
Penulis: Diar Mandala | menaramadinah.com
SERANG – KH Yusuf Al Mubarok hadir sebagai representasi ulama Nusantara yang mengakar kuat pada tradisi keilmuan dan kearifan lokal. Keulamaan beliau tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan mengalir dari dua darah yang menjadi tiang penyangga dakwah Islam di Tatar Barat.
Dari jalur ayah, darah Syeikh Datuk Kafi Cirebon mengalir dalam diri beliau, seorang tokoh yang mewariskan metode dakwah kultural di pesisir utara Jawa Barat. Dari jalur ibu, darah Syeikh Dalem Dayeuhan Kadupinang Pandeglang Banten menjadi sumber lain yang menguatkan karakter keulamaannya. Perpaduan dua darah keulamaan ini menjadikan KH Yusuf sebagai pewaris yang utuh, yang mampu menjembatani khazanah Cirebon dan Banten dalam satu napas dakwah yang membumi dan inklusif.
Sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, kemursyidannya bersanad jelas dan tersambung kepada Syeikh Shohib Kadupinang. Jalur tersebut secara berurutan bersambung hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Sanad yang muttasil ini menjadi penanda otoritas keilmuan sekaligus amanah moral untuk menjaga kemurnian ajaran. Dalam kedudukan tersebut, seorang mursyid TQN dipahami sebagai pewaris dan penerus perjuangan leluhurnya dalam memelihara agama, akhlak, dan persatuan bangsa.
Pendekatan kearifan lokal menjadi ciri khas dalam dakwah KH Yusuf Al Mubarok. Beliau memahami bahwa dakwah yang efektif di Nusantara harus menyapa budaya tanpa mengorbankan substansi syariat. Warisan Syeikh Datuk Kafi dalam menyebarkan Islam dengan pendekatan kultural di Cirebon, serta keteguhan Syeikh Dalem Dayeuhan dalam menjaga identitas keislaman masyarakat Banten, disintesiskan dalam metode pembinaan beliau. Hasilnya adalah dakwah yang tidak tercerabut dari akar budaya, namun tetap tegak pada fondasi Al-Quran dan Hadist.
Manifestasi nyata dari sintesis tersebut adalah Pondok Pesantren TQN Al Mubarok di Pasir Angin, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Pesantren ini dikembangkan sebagai pusat pembinaan spiritual sekaligus ruang khidmah sosial. Prinsip yang dijaga secara konsisten adalah penyelenggaraan pendidikan gratis bagi santri yatim dan dhuafa. Kebijakan ini menegaskan bahwa ilmu agama adalah amanah yang tidak boleh dikomersialisasi, sekaligus menjadi wujud nyata ajaran tarekat yang menuntut pembersihan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Corak keulamaan beliau semakin tampak dalam sikap kebangsaannya yang tegas dan militan. Sebagai pejuang Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah [PWI LS], KH Yusuf Al Mubarok menempatkan diri pada garis terdepan dalam mengawal pemerintahan yang sah Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Bagi beliau, mengawal pemerintahan bukan sekadar sikap politik, melainkan amanah kebangsaan untuk menjaga stabilitas, memperkuat ekonomi rakyat, dan memastikan ruang dakwah tetap hidup dalam suasana aman dan damai. Peran aktif beliau dalam PWI LS menjadi manifestasi nyata dari tradisi ulama Nusantara yang selalu menyatukan kepentingan umat dengan kepentingan bangsa.
Dalam bidang keilmuan dan aqidah, beliau bersikap tegas menolak ajaran-ajaran sesat dan khurafat yang tidak berdasar pada Al-Quran dan Hadist. Pembinaan di pesantren dan majelis dzikir diarahkan pada pemurnian tauhid, penguatan sunnah, dan pembersihan praktik keagamaan dari unsur-unsur yang menyimpang. Bagi beliau, kekuatan umat terletak pada kemurnian tauhid dan kesatuan barisan, bukan pada perpecahan yang lahir dari fanatisme buta dan pemahaman yang menyimpang.
Dengan demikian, KH Yusuf Al Mubarok berdiri sebagai ulama Nusantara yang mengangkat derajat keulamaan melalui pendekatan kearifan lokal, yang berakar pada dua darah keulamaan besar Cirebon dan Banten. Kehadirannya menegaskan bahwa peran ulama tetap relevan sebagai penjaga moral bangsa, pengawal pemerintahan sah, pembela kemurnian aqidah, dan penggerak persatuan dalam bingkai Islam rahmatan lil alamin.
Melalui sajian profil ini, menaramadinah.com kembali menegaskan peran sebagai media informasi yang bertanggung jawab, akurat, dan terukur. Sebagai pemersatu rakyat dan bangsa Indonesia, menaramadinah.com berkomitmen menyajikan narasi yang memperkuat *kohesi sosial*, mengangkat tokoh-tokoh yang memberi teladan, serta menjaga ruang publik dari informasi yang memecah belah.
