
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Apabila kita renungkan tentang alam semesta ini maka mestinya yang muncul dulu adalah betapa maha kuasa dzat penciptanya. Kita memahami atau lebih luas mengilmiahi ciptaan yang kasat mata saja belum bisa keseluruhan, artinya masih banyak misteri yang belum tahu. Apalagi yang tidak kasat mata baik yang terlalu kecil maupun yang terlalu besar, yang terlalu dekat maupun terlalu jauh. Ciptaan Allah SWT yang Syahadah (bukan ghoib) saja hanya sedikit yang bisa terindra oleh panca indra manusia.
Betapa besarnya semua alam ciptaan Allah SWT ini. Alam yang syahadah saja, manusia belum bisa menentukan jumlah macamnya. Jumlahnya alam binatang darat yang masing-masing memiliki alam sendiri-sendiri, contoh alam kerbau dengan alam kambing jelas berbeda. Belum lagi alamnya masing-masing benda mati, jangan dikira alamnya udara dengan alam batu itu sama, itu berbeda.
Sungguh alam syahadah saja itu jumlahnya tak berhingga belum alam ghoib, yang jangan dikira alam ghoib itu hanya satu macam alam. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa kontek robbil ‘alamin atau rohmatan lil’alamin, itu lafal ‘alamin berbentuk dan bermakna jamak dari lafal alam.
Perihal ini didasari dari QS. Al-Anbiya: 107 yang berbunyi,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.
Tafsir: Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam, termasuk manusia, jin, dan alam semesta. Beliau diutus untuk membawa petunjuk dan kebaikan bagi umat manusia, serta menjadi contoh yang baik bagi mereka (Midified AI, 2026).
Hal ini dikuatkan juga oleh HR Muslim: 327, dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Saya diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam”.
Juga HR Imam Bukhari dan Muslim,
إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ
Artinya: “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)”.
Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa beliau diutus sebagai rahmat yang dihadiahkan oleh Allah kepada umat manusia, sebagai tanda kasih sayang dan petunjuk bagi mereka.
Kembali ke kontek Islam rahmatan lil’alamin, maka jelas bahwa Nabi Muhammad SAW dengan risalah Islam peruntukannya adalah kemaslahatan semua alam. Dengan demikian ketika kita memikirkan kesejahteraan manusia hidup di dunia ini, maka sudah barang tentu alatnya adalah Islam. Bahkan juga untuk alam selain alam manusia yang jumlahnya tak berhingga, setidaknya indra manusia belum bisa mengetahui jumlahnya.
Alhasil sangat layak Islam digunakan untuk membangun perdamaian global. Sudah barang tentu juga harus menyertakan keyakinan agama lain bahkan saudara-saudara lain yang meskipun masih belum beragama. Semoga demikian aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
01 Sya’ban 1447
atau
20 Januari 2026
m.mustain
