
Oleh: Sayyid Diar Mandala
BANTEN – Adalah sebuah kekeliruan besar jika kita masih memandang Masyarakat Baduy dengan kacamata “terbelakang”. Sebab di tanah Kanekes, Lebak, justru tersimpan sebuah keberadaban yang utuh. Sebuah peradaban yang tidak diukur dari gemerlap teknologi, melainkan dari keluhuran budi, keteraturan hidup, dan kejujuran yang dijaga turun-temurun.
Saat pertama kali menyusuri jalan setapak di sana, hal pertama yang menyapa adalah kedamaian. Tidak saya temukan ternak berkaki empat yang dibiarkan lepas. Yang ada hanyalah kampung yang bersih, leuit yang tertata rapi, dan wajah-wajah teduh karena patuh pada titah adat. Inilah wajah keberadaban: ketika manusia mampu hidup selaras dengan alam dan aturan leluhurnya.
Kunci dari keberadaban itu adalah pikukuh. Ia bukan sekadar larangan, melainkan sistem nilai yang menjadi benteng jati diri. Pikukuh mengajarkan untuk tidak serakah pada hutan, untuk mencukupkan diri, dan untuk menjadikan kejujuran sebagai kompas kehidupan. Budaya asli Nusantara inilah yang wajib kita pertahankan, bukan malah silau dan menukarnya dengan budaya luar yang belum tentu sesuai dengan akar kita.
Puncak pelajaran kejujuran itu saya dapat dari sebuah dialog sederhana. Di tengah perjalanan, bersama seorang tetua yang akrab disapa “Ayah”, saya berguyon menunjuk kelapa hijau di atas pohon, “Ayah, eta kelapa hejo pasti amis nya?” – “Ayah, itu kelapa hijau pasti manis ya?”
Jawaban Ayah adalah tamparan lembut bagi kita semua: “Teu wasa, kelapa di luhur, abdi mah di handap.” – “Saya tidak tahu, kelapa di atas, sedang saya di bawah.”
Inilah keberadaban yang sesungguhnya. Sebuah komunitas yang mengajarkan warganya untuk tidak berspekulasi, tidak berbohong, dan berani berkata tidak tahu atas apa yang belum dialaminya. Kejujuran yang otentik. Di zaman di mana hoaks dan ujaran kebencian merajalela karena semua orang merasa berhak menghakimi, falsafah “kelapa di atas” ini adalah obat yang mujarab.
Maka, sudah saatnya kita berhenti memandang budaya sendiri dengan rendah diri. Masyarakat Baduy telah membuktikan bahwa mereka memiliki keberadaban tinggi: beradab pada alam, beradab pada sesama, dan beradab pada kebenaran. Tugas kita hari ini bukan mengubah mereka, melainkan menjaga dan meneladani warisan nilai luhur ini.
Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang meniru-niru, melainkan bangsa yang berani menjaga jati dirinya. Dan dari sunyi Kanekes, kita belajar bahwa puncak dari sebuah keberadaban adalah ketika manusia mampu hidup jujur dan damai.
