“MEMBEDAH SILSILAH: Mengungkap Hubungan Keluarga Para Wali dan Sultan di Nusantara”

Diar Mandala
Peneliti Sejarah dan Penulis

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Banten, menaramadinah.com
Sejarah Nusantara memiliki banyak misteri dan rahasia yang masih belum terungkap. Salah satu aspek yang paling menarik adalah silsilah para wali dan sultan yang pernah memimpin di berbagai wilayah. Dalam tulisan ini, kita akan membahas tentang hubungan keluarga antara para wali dan sultan di Demak, Cirebon, Banten, Yogyakarta, Solo, dan Madura.

Raden Patah, Sultan Demak, adalah salah satu tokoh yang paling penting dalam sejarah Nusantara. Beliau adalah menantu Sunan Ampel, salah satu dari Walisongo, dan memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijogo. Raden Patah memiliki putri yang bernama Ratu Kirana Purnamasidi, yang menikah dengan Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dan putri lainnya yang bernama Ratu Nyawa/Nyowo, yang menikah dengan Pangeran Pasarean Muhammad Arifin.

Hubungan keluarga ini tidak berhenti di situ. Raden Patah juga memiliki putra yang bernama Sultan Trenggono, yang menikah dengan Ratu Pembayun, putri Sunan Kalijogo. Sultan Trenggono memiliki putri yang bernama Ratu Mas Cempoko, yang menikah dengan Joko Tingkir, Sultan Hadiwijoyo Pajang.

Keluarga Demak ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan keluarga-keluarga lainnya di Nusantara. Sultan Agung Mataram, misalnya, adalah cucu Pangeran Benowo, yang merupakan putra Joko Tingkir. Sementara itu, Sultan Banten ke-4, Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Qodir, adalah sepupu Sultan Agung Mataram. Dan jangan lupa, Madura juga masih keluarga dari Raden Pamengkas, yang merupakan salah satu keturunan Raden Patah.

Silsilah ini menunjukkan bahwa para wali dan sultan di Nusantara memiliki hubungan keluarga yang sangat erat. Mereka tidak hanya berjuang untuk kepentingan agama dan negara, tetapi juga untuk memperkuat hubungan keluarga dan silaturahim.

Justru, sebagian besar para Walisongo adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. Mereka memiliki garis keturunan yang jelas dan terpercaya, yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari keluarga Nabi.

Baru-baru ini, keturunan Para Walisongo berkumpul di Demak pada tanggal 30 Januari sampai 1 Februari 2026 dalam acara silaturahmi dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) I Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) yang diadakan di Pondok Pesantren Al-Mubarok Al-Arbain, Wonosalam, Demak. Acara ini bertujuan untuk memperkuat hubungan keluarga dan mempererat tali silaturahmi antara keturunan Walisongo.

Namun, perlu diingat bahwa silsilah keturunan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keimanan atau kesalehan seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan ajaran agama dan berbuat baik kepada orang lain.

Sayangnya, ada beberapa kelompok yang salah dalam memahami silsilah ini, bahkan mengklaim diri sebagai cucu Nabi, seolah-olah itu adalah jaminan surga. Padahal, Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa silsilah keturunan penting untuk menjaga silaturahim dan memperkuat hubungan keluarga, bukan untuk menunjukkan kesombongan atau rasisme.

Kita harus bijak dalam memahami silsilah dan tidak menggunakan silsilah sebagai alat untuk menunjukkan kesombongan atau rasisme. Kita harus memperkuat silaturahim dan mempererat hubungan keluarga, serta menghindari kesombongan dan rasisme. Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera.

Penulis mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dalam penulisan nama dan susunan silsilah.

Referensi:
#Perkuat Barisan, PWI-LS Gelar Rakornas I di Demak: Misi Besar Pelurusan Sejarah dan Bela Negara.
#sdiarm 🇮🇩🇮🇩