
Surabaya, 05 Mei 2026 – Ketua Umum Organisasi Kemasyarakatan Kebangsaan dan Kebhinekaan Lintas Agama, Suku dan Budaya Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), menyatakan penolakan keras nan tegas terhadap rencana kehadiran Rizieq Shihab dalam acara bertajuk Tabligh Akbar & Istighotsah Untuk Palestina yang akan digelar di Lapangan Pegantenan, Pasuruan.
Menurut Gus Wal, kepedulian terhadap Palestina tidak boleh dijadikan tameng untuk membawa agenda yang berpotensi memecah belah bangsa. Ia menilai, kehadiran Rizieq Shihab figur yang selama ini kerap menimbulkan kontroversi justru berisiko menggeser substansi solidaritas menjadi panggung provokasi.
“Jangan bungkus agenda lama dengan kemasan baru. Palestina itu isu kemanusiaan, bukan alat untuk membangkitkan polarisasi di dalam negeri,” tegas Gus Wal.
PNIB juga menyampaikan harapannya kepada seluruh panitia penyelenggara kegiatan di Lapangan Pegantenan agar lebih selektif dalam menentukan tokoh yang diundang dalam kegiatan keagamaan berskala besar. Gus Wal menilai masih banyak ulama dan sayyid di pasuruan maupun di Jawa Timur yang memiliki rekam jejak sejuk, inklusif, dan mampu menjaga persatuan umat tanpa membawa konflik.
“Kalau tujuannya benar-benar untuk doa dan solidaritas peduli Palestina, banyak ulama yang lebih meneduhkan, bukan yang justru memantik kegaduhan. Kehadiran Rizieq Shihab yang merupakan residivis kriminal dan pernah beberapa kali dipenjara dikhawatirkan memberikan teladan yang buruk bagi santri dan masyarakat,” lanjutnya.
Lebih jauh, PNIB yang didukung tokoh agama dan masyarakat pasuruan mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polres Pasuruan dan Polda Jawa Timur, untuk tidak memberikan izin terhadap kegiatan yang menghadirkan rizieq shihab tokoh dengan rekam jejak hukum dan sosial yang dinilai problematik.
“Negara tidak boleh kalah oleh narasi simbolik. Bersorban bukan berarti kebal kritik. Jika rekam jejaknya berulang kali memicu konflik, maka negara wajib bersikap tegas,” ujar Gus Wal.
PNIB juga mengingatkan bahwa organisasi Front Pembela Islam (FPI) telah resmi dibubarkan oleh pemerintah, sehingga segala bentuk upaya menghadirkan kembali panggung bagi tokoh-tokohnya dinilai sebagai langkah mundur dalam menjaga stabilitas nasional. PNIB menegaskan bahwa jangan pernah kembali dibiarkan bangkitnya FPI maupun HTI yang selama ini dinilai sebagai sumber intoleransi, radikalisme, dan ancaman terhadap persatuan bangsa.
“FPI sudah dibubarkan. Jangan diberi ruang, jangan diberi panggung, apalagi dibungkus dengan isu suci seperti Palestina. Ini berbahaya,” katanya.
Menutup pernyataannya, Gus Wal menegaskan bahwa persatuan Indonesia harus menjadi prioritas utama di atas segala kepentingan kelompok.
“Kita memang peduli terhadap Palestina, tapi jangan sampai membawa api ke rumah sendiri. Solidaritas dapat diwujudkan melalui qunut nazilah ataupun penyaluran donasi melalui lembaga yang kredibel dan terpercaya, agar tidak terulang penyalahgunaan donasi kemanusiaan sebagaimana kasus-kasus yang pernah mencuat di masa lalu,” pungkas Gus Wal.
