
Prof. Mahmud Mustain, Modified AI, 2026
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
*Pendahuluan*
Geologi laut merupakan cabang ilmu kebumian yang mempelajari struktur, material, proses, dan dinamika dasar laut beserta interaksinya dengan sistem bumi secara menyeluruh. Dalam perspektif filsafat, khususnya ontologi, geologi laut tidak hanya dipahami sebagai kumpulan data empiris mengenai batuan, sedimen, lempeng tektonik, atau gunung api bawah laut, tetapi juga sebagai kajian tentang hakikat keberadaan (being) dunia bawah laut itu sendiri.
Filsafat ontologi geologi laut berusaha menjawab pertanyaan mendasar:
1. Apa hakikat laut dan dasar samudra?
2. Bagaimana keberadaan geologi laut dipahami dalam relasinya dengan manusia, alam, dan kosmos?
3. Apakah struktur bawah laut hanya benda material, ataukah memiliki makna yang lebih luas dalam keteraturan semesta?
Ontologi geologi laut menjadi penting karena lebih dari 70% permukaan bumi tertutup lautan, sementara sebagian besar dasar laut masih belum sepenuhnya dipahami manusia. Laut menyimpan sumber daya, energi, biodiversitas, sekaligus potensi bencana. Oleh sebab itu, pemahaman ontologis diperlukan agar eksplorasi geologi laut tidak semata berorientasi eksploitasi, tetapi juga keseimbangan dan kemaslahatan.
*Hakikat Keberadaan Geologi Laut*
Dalam ontologi klasik, hakikat keberadaan dibagi menjadi substansi, proses, dan relasi. Geologi laut mencakup ketiganya.
1. Geologi Laut sebagai Substansi
Dasar laut tersusun atas batuan, mineral, sedimen, magma, dan struktur tektonik yang nyata secara fisik. Dalam konteks ini, geologi laut dipahami sebagai realitas material yang dapat diamati, diukur, dan dianalisis.
Contoh substansi geologi laut meliputi:
* Punggung tengah samudra
* Palung laut
* Gunung api bawah laut
* Sedimen oseanik
* Kerak samudra
* Zona subduksi
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa laut bukan ruang kosong, tetapi dunia geologis yang aktif dan kompleks.
2. Geologi Laut sebagai Proses Dinamis
Ontologi modern tidak hanya memandang keberadaan sebagai benda statis, tetapi juga sebagai proses yang terus berubah. Dasar laut mengalami:
* Pergerakan lempeng tektonik
* Pembentukan kerak baru
* Aktivitas vulkanik
* Sedimentasi
* Erosi bawah laut
Dengan demikian, eksistensi geologi laut bersifat dinamis dan evolutif. Samudra adalah sistem hidup geologis yang terus bergerak sepanjang sejarah bumi.
3. Geologi Laut sebagai Relasi Kosmik
Geologi laut tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan atmosfer, biosfer, hidrosfer, dan kehidupan manusia. Arus laut memengaruhi iklim global, sedimen memengaruhi ekosistem, sedangkan aktivitas tektonik memengaruhi bencana dan pembentukan daratan.
Ontologi relasional memandang bahwa keberadaan memperoleh makna melalui keterhubungan. Maka geologi laut merupakan bagian integral dari jaringan kosmik bumi.
Ontologi Kedalaman Laut
Kedalaman laut memiliki dimensi filosofis yang unik. Laut dalam sering dipahami sebagai simbol ketidakterbatasan, misteri, dan wilayah yang belum sepenuhnya tersingkap oleh rasio manusia.
Dalam sejarah pemikiran manusia, laut sering dimaknai sebagai:
* Simbol asal kehidupan
* Representasi ketidakterhinggaan
* Ruang kontemplasi eksistensial
* Lambang kekuatan alam
Secara ontologis, laut dalam mengajarkan keterbatasan manusia. Semakin dalam manusia menyelami samudra, semakin tampak luasnya realitas yang belum diketahui.
*Geologi Laut dan Ontologi Perubahan*
Salah satu prinsip penting filsafat adalah bahwa alam selalu mengalami perubahan. Dalam geologi laut, perubahan tampak nyata pada teori tektonik lempeng.
Walaupun persamaan linear di atas hanya ilustrasi matematis sederhana tentang perubahan, geologi laut menunjukkan perubahan alam dalam skala jauh lebih kompleks melalui pergeseran kerak samudra dan dinamika mantel bumi.
Fenomena seperti:
* Gempa bawah laut
* Tsunami
* Pembentukan pulau baru
Aktivitas hidrotermal
menunjukkan bahwa realitas geologi laut bersifat terus-menerus berubah. Ontologi geologi laut karena itu dekat dengan filsafat proses (process philosophy), yang memandang bahwa keberadaan sejati terletak pada perubahan itu sendiri.
Ontologi Sumber Daya Laut
Dasar laut menyimpan:
* Minyak dan gas bumi
* Mineral logam langka
* Nodul mangan
* Energi panas bumi bawah laut
Pertanyaan ontologis muncul:
* Apakah sumber daya laut semata objek eksploitasi manusia?
Dalam perspektif ontologi ekologis, alam tidak boleh dipahami hanya sebagai instrumen ekonomi. Laut memiliki nilai intrinsik, yakni nilai keberadaan itu sendiri, terlepas dari manfaat ekonominya.
Karena itu, geologi laut perlu diletakkan dalam paradigma keberlanjutan dan etika ekologis agar eksplorasi tidak merusak keseimbangan bumi.
Perspektif Ontologi Islam terhadap Geologi Laut
Dalam perspektif Islam, laut merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Laut tidak hanya objek material, tetapi juga ayat kauniyah yang mengandung hikmah dan pelajaran bagi manusia.
Al-Qur’an berulang kali menyebut laut sebagai ruang refleksi tentang penciptaan, keseimbangan, dan rahmat Tuhan. Dengan demikian, ontologi geologi laut dalam perspektif Islam mencakup:
* Dimensi material
Laut sebagai realitas fisik yang dapat dikaji secara ilmiah.
* Dimensi keteraturan
Struktur dan dinamika laut menunjukkan hukum-hukum alam yang teratur.
* Dimensi spiritual
Laut menjadi media kontemplasi terhadap kebesaran Sang Pencipta.
Dalam kerangka ini, penelitian geologi laut bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari upaya memahami keteraturan ciptaan.
*Ontologi Geologi Laut untuk Perdamaian dan Kemaslahatan*
Geologi laut dapat menjadi sarana perdamaian global apabila dimanfaatkan untuk:
* Mitigasi bencana tsunami
* Kerja sama riset internasional
* Pengelolaan sumber daya berkelanjutan
* Ketahanan pangan dan energi
* Perlindungan ekosistem laut
Sebaliknya, perebutan sumber daya laut dapat memicu konflik geopolitik. Oleh karena itu, filsafat ontologi geologi laut perlu diarahkan pada paradigma kemanusiaan universal.
Laut seharusnya dipandang sebagai ruang bersama umat manusia, bukan sekadar wilayah perebutan kekuasaan.
*Penutup*
Filsafat ontologi geologi laut merupakan upaya memahami hakikat keberadaan dunia bawah laut secara mendalam, baik sebagai substansi material, proses dinamis, maupun bagian dari keteraturan kosmik.
Geologi laut menunjukkan bahwa bumi adalah sistem hidup yang terus bergerak dan saling terhubung. Laut bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi, melainkan realitas besar yang mengandung nilai ilmiah, ekologis, filosofis, dan spiritual.
Melalui ontologi geologi laut, manusia diajak untuk membangun kesadaran bahwa eksplorasi ilmu harus berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan, keberlanjutan, dan tanggung jawab moral demi kemaslahatan umat manusia dan kelestarian bumi yang damai. Semoga bisa demikian aamiin.
Wa Allahu a’lam bish -showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
26 Dzul-Qo’dah 1447
atau
14 Mei 2026
m.mustain
