
Pandeglang – Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah [PWI LS] Pandeglang secara konsisten menguatkan konsolidasi internal sekaligus memperluas program edukasi masyarakat di wilayah Pandeglang dan Banten. Pendekatan yang digunakan bertumpu pada literasi sejarah, ilmu nasab, dan pemahaman keagamaan yang merujuk pada sumber primer, metodologi keilmuan, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketua PWI LS Pandeglang Tb. Erif Rifjan dan Sekretaris Ust. Toyib menjelaskan, strategi organisasi menekankan dialog, tabayyun, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. “Perubahan pemahaman publik tidak bersifat instan. Karena itu kami memilih jalur edukasi berkelanjutan yang terukur,” ujarnya.
Rutinitas Kajian dan Sinergi dengan Pesantren.
Setiap malam Selasa, PWI LS Pandeglang menggelar siaran langsung dari sekretariat untuk membahas tema-tema keilmuan dan kebangsaan. Sementara setiap malam Jumat, kegiatan dipusatkan di Ponpes Al-Mubarok, Kp. Pasir Angin, Kec. Cinangka, Kab. Serang. Dalam forum tersebut, jamaah KH Yusuf Al-Mubarok bersama anggota PWI LS Banten mengikuti rangkaian dzikir, tausiyah, dan diskusi publik.
Diskusi yang dikembangkan mencakup empat bidang utama: demokrasi, sosial budaya, agama, dan sejarah kebangsaan dalam kerangka 4 Pilar Kebangsaan. Metode yang diterapkan menggabungkan pendekatan spiritual dengan kajian sosial, sehingga forum menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan masyarakat.
Kharisma Kepemimpinan KH Yusuf Al-Mubarok.
KH Yusuf Al-Mubarok dikenal sebagai ulama dan mursyid TQN yang melanjutkan sanad keilmuan leluhur dari jalur Bani Mandala dan Syech Shohib Kadupinang Pandeglang. Pola dakwahnya menekankan adab, konsistensi pembinaan, dan keterbukaan terhadap dialog.
Menurut pengamatan di lapangan, daya tarik kepemimpinannya terletak pada kemampuan menyatukan jamaah dari berbagai latar belakang dalam satu forum kajian. Hal ini terlihat dari partisipasi jamaah TQN yang hadir secara rutin setiap malam Jumat, serta dari interaksi aktif dalam sesi diskusi yang berlangsung setelah dzikir. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam menjaga kontinuitas pembinaan umat di tengah dinamika sosial masyarakat Banten.
Ekspansi Kegiatan dan Klarifikasi Historis.
Selain kegiatan di pesantren, PWI LS Pandeglang melakukan sosialisasi ke tingkat kecamatan. Kegiatan ini kerap dilaksanakan bersama Gus Azis dan disiarkan melalui kanal YouTube untuk memperluas jangkauan edukasi publik.
Terkait publikasi sebelumnya tertanggal 18 Mei 2026 berjudul “KH Yusuf Al-Mubarok: Pewaris Sanad TQN Mandala yang Menjaga Umat di Banten”, PWI LS Pandeglang menyampaikan ralat silsilah sanad. Jalur ayah merujuk ke Sumedang dan ke Syech Datuk Kahfi Cirebon, sedangkan jalur nenek dari ibu merujuk ke Keluarga Besar Mandala.
Artikel ini disusun sebagai rilis kegiatan.
Ditulis oleh Diar Mandala, Jurnalis dan Pembina PWI LS Pandeglang.
