*بسم الله الرحمن الرحيم* *Nuansa Menjelang 1 Syawal di Masjidil Haram*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Menjelang datangnya 1 Syawal, suasana di Masjidil Haram menghadirkan nuansa yang sangat khas dan menyentuh hati. Hari-hari terakhir bulan Ramadhan menjadi momentum spiritual yang begitu kuat bagi jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di sekitar Ka’bah.
Di saat inilah perasaan haru, syukur, dan harapan bertemu dalam satu ruang ibadah yang agung. Ramadhan yang hampir berakhir menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya (Modifief AI, 2026).

*Gelombang Jamaah yang Semakin Padat*

Menjelang 1 Syawal, arus jamaah di Masjidil Haram biasanya semakin membludak. Para jamaah ingin memaksimalkan hari-hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah—shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan i’tikaf.
Di setiap sudut masjid, terlihat jamaah yang larut dalam doa. Ada yang menengadahkan tangan dengan mata berkaca-kaca, memohon agar Ramadhan diterima sebagai amal terbaik. Ada pula yang terus membaca Al-Qur’an dengan khusyuk di sela-sela thawaf.
Putaran thawaf di sekitar Ka’bah hampir tidak pernah berhenti. Siang maupun malam, aliran manusia bergerak perlahan seperti lautan yang berputar dengan ritme spiritual yang sama: mengagungkan Allah.

*Haru Perpisahan dengan Ramadhan*

Menjelang datangnya Syawal, banyak jamaah merasakan kesedihan yang halus. Ramadhan yang penuh rahmat akan segera berlalu.
Perasaan ini sering terlihat terutama pada malam-malam terakhir. Banyak jamaah memperpanjang doa mereka, seakan tidak ingin melepas bulan yang penuh berkah ini.
Sebagian ulama mengatakan bahwa tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah munculnya rasa sedih ketika ia akan pergi. Karena itu, tangisan kecil yang terlihat di antara jamaah bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda cinta kepada ibadah.

*Harapan Menyambut Hari Kemenangan*

Namun di balik kesedihan itu, tersimpan pula kebahagiaan. 1 Syawal adalah hari kemenangan bagi kaum Muslimin setelah sebulan penuh berpuasa.
Di Masjidil Haram, nuansa ini terasa sangat kuat. Jamaah dari berbagai bangsa saling tersenyum, saling mendoakan, dan berbagi kebahagiaan. Perbedaan bahasa dan budaya seakan melebur dalam satu identitas besar: umat Islam.
Tak sedikit yang mulai mempersiapkan diri untuk menyambut shalat Idul Fitri yang biasanya dipenuhi lautan manusia di pelataran Masjidil Haram.
Gambaran Persatuan Umat
Menjelang 1 Syawal di Masjidil Haram juga memberikan gambaran nyata tentang persatuan umat Islam.
Di satu tempat, manusia dari berbagai ras, warna kulit, bahasa, dan bangsa berdiri sejajar menghadap kiblat yang sama. Tidak ada sekat sosial, tidak ada perbedaan status. Semua menjadi hamba Allah yang berharap rahmat-Nya.
Suasana ini memberikan pesan yang sangat kuat bagi dunia: bahwa spiritualitas dapat menjadi energi persatuan global.

*Penutup*

Nuansa menjelang 1 Syawal di Masjidil Haram bukan hanya tentang keramaian jamaah atau kemegahan tempat suci. Lebih dari itu, ia adalah pertemuan antara haru perpisahan dengan Ramadhan dan kegembiraan menyambut hari kemenangan.
Di hadapan Ka’bah, manusia menyadari bahwa tujuan akhir dari ibadah bukan sekadar ritual, melainkan perubahan hati menuju kedamaian, kerendahan hati, dan kasih sayang kepada sesama.
Semoga setiap langkah thawaf, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap tetes air mata di Masjidil Haram menjadi saksi bahwa Ramadhan telah meninggalkan jejak kebaikan dalam jiwa umat manusia.
Tidak kalah pentingnya kita sebagai umat Muslim, akan menutup ibadah ramadhan ini dengan zakat fithrah sebagai penentu kebaikan. Semoga bisa demikian aamiin.
الحمد لله رب العالمين
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Mekkah,
28 Romadlon 1447
atau
17 Maret 2026
m.mustain