
Oleh Cakndjojo
Untuk urusan yang satu ini, yakni ziarah kubur bagi kita adalah sesuatu yang telah mentradisi sedemikian rupa. Sehingga untuk melakukannya disediakan kesempatan, dengan porsi waktu tersendiri. Kebiasaan kelaziman yang telah melekat dalam aktivitas masyarakat, bahwa hal tersebut sering dikerjakan pada Jum’at Legi, pula pada momen menjelang datangnya bulan Ramadhan atau pada Hari Raya Idul Fitri
Hingga dengan demikian ,seiring dengan gelegak para peziarah makam pesarehan suasana jadi berubah. Dalam arti terjadi kerumunan keramaian, seliweran mereka yang membersihkan pusara juga mereka yang menjual bunga. Tabur bunga, sebagian ulama membolehkan bahwa hal itu tergolong sunnah,lantas ditabur dengan bunga tertentu
Selanjutnya disertai doa2 agar ahli kubur “diparingi” keringanan siksa kubur. Ternyata keramaian dengan penjual bunga di seputar pemakaman,
timbul pasar dadakan yang ada interaksi transaksi ekonomi
Ada pula ritual ziarah kubur yang dilakukan secara terorganisir, sedemikian rapi yang diatur dengan presisi
yang teratur. Yaitu Ziara Wali Limo, maupun Ziarah Wali Songo. Kumpulan pengajian maupun tahlil di kampung2, hampir pasti pernah berziarah kubur seperti ini. Biasanya para jama’ah dari kalangan Nahdliyin kultural, menjalani ritual seperti ini tidak cuma sekali dua kali, namun dilakukannya berkali kali
Berdasarkan HR Hakim, Rasulullah bersabda _Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati,menitikkan air mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk pada saat ziarah_
Sehubungan dengan itulah , kiranya tiada keraguan lagi bahwa ziarah kubur yang dikemas sebagai renungan suci, diselenggarakan sebagai upacara _ceremonial_ kenegaraan. Upacara khidmat malam hari menjelang 17 Agustus esok pagi, bukan cuma ritual spiritual kenegaraan. Tetapi merupakan identitas peradaban berbangsa dan bernegara, oleh karena doa2 yang dipanjatkan juga mohon keselamatan dan kejayaan bangsa dan negara kita tercinta
Tentu saja renungan suci yang dilaksanakan pada keheningan malam, getar jiwa menjadi bergejola. Hingga rasa hormat kepada pahlawan bangsa, benar2 penuh semangat dengan nuansa yang berlipat
Seiring dengan itulah cocok jikalau Presiden Soekarno pernah berpidato, yang fenomenal berjudul *JANGAN SEKALI KALI MENINGGALKAN SEJARAH*
Pidato tersebut ketika memperingati HUT Kemerdekakan R I ke 21 tahun 1966, terkenal pula akronim judul pidato itu sebagai Jas Merah
Sehubungan dengan itu, bagi siapa saja yang pernah duduk di bangku sekolah. Bapak Ibu Guru adalah sosok yang berjasa bagi kita semua
Beliau adalah merupakan PAHLAWAN sesungguhnya, yang tiada banding dan tiada berpaling
Kalau Hari Guru pada November mendatang, ziarah kubur, renungan suci dan tabur bunga hendaknya kita siapkan sedemikian seksama
Sungguh Bapak Ibu Guru, _panjenengan_ adalah Pahlawan di hatiku !
*ttd Cakndjojo*
Sepunten lo….
Sabtu 7 Februari 2026
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Cakndjojo, lahir 73 th yg lalu di Kampung Kauman Batu. Alamat Jl Raya Oro Oro Ombo No 17 Batu. Pensiunan PNS/ASN PEMKOT Batu
Anak 4 orang, cucu _sementara_ masih 7
*Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara HP3N KOTA BATU SATUPENA JAWA TIMUR*
