
MENARA MADINAH— Di tengah gemuruh suara ribuan jiwa yang berkumpul di Stadion Gajayana, Gus Iqdam hadir sebagai pengingat pentingnya kedamaian dan kasih sayang di dunia sepak bola. Malam itu, Selasa (2/6/2026), bukan sekadar pengajian biasa. Di balik dengungan sorak dan tepuk tangan, suara hati terdalam untuk menolak kekerasan dan membina persaudaraan bergema dengan nyaring.
Kota Malang masih menyimpan luka yang belum sembuh, akibat Tragedi Kanjuruhan yang merenggut banyak nyawa dan menggores luka dalam pada setiap insan pecinta sepak bola. Di hadapan kerumunan yang penuh haru dan harapan itu, Gus Iqdam mengingatkan bahwa sejatinya, suporter bukanlah jiwa yang membakar amarah, melainkan pelita yang memberi cahaya dan ketenangan di tengah riuhnya pertandingan.
Pesan yang ia sampaikan bukan sekadar kata-kata, melainkan nadi moral kehidupan. Ia menukil kalimat sakral dari kitab Tanbihul Ghafilin: “Jika tidak bisa memberi manfaat, jangan sampai menjadi bahaya bagi orang lain,” tegas Gus Iqdam.
Kalimat itu menggema kuat, seolah mengajak setiap orang untuk merenung: Apakah cinta kepada tim harus diukur dengan kerusuhan dan air mata, ataukah dengan doa dan kedamaian?
Gus Iqdam mengajak para suporter untuk tidak hanya mendukung dengan suara lantang, tapi juga dengan hati yang penuh kasih—berdzikir, bershalawat, dan mendoakan keselamatan bersama.
Ia mengingatkan bahwa membawa barang berbahaya seperti minuman keras, kembang api, atau benda tajam ke stadion bukanlah bentuk kecintaan, melainkan ancaman nyawa sesama.
“Suporter sejati adalah mereka yang mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman, bukan rasa takut dan luka,” ucapnya penuh getar.
“Mari kita saling berbagi, bukan saling melukai. Mari kita jadikan stadion sebagai rumah persaudaraan, bukan medan pertempuran,” pinta Gus Iqdam.
Momen itu juga diwarnai pesan hangat tentang keindahan Malang yang sejati, bukan hanya pada udaranya yang sejuk, tetapi pada jiwa orang-orangnya. “Malang bukan hanya dikenal karena udara yang adem, tapi juga sikap dan tutur kata yang adem,” tuturnya lirih.
Suasana stadion Gajayana Malang,seketika berubah dari sorak sorai menjadi hening khusyuk, saat doa bersama untuk para korban tragedi terdengar mengalun. Air mata dan harapan melebur dalam satu doa, sebuah janji untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu dan menyambut masa depan penuh damai.
Gus Iqdam tidak hanya memberi pesan, tetapi mengulurkan tangan pada setiap suporter, mengajak mereka bangkit bersama membangun budaya sportivitas yang penuh cinta dan hormat.
Pengajian akbar ini menjadi titik balik, panggilan jiwa agar semua sadar: Sepak bola adalah sarana persatuan, bukan perpecahan.
Ketika malam itu berakhir, bukan hanya suara-suara yang menjauh dari stadion. Namun juga harapan baru yang terpatri kuat di sanubari para suporter dan masyarakat Malang—harapan akan sebuah masa depan di mana setiap gol adalah sukacita, bukan ratapan.*Imam Kusnin Ahmad*
