Hari Ini 5 Agustus 2025 Puncak Hari Jadi ke 704 Kabupaten Blitar. Berbagai acara seni budaya ditampilkan Ini Acaranya!.

BLITAR – Kabupaten Blitar hari ini memasuki usia ke-701 pada 5 Agustus tahun 2025. Dengan semarak peringatan yang dipenuhi nuansa adat dan budaya. Rangkaian acara telah dimulai sejak awal Agustus dan mencapai puncaknya pada Selasa 5 Agustus 2025.

Puncak perayaan ditandai dengan prosesi sakral Pisowanan Ageng yang berlangsung di Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro, serta kirab budaya dari pusat kota menuju pendopo sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan jati diri daerah.

Selain prosesi resmi, peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar juga diramaikan dengan pertunjukan budaya, seperti pergelaran wayang kulit dalam resepsi malam di Aloon-aloon Kanigoro. Berikut rangkaian acara puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar 2025.

Puncak Peringatan Hari Jadi Blitar 2025
Memasuki usia ke-701, Kabupaten Blitar menggelar peringatan hari jadinya dengan nuansa adat dan budaya yang kental. Berikut puncak peringatan Hari Jadi Blitar 2025, dirangkum dari Surat Edaran Peringatan Hari Jadi Blitar Ke- 701 Tahun 2025.

1. Malam Tirakatan
Sebagai bagian dari tradisi spiritual tahunan, malam tirakatan dilaksanakan serentak di seluruh kecamatan pada kemarin Senin 4 Agustus 2025. Untuk tingkat kabupaten, kegiatan ini dipusatkan di Pendopo Ronggo Hadinegoro mulai pukul 19.00 WIB.

Acara ini mencakup pembacaan sambutan Bupati Blitar dan Serat Kekancingan Hari Jadi Blitar, disertai rangkaian kegiatan yang disesuaikan dengan kearifan lokal tiap kecamatan.

2. Bedhol Pusaka
Prosesi sakral Bedhol Pusaka digelar pada Senin 4 Agustus 2025, membawa pusaka-pusaka bersejarah dari Gedhong Pusaka menuju Pendopo Ronggo Hadi Negoro. Tradisi ini menjadi simbol pengawalan nilai-nilai leluhur menuju perayaan inti hari jadi Kabupaten Blitar.

Terkait acara ini
Pemerintah Kabupaten Blitar kembali menghidupkan tradisi Bedhol Pusaka. Tradisi sakral ini digelar di Pendapa Ronggo Hadi Negoro (RHN), Senin (4/8/2025), sebagai bagian dari rangkaian seremoni budaya yang memadukan penghormatan terhadap sejarah dan komitmen terhadap masa depan.

Bedhol Pusaka merupakan prosesi mengarak benda-benda pusaka dari Gedhong Pusaka menuju Pendopo RHN. Di antara yang diarak, terdapat kitab sejarah Hari Jadi Blitar dan panji lambang daerah, dua simbol identitas yang menjadi penanda perjalanan panjang Kabupaten Blitar dari masa ke masa.

Prosesi diawali dengan pengambilan pusaka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Jumali, lalu diserahkan kepada Sekretaris Daerah, dan diterima secara simbolis oleh Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah. Selanjutnya, pusaka-pusaka tersebut diarak menuju Pendopo Sasana Adi Praja, tempat berlangsungnya prosesi lanjutan.

Bupati Blitar, Rijanto, menyampaikan bahwa prosesi ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bentuk penghormatan terhadap akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang telah membentuk Blitar hari ini. Ia menjelaskan bahwa setelah prosesi Bedhol Pusaka, akan digelar genduri pada malam harinya, yang dilanjutkan dengan pembacaan Surat Ambyo oleh komunitas Ambyo se-Kabupaten Blitar.

“Surat Ambyo akan dibacakan sebagai bentuk doa bersama dan refleksi spiritual. Ini adalah momen kontemplatif, ketika masyarakat diajak menyelami nilai-nilai kearifan lokal,” jelas Rijanto.

Ia menambahkan, peringatan Hari Jadi Blitar ke-701 bukan hanya soal seremonial. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi titik konsolidasi semangat membangun Blitar, memperkuat sinergi antar elemen pemerintahan dan masyarakat. Menurut Rijanto, tradisi budaya seperti Bedhol Pusaka justru menjadi perekat antara warisan masa lalu dan cita-cita pembangunan ke depan.

“Kami ingin perayaan ini tidak sekadar menggugurkan kewajiban tahunan. Ini momentum strategis untuk menggugah semangat kolektif membangun daerah, sekaligus mendorong geliat ekonomi rakyat,” ungkapnya.

Tradisi Bedhol Pusaka menjadi bukti bahwa pembangunan tidak melulu soal infrastruktur. Ia juga tentang menjaga jati diri dan membangun karakter daerah. Dalam konteks itulah, Pemerintah Kabupaten Blitar menempatkan nilai-nilai budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan pembangunan.

Dengan iring-iringan pusaka yang melintasi kota, Blitar seolah mengirim pesan: bahwa masa depan tidak boleh dibangun dengan melupakan sejarah. Dan dari halaman Pendopo RHN, semangat membangun Blitar disemai kembali, dengan harapan lebih besar di usia ke-701.

3. Kirab Pusaka
Pada pagi hari, Selasa 5 Agustus 2025, kirab pusaka dilangsungkan dari Pendopo Ronggo Hadi Negoro menuju Aloon-aloon Kota Blitar. Prosesi ini melibatkan pengiring pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya.

4. Kirab Kitab Sejarah dan Lambang Daerah
Masih di hari yang sama, Kirab Kitab Sejarah dan Lambang Daerah dilangsungkan dari Aloon-aloon Kota Blitar menuju Pendopo Agung Ronggo Hadi Negoro. Kirab ini merepresentasikan perjalanan sejarah Blitar yang dituangkan dalam simbol dan dokumen penting daerah.

5. Pisowanan Ageng/Upacara Hari Jadi
Puncak utama hari jadi Blitar ke-701 berlangsung pada hari ini Selasa 5 Agustus 2025 pukul 07.00 WIB.

Upacara Pisowanan Ageng diawali dari Aloon-aloon Kota Blitar menuju Pendopo Ronggo Hadi Negoro. Rangkaian upacara ini menjadi penanda resmi peringatan hari jadi dan dihadiri berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.

6. Resepsi Hari Jadi dan Pergelaran Wayang Kulit.

Sebagai penutup rangkaian acara, resepsi hari jadi Kabupaten Blitar digelar pada malam harinya, Selasa 5 Agustus 2025 mulai pukul 19.00 WIB di Aloon-aloon Kanigoro. Masyarakat akan disuguhkan pergelaran wayang kulit sebagai hiburan budaya, sekaligus ungkapan rasa syukur atas usia ke-701 Kabupaten Blitar.

Logo Hari Jadi Kabupaten Blitar 2025
Memasuki peringatan hari jadi ke-701, Kabupaten Blitar memiliki logo resmi yang sarat makna dan filosofi mendalam. Logo ini bukan sekadar identitas visual, melainkan representasi semangat masyarakat, kekayaan budaya lokal, serta arah pembangunan Blitar yang kian maju dan berdaya saing.

Melalui pemilihan bentuk, warna, hingga simbol-simbol yang digunakan, logo hari jadi Blitar ke-701 menjadi cerminan perjalanan panjang daerah yang tangguh, dinamis, dan terus berkembang. Simbol-simbol ini diangkat dari nilai-nilai sejarah, karakter alam, serta harapan masyarakat Blitar di masa kini dan mendatang.

Logo hari jadi Blitar menggunakan warna merah dan biru yang menyimpan filosofi kuat tentang karakter masyarakat dan visi pembangunan daerah. Merah melambangkan semangat, keberanian, dan kekuatan rakyat Blitar dalam menjaga budaya dan kemandirian daerah.

Biru mencerminkan kedamaian, stabilitas, serta kejernihan visi pembangunan ke depan. Perpaduan warna merah dan biru menjadi simbol harmoni antara dinamika masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Angka 701 dalam logo tidak hanya menandai usia Kabupaten Blitar, tetapi juga dirancang secara artistik untuk merepresentasikan nilai budaya dan sejarah. Angka 7 dihias ornamen berbentuk elemen alam, melambangkan kekuatan, keluhuran, dan kelestarian sumber daya alam Blitar.

Angka 0 berbentuk lingkaran sempurna dengan isian simbol budaya, menggambarkan harmoni, dan keutuhan wilayah. Angka 1 tampil dalam bentuk spiral yang menunjukkan pertumbuhan, transformasi, dan perkembangan yang berkelanjutan.

Logo hari jadi Blitar ke-701 juga sarat simbol yang menggambarkan kekayaan alam dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Laut melambangkan keterbukaan, potensi maritim, dan peluang besar dari sektor kelautan.

Gunung menjadi simbol kekuatan alam dan keteguhan karakter warga Blitar. Ikan Koi mewakili ketekunan, keberuntungan, dan keindahan-cocok dengan semangat kerja keras masyarakat Blitar. Perkebunan Teh mencerminkan potensi pertanian, khususnya ekonomi hijau yang terus dikembangkan.

Bukan hanya logo, Kabupaten Blitar juga memiliki slogan perayaan hari jadi tahun ini. Ialah “Blitar Digdaya, Jaya Linuwih”. Slogan ini membawa pesan semangat dan harapan besar masyarakat Blitar.

Blitar Digdaya bermakna Blitar berdaya, memiliki kekuatan dan potensi besar dalam membangun daerah. Jaya Linuwih berarti kejayaan luar biasa, mencerminkan impian agar Blitar tidak hanya maju, tetapi juga unggul dan istimewa di berbagai bidang.*Imam Kusnin Ahmad*