
BLITAR-Pada Subuh ke 19 Ramadhan penuh berkah Kajian Subuh Ramadhan hari Ahad, 8 Maret 2026, di Masjid Al-Musthofa Bakung Udanawu Blitar, Dr. H. Ahmad Fauzi menyampaikan pembahasan mendalam tentang pentingnya khusyuk dan kesungguhan dalam ibadah.
Mengacu pada ajaran kitab Risalah al-Mu’awanah wal Mudzaharah wal Muazarah karya Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, beliau menjelaskan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas lahiriah, melainkan komunikasi batiniah yang menjadi jembatan menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta.
Dalam bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, katanya, kesempatan untuk memperdalam kekhusyukan ibadah menjadi lebih luas. Karena hati manusia lebih mudah menerima cahaya petunjuk dan kedekatan dengan Allah SWT.
*Pengertian Khusyuk dan Kesungguhan dalam Perspektif Agama*
Khusyuk adalah keadaan hati yang fokus, tenang, dan penuh perhatian pada setiap amalan ibadah, terbebas dari gangguan pikiran dan hawa nafsu. Sementara kesungguhan adalah ketekunan dan komitmen dalam menjalankan perintah agama tanpa mengenal rasa malas atau kurangnya semangat.
Ulama besar seperti Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa khusyuk adalah inti dari setiap ibadah. “Tanpa khusyuk, ibadah hanya menjadi gerakan tubuh yang tidak membawa manfaat spiritual,” ujarnya.
“Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad sendiri menekankan bahwa khusyuk tidak bisa dicapai secara instan, melainkan melalui proses perbaikan hati dan latihan yang terus-menerus,” jelas Ustadz Dr H Ahmad Fauzi yang kini juga menjabat wakil Rektor Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri.
*Ajaran Al-Qur’an dan Hadist Tentang Kekhusyukan Ibadah*
Menurut Gus Fauzi, panggilan karibnya, Al-Qur’an secara jelas mengingatkan kita akan pentingnya khusyuk dalam ibadah. Firman Allah SWT dalam Surat al-An’am ayat 162: “Sesungguhnya hanya kepada Allah-lah saya sembah dengan khusyuk hati yang penuh ketundukan,” sitir Gus Fauzi.
Dalam Surat al-Mu’minun ayat 2-3 juga disebutkan: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” tambah menantu bungsu KH Abdul Ghofur Mustaqiem ini asal Pesantren PETA Tukungagung ini.
Hadist Nabi Muhammad SAW, lanjut Gus Fauzi, juga banyak menggariskan tuntunan tentang khusyuk.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam ibadah itu ada cahaya, maka hendaklah kalian berusaha mendapatkan cahaya tersebut dengan cara khusyuk” (HR. Thabrani). Beliau juga menambahkan: “Barangsiapa yang menghadap (shalat) dengan hati yang khusyuk, maka telah hapus dosa-dosanya yang lalu” (HR. Muslim),” katanya.
*Cara Menjalankan Ibadah Wajib dan Sunnah dengan Khusyuk*
Menurut Gus Fauzi, Ibadah Wajib – Shalat sebagai ibadah inti harus dilakukan dengan membersihkan diri secara fisik (wudhu/ghusl) dan spiritual, fokus pada setiap gerakan dan bacaan.
” Juga puasa Ramadhan tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga lidah dan hati dari keburukan. Zakat diberikan dengan ikhlas kepada yang berhak, sementara haji dilaksanakan dengan penuh kesadaran akan makna setiap rangkaian ibadah,” jelasnya.
Ia katakan,Ibadah Sunnah – Shalat tahajud, puasa Senin-Kamis, membaca Al-Qur’an dengan tartil, dan dzikir rutin menjadi sarana memperkuat hubungan dengan Allah.
” Ulama seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa ibadah sunnah memperbanyak pahala dan membantu menjaga kekhusyukan dalam ibadah wajib,” jelasnya.
Khusyuk dan kesungguhan dalam ibadah bukan hanya tuntutan agama, tetapi juga jalan untuk mendapatkan kedamaian batin dan berkah dunia akhirat.
Setiap langkah yang kita tempuh dalam memperbaiki kualitas ibadah adalah investasi untuk kehidupan kekal.
“Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperdalam kekhusyukan, dengan selalu mengingat bahwa setiap ibadah yang dilakukan dengan hati tulus akan diterima oleh Allah SWT,” harapnya mengakhiri kajian.
“Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menjalankan setiap amalan dengan khusyuk dan kesungguhan, sehingga mendapatkan cahaya hidayah dan keberkahan yang melimpah. Aamin ya Rabbal Alamiin,” pungkasnya. *Imam Kusnin Ahmad*
