
Oleh: Sayyid Diar Mandal
Ruang publik kini ramai diskursus nasab, tafsir sejarah, dan khurafat. Perbincangan meluas dari media sosial hingga kampung.
Perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” QS. Al-Hujurat: 13. Ayat ini menegaskan keragaman harus dirawat dengan ilmu, bukan emosi.
Kita patut bersyukur dianugerahi negara dengan kekayaan alam berlimpah, beragam suku, agama, adat, serta ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke. Ini amanah konstitusional yang wajib dijaga.
Para pendiri bangsa mewariskan rumah bersama: Indonesia. Atapnya Pancasila, dindingnya Bhinneka Tunggal Ika, pondasinya UUD 1945. Merawatnya butuh adab, klarifikasi, dan prasangka baik. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah seseorang disebut pendusta bila menceritakan semua yang ia dengar” HR. Muslim No. 5.
Peran tokoh agama, panutan, dan pemerintah sangat penting. Pertama, tokoh agama diharapkan menjadikan mimbar sebagai penyejuk. Ilmu dihadirkan untuk mendamaikan. Kedua, kami apresiasi pemerintah yang menjaga stabilitas di tengah tantangan global. Kehadiran negara dinanti untuk memberi panduan jernih dan adil agar tercipta ketenteraman.
Berdebat boleh, tapi jangan lupa bayar listrik dan SPP anak. Negara ini ibarat bahtera. Presiden dan pemimpin adalah nahkoda yang kita percaya. Tugas kita bukan berebut kemudi saat badai, tapi membantu mendayung: jaga keluarga, kerja jujur, dan doakan nahkoda. Jika bahtera oleng karena gaduh, kita semua yang basah.
PR kita masih banyak: jaga keluarga dari disinformasi, didik generasi berilmu dan berakhlak, dukung kebijakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Pada akhirnya kita pulang ke rumah yang sama: Indonesia. Rumah ini teduh jika penghuninya saling menjaga dan mengutamakan kepentingan bangsa.
Dari Banten, untuk saudaraku yang rukun dan berkeadaban.
