
KEDIRI – Ma’had Aly Lirboyo,Kediri, menyelenggarakan kuliah umum yang penuh makna dengan menghadirkan Prof. Mohammad Mahfud MD sebagai pembicara utama. Bertajuk “Sejarah Intelektual UUD 1945: Pergulatan Gagasan Para Founding Fathers hingga Amandemen Konstitusi”.
Acara yang di Gelar Senib 8 Juni 2026 ini bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan momentum penting untuk menginspirasi umat tentang pentingnya pemahaman sejarah intelektual dalam mewujudkan bangsa yang harmonis dan berkeadaban.
Berlangsung sejak pagi di hadapan para mahasantri, dosen, dewan mudir, dan tokoh-tokoh penting seperti Agus Yasin Mustofa Kamal dan Agus Abdul Mu’id Shohib, suasana dipenuhi semangat kebangsaan dan religiusitas.
Pelbagai kegiatan pembuka, mulai dari pembacaan doa pembuka, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta Mars Ma’had Aly Lirboyo, menambah keberkahan dan khidmat suasana.
Mudir Ma’had Aly Lirboyo, Agus Dahlan Ridlwan, memaparkan perkembangan lembaga yang pesat, terutama dalam pembinaan mahasantri Marhalah Ula dan Tsaniyah serta pengabdian dakwah yang masif di seluruh Nusantara.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam klasik dan modern beriringan dalam membangun karakter dan intelektualitas generasi penerus.
Prof. Mahfud MD dalam penjelasannya menyoroti sejarah panjang intelektualitas konstitusi Indonesia yang sejatinya bermula dari pergulatan intelektual para pendiri bangsa.
Ia menegaskan bahwa perjuangan fisik belum cukup tanpa adanya “jihad intelektual” yang lahir dari kesadaran moral dan pendidikan sebagaimana diwariskan dari politik etis era kolonial Belanda. Kesadaran itu membuka pintu lahirnya pemikiran akan negara, demokrasi, dan hubungan antara agama dan negara.
Salah satu poin penting dalam kuliah umum ini adalah bagaimana bangsa Indonesia lahir dari perbedaan dan kompromi—a prismatik negara yang mengajarkan kita untuk menerima keberagaman sebagai bagian alami kehidupan berbangsa.
Prof. Mahfud MD menegaskan bahwa Allah memerintahkan umat manusia untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, membangun solidaritas dan berlomba dalam kebaikan tanpa memaksakan keseragaman.
Lebih jauh, Prof. Mahfud menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah pendiri negara Islam dalam arti konvensional, melainkan membangun masyarakat kosmopolitan yang heterogen dan inklusif, mengajarkan harmoni dalam keberagaman.
Acara kuliah umum ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membuka refleksi mendalam bagi para santri dan hadirin tentang nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan yang saling menguatkan. Penyerahan cinderamata dan doa penutup oleh dewan mudir menandai akhir yang khidmat dan penuh harapan.
Kuliah umum ini memberikan pencerahan penting bahwa pemahaman sejarah intelektual bukan hanya urusan akademik, melainkan kunci bagi pembentukan karakter bangsa yang kuat, toleran, dan beradab. Dalam konteks tantangan global yang semakin kompleks, wawasan komprehensif tentang perjalanan konstitusi dan demokrasi Indonesia akan mempersiapkan generasi muda agar mampu menjaga persatuan dan membangun bangsa.
Ma’had Aly Lirboyo menunjukkan betapa lembaga pendidikan keagamaan dapat menjadi garda terdepan dalam memelihara tradisi intelektual sekaligus mendorong dialog kebangsaan dan kerukunan antarumat beragama. Ini adalah pesan optimis bahwa pendidikan Islam tradisional tidak terjebak pada dogma, melainkan terbuka terhadap wacana progresif yang memperkaya kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bagi umat bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga dan dirawat, bukan sebagai sumber konflik. Dialog dan pemahaman yang mendalam adalah jalan terbaik untuk mewujudkan masyarakat harmonis yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.
Semoga momentum ini menjadi inspirasi luas bagi lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemerintah untuk terus menguatkan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan demi Indonesia yang lebih damai dan sejahtera.*Imam Kusnin Ahmad*
