamerkan karya Aposteriori karya Lisa Sidyawati. Karya yang pernah di pamerkan di Outdetrach Semarang. Agar masyarakat Tulungagung mengapresiasi karya berkualitas tinggi tersebut. Namun ditengah – tengah persiapan Pameran, ada musibah yang menimpa Bu Lisa Sidyawati, yakni putrinya lahir prematur. Hanya bertahan 2 hari menghirup udara. Namanya adalah Pelangi. Maka karya tersebut hadir sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Ananda Pelangi. Dikerjakan oleh Ayunda dan Najwa, mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Malang. Mereka berdua adalah mahasiswa bimbingannya Lisa Sidyawati.
Epilog
AKHIRAN UNTUK AWALAN
Pameran Padhang Njingglang Art Fest digelar mulai hari
Senin 1 s.d Ahad 7 Juni 2026. Jam buka Pameran
Pukul *15.00 – 17.00 WIB* khusus hari Sabtu dan Ahad jam 08 sampai jam 21.00
Keseluruhannya berada di lingkungan
Kompleks Pendopo Hiraprajan Padhang Njingglang ( bekas Joglo Sendang Kamulyan yang terbakar pada Kamis 20 Pebruari 2025). Tempatnya di
Jl. Mastrip Gg I no 23 C Jepun Tulungagung Jawa Timur
*Ada 6 Venue pameran Padhang Njingglang Art Fest 2026.*
1. Venue 1 berupa karya instalasi *SEMESTA RUPA BERTASBIH* ( pendopo Hiraprajan Padhang Njingglang). Sebuah representasi karya lukis di kanvas, lukis di tunas kelapa, serta hasil buku diary seni, wayang godhong dll.
2. Venue 2. Pameran ART ship Komunitas Padhang Njingglang
3. Venue 3 *Sanggrahan Visual Art Project 2026* Sebuah produksi rupa Kompan
4. Venue 4 : *Tribute to Pelangi* karya Ayunda dan Wawa ( Mahasiswa binaan Lisa Sidyawati dosen UM Malang)
5. *Pojok Dolanan Anak Tradisional & Pokok Kreativitas Boneka dari sampah*
6. Pameran Kaligrafi kelompok Nun wa Qolam
7. Panggung dan Lapangan Utama untuk melaksanakan kegiatan kreatifitas selama pameran berlangsung.
Pameran ini terselenggara adalah semata menikmati proses keilmuan. Awalnya demikian namun akhirnya juga demikian.
Selamat menjelajahi dunia seni dan kreativitas. Selamat menikmati karya dalam kebahagiaan sejati sebagai insan Tuhan.
Tulungagung, 5 Juni 2026
