Ketika Api ’98 Semakin Redup : Catatan Kritis Pelaku Sejarah

 

Oleh : Firman Syah Ali

​Rasanya baru kemarin saya berdiri di tengah lautan massa, mengepalkan tangan yang gemetar—mungkin diantaranya karena lapar. Di hadapan moncong senapan yang siap dikokang, suara saya pecah melalui megaphone tua dan karat. Saya masih ingat bagaimana rasanya menjadi buronan di negeri sendiri, berpindah-pindah tempat tidur di tengah teror penculikan, hingga akhirnya merebahkan diri di atas trotoar yang dingin, bersama teman-teman seperjuangan, yang sekarang sebagian sudah jadi pejabat. Saat itu, satu-satunya bahan bakar kami hanyalah Darah Juang yang dinyanyikan bersama di bawah bayang-bayang operasi militer yang angkuh.

Nilai yang kami perjuangkan kala itu adalah api yang tak kunjung padam—api abadi di dalam dada, semangat yang membakar demi kebenaran dan keadilan. Kami membiarkan tubuh ditempa terik dan basah oleh hujan, bukan untuk mencari sensasi atau sekadar eksistensi. Itu adalah panggilan jiwa, sebuah desakan nurani yang memaksa kami untuk tidak berdiam diri menyaksikan penindasan dan kezaliman.

​Kami bergerak karena panggilan sejarah, dipersatukan oleh nasib yang serupa dan idealisme yang seirama. Bagi kami, ancaman dan teror justru menjadi bahan bakar; semakin ditekan, nyala semangat kami kian membara, kian keras kami melawan. Benarlah kata pujangga, bahwa kegilaan dan kemudaan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Setiap kali kami berkumpul dalam sunyi maupun riuhnya diskusi, kami selalu menemukan alasan yang sama, yaitu membuka jalan bagi lahirnya demokrasi yang sejati bagi generasi setelah kami.

​Namun kini apa yang kami temui? Api ’98 itu semakin redup. Masyarakat sudah permisif terhadap praktik korupsi, kolusi, nepotisme dan mafia. Korupsi terpusat ala Orde Baru kini berubah menjadi desentralisasi korupsi ala zaman ‘orderan’ baru. Dulu presiden mundur karena hilangnya satu dua nyawa, sekarang berapapun nyawa yang hilang, semua tetap baik-baik saja. Dulu presiden mundur karena nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai titik nadir yang melumpuhkan ekonomi, sekarang walaupun nilai tukar terpuruk lebih dalam, semua adem-adem saja. Dulu presiden mundur karena tuduhan militeristik, sekarang sepertinya tidak masalah. Dulu presiden mundur karena nepotisme yang kasat mata, ternyata sekarang justru dipertontonkan secara vulgar sebagai warisan politik. Dulu presiden mundur karena krisis kepercayaan yang absolut, ternyata sekarang rakyat seolah terbius oleh gimik dan narasi tanpa substansi.

Lantas, apa yang sebenarnya hendak kita wariskan kepada generasi penerus? Apakah kita sedang mencetak angkatan maling, rampok, dan culas? Apakah kita sedang membesarkan generasi korup, nepotis, serta mafia yang menjadi jongos bagi oligarki? Jika kita terus membiarkan pragmatisme merusak karakter bangsa, apakah jati diri yang hilang ini memang masa depan yang ingin kita ciptakan?

Dulu, korupsi hanyalah penyakit menjijikkan yang bersarang di ruang-ruang dingin kantor para pejabat. Namun hari ini, virus itu telah bermutasi dan menjalar ke nadi rakyat jelata. Yang lebih getir, korupsi kini telah merasuki dunia kampus; di mana para mahasiswa—calon intelektual dan aktivis penggerak—justru mulai fasih mempraktikkan manipulasi dan mengidolakan senior-senior yang korup sebagai ‘panutan’ sukses. Bahkan aktivis zaman now kerjanya hanya mengapresiasi kemunafikan. Jika di tangan para calon pemimpin masa depan saja integritas sudah dianggap barang rongsokan, masa depan suram seperti apa yang sedang kita jemput ini?.

Wahai generasi penerus, jangan biarkan api ’98 padam menjadi abu sia-sia. Warisi api itu, nyalakan kembali dalam dada kalian, karena masa depan bangsa ini adalah tanggung jawab yang kami titipkan di pundak kalian. Jadikanlah setiap tetes darah, keringat, dan air mata kami sebagai bahan bakar untuk mendobrak tirani yang baru. Teruskanlah sejarah ini dengan kepala tegak dan nurani yang merdeka; teruskanlah sehormat dan sekuat mungkin, agar harga diri bangsa ini tetap terjaga selamanya.

Selamat Ulang Tahun ke-28 Reformasi. Panjang Umur Perjuangan. Panjang Umur Pergerakan. Panjang Umur Reformasi.

*) Penulis adalah salah satu pelaku sejarah garis depan Gerakan Reformasi ’98