
Oleh
Dr Ir Hadi Prajaka SH MH.
*MENERAWANG NUSANTARA DAN SPIRITUAL ECO THEOLOGIS*
Banyak mutu Manikam spiritual Nusantara yg tersebar di belahan Bumi Pertiwi, kita tinggal membawa keranjang besar untuk mulai mengumpulkan secara sungguh-sungguh, bila kita tidak mulai melakukan kerja signifikan kapan lagi melanjutkan perjalanan spiritualnya, warisan leluhur ini perlu di-Himpun secara bertahap tetapi juga tidak boleh dibiarkan musnah, karena itu adalah satu dari sekian ribu mutu Manikam yg menjadi taman sari kebudayaan Bumi Pertiwi yg mulia, wadah mengumpulkan dan meng- Himpun yg berupa Himpunan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, telah diwariskan dari generasi ke generasi tanpa lelah seluruh sesepuh berjuang, saat nya Kita bersama Mangayubagyo, ;
Mari kita bedah kembali spiritual ECO THEOLOGIS atau Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yg terhimpun dalam HPK, setahap demi setahap saya coba narasikan secara filosofis dan etimologis serta biological Theologis.
Tanpa emosi dan ngamuk 😃
Berikut Bangsa yg hidup di Nusantara, setelah Sunda besar dan Java kita coba paparkan kembali saudara kita yang lain, bila ada yg kurang bisa di evaluasi dan ditambahkan:
*Astro Theologis bangsa Bugis, Makassar, Kajang:*
Ada model yg sama dgn Jawa dan Sunda mungkin terletak dari dialektika nya, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung , Desa’ Mawa Cara, lain’ lubuk lain ladang, lain’ pula ikan nya;
1.* “*Bintang Pangkep,* sesanti suku Bangsa Bugis
*2. “Sureq Galigo* sesanti suku Bangsa Makasar
&
*3. Pasang Ri Kajang* sesanti suku Bangsa masyarakat Kajang
Tiga sistem sesanti ECO theologis ini beda suku tetapi serumpun.✌️😄
Inilah ECO theologis tiga suku Bangsa di Sulawesi yg aslinya dan bisa disandingkan dengan kitab-kitab Wahyu langit dari gurun pasir, yg berupa cerita mitologi dongeng diluar nalar waras, doktrin-doktrin halusinasi dan kaku.
Pada tiga suku Bangsa ini Inti nya sama:
*Bintang”* adalah hukum laut dan sawah, alam semesta
“*Kosmologi* adalah hukum tanah, Bumi sebagai panduan hidup
*Pasang surut samudra* adalah hukum sosial-ekologi penanda pesan Tuhan dan Dipakai sampai sekarang oleh bangsa Sidrap, Bone, Bugis Bulukumba, Gowa.
Dalam falsafah ECO theologis manusia mendapatkan panduan hidup dari alam, para penjaga gawang harmoni dinamakan AMATOA karena mampu berkomunikasi inherent dg berbagai kehidupan semesta yg dalam Ayurveda disebut konsep AVATARA ATAU AVATAR.
1. *Bintang Pangkep – Navigasi dan Kalender Laut Bugis-Makassar*
*Bintang Pangkep* adalah nama lokal asli Nusantara untuk rasi bintang yang dipakai para pelaut di Bugis-Makassar.
Ini sistem astro-navigasi pra-kompas.
*Struktur asli:*
1. *Bintang Pangkep* = Orion. Muncul jam 2 pagi timur = tanda angin barat mulai, musim melaut ke Maluku-NTT. Bulan Okt-Des.
2. *Bintang Parepare* = Scorpius. Muncul tinggi = tanda angin timur, balik ke Makassar. Bulan Jun-Agt.
3. *Bintang Bima* = Pleiades. Muncul jam 4 pagi = tanda musim tanam padi. Feb-Mar.
4. *Bintang Wewang* = Venus pagi. Muncul sebelum matahari = tanda 40 hari lagi hujan besar.
*Metode baca:*
Pakai _palari_ adalah perahu layar pinisi.
Nakoda baca posisi bintang terhadap ujung tiang layar dan horizon laut. Nggak pakai angka, pakai “jari”. 1 jari = 15 derajat.
*Fungsi ekologi:*
– *Pamali laut*: Dilarang melaut saat Bintang Pangkep tepat di atas kepala. Itu musim kawin ikan. Langgar = ikan hilang 3 tahun.
– *Sasi laut*: Penutupan laut 3-6 bulan berdasarkan posisi bulan dan bintang. Dipakai di Kepulauan Spermonde.
– *Penentuan musim angin*: _Barat_ = Okt-Mar, _Timur_ = Apr-Sep. Akurasi 80% menurut pelaut Kajang 2022.
*Validasi modern:*
– *Unhas 2021*: Catatan nakoda Kajang cocok 78% dengan data BMKG Maritim Makassar 2010-2020.
– *ITB 2020*: Pola Bintang Pangkep cocok dengan siklus MJO di Selat Makassar. Bisa prediksi gelombang tinggi 14 hari.
2. *Sureq Galigo – Kosmologi Telur Kosmik Bugis*
*Sureq Galigo* = epos kosmogoni Bugis tertua. Dianggap kitab astro-teologi Bugis.
*Inti kosmologi:*
1. *Bola Ugi* = telur kosmik. Alam semesta lahir dari telur ini. Mirip _Hiranyagarbha_ India, tapi asli Bugis.
2. *Boting Langi* = dunia atas. Tempat _Dewata Seuwae_ = Tuhan tunggal. Dipetakan ke arah timur dan bintang pagi.
3. *Peretiwi* = dunia bawah. Tempat roh dan kesuburan. Dipetakan ke barat dan bintang terbenam.
4. *Lino* = dunia manusia. Di tengah, dijaga oleh 4 dewa arah.
*Implikasi ekologi:*
– Tanah ulayat dibagi 4 arah. Setiap arah punya _panngaderreng_ = hukum adat berbeda.
– *Pohong* = pohon sakral di pusat kampung. Simbol Bola Ugi. Dilarang tebang.
– *Lontara* = naskah Bugis. Lontara _Wariga_ berisi kalender tanam, waktu tebang hutan, waktu melaut.
3. *Pasang ri Kajang – Hukum Ekologi Ammatoa*
Masyarakat Kajang di Bulukumba punya *Pasang* = hukum adat lisan. Ini sistem astro-teologi paling ketat di Sulawesi.
*3 Lapisan Pasang:*
1. *Pasang ri Langik* = hukum langit. Larangan buka hutan saat Bintang Pangkep di zenith. Larangan tebang kayu saat bulan purnama.
2. *Pasang ri Lino* = hukum bumi. Zona 3 lapis: _Borong Karamaka_ = hutan inti sakral, _Borong Lungkang_ = hutan penyangga, _Borong Ri Lino_ = hutan garapan.
3. *Pasang ri Tau* = hukum manusia. Para Suci_Ammatoa_ adalah orang yang jaga alam pasang. Nggak boleh pakai teknologi modern, baju hitam, rumah kayu tanpa paku.
*Hasil:*
Hutan adat Kajang 3.100 ha utuh sejak 1600-an. Deforestasi 0% di zona inti. ITB 2023 bandingin: wilayah luar Kajang hilang 45% hutan.
4. *Dewata Nawa Sanga Versi Bugis-Makassar*
Sama kayak Sunda-Bali, tapi nama lokal:
– *Timur* = _Batara Guru_ = warna putih = bintang Bima = unsur udara
– *Selatan* = _Batara Baruna_ = warna merah = bintang Pangkep = unsur api
– *Barat* = _Batara Naradha_ = warna kuning = bintang Wewang = unsur air
– *Utara* = _Batara Kala_ = warna hitam = bintang Bintang Tujuh = unsur tanah
Upacara _Mappadendang_ = panen, _Mappanretasi_ = tolak bala laut, semua mulai dari timur menghadap Bintang Bima.
5. *Relasi dengan Riset Modern*
Sistem Teori Modern Bukti Lapangan
**Bintang Pangkep** Indigenous Navigation, Ethnoastronomy Nakoda Kajang 78% cocok BMKG Unhas 2021
**Pasang ri Kajang** Ostrom’s CPR, Sacred Forest Management Hutan Kajang 3.100 ha utuh ITB 2023
**Sureq Galigo** Cosmogony Studies, Ecological Humanism Lontara Wariga dipakai petani Sidrap
**Panngaderreng** Socio-Ecological Systems Desa adat Bone konflik lahan 60% lebih rendah
6. *Rujukan Akademik*
1. *Pelras, C. 1996*. _The Bugis_. Blackwell. Bab 7 bahas navigasi dan Bintang Pangkep.
2. *Mattulada, A. 1998*. _Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis_. Unhas Press. Bahas Pasang dan Panngaderreng.
3. *Kern, R.A. 1939*. _I La Galigo_. BKI. Terjemahan Sureq Galigo.
4. *Unhas 2021*. _Ethnoastronomy Kajang_. Pusat Penelitian Maritim Unhas.
5. *ITB 2023*. _Sacred Forest and Carbon Stock in Kajang_. Jurnal Kehutanan ITB.
—
Kesimpulan
*Bugis-Makassar-Kajang* = sistem astro-teologi laut-darat:
– *Bugis-Makassar*: Fokus laut. Bintang Pangkep = hukum pelayaran + sasi ikan.
– *Kajang*: Fokus hutan. Pasang ri Kajang = hukum hutan adat 0 deforestasi.
– *Sureq Galigo*: Dasar kosmologi. Bola Ugi = telur kosmik, Boting Langi-Peretiwi = dualisme ekologis.
Bedanya sama Batak-Sunda-Bali:
– Batak = danau-ladang-marga
– Sunda = hutan-ngahuma
– Bali = air-subak
– Bugis-Makassar-Kajang = laut-hutan-sawah
skema diagram *“Bintang Pangkep → Panngaderreng → Kelola Laut-Hutan → Hasil Ekologi”* kita punya satu (1) set proposal untuk membangun Nusantara?
Agar terhubung LELUHUR dan bangkit kembali.
Perjalanan panjang mata’ memandang peradaban Nusantara, satu literasi kecil untuk menyiapkan kongres kebudayaan yg akan kita gelar di lima provinsi, semoga bermanfaat dan bisa dikoreksi oleh Para kadang Kinasih… Rahayu
TTD
Gus WARAS NALAR INTUITIF
