
Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Jawa Timur.
MAKKAH–Namanya Saifuddin, yang akrab disapa Baso Tang, tak pernah membayangkan perjalanan hajinya akan membawa kehormatan luar biasa.
Pria berusia 56 tahun asal Pulau Kambuno, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan ini tak kuasa menahan air mata saat namanya diumumkan akan diabadikan untuk pembangunan sebuah masjid di Arab Saudi.
“Saya selalu menangis kalau ingat itu,” ujar Baso Tang dituturkan kepada Media MUI dengan nada haru, saat berada di lobi hotel jamaah Indonesia di Jarwal, Makkah.
Perjalanan haji Baso Tang yang hadir sebagai jamaah reguler Kloter UPG 17 Tahun 2026 bersama keluarga mulai berubah menjadi kisah mengharukan setelah shalat Isya, ketika ia didatangi rombongan pejabat yang mewakili unsur kerajaan Saudi mencari jamaah tertua di hotel untuk diberi penghormatan.
Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIH) Kloter UPG 17, Faried Wajdi, yang juga alumni Kairo, diminta menjadi penerjemah dalam pertemuan tersebut. Saat Baso Tang diperkenalkan sebagai imam masjid tunanetra, rombongan merasa tersentuh dan memintanya melantunkan Alquran.
Dengan suara pelan tapi penuh penghayatan, Baso Tang mengumandangkan Surah Al-Ashr, menggetarkan hati yang mendengarkan. Atas dedikasinya selama puluhan tahun menjadi imam masjid walau kehilangan penglihatan total sejak 1997, pihak kerajaan Saudi menghormatinya dengan niat membangun masjid wakaf atas namanya.
“Uangnya dari pemerintah Arab Saudi, masjidnya atas nama beliau,” ujar Faried. Masjid tersebut kemungkinan besar akan dibangun di Madinah.
Penghargaan terbesar bagi Baso Tang bukan hadiah yang diterimanya, melainkan bahwa namanya akan menjadi abadi melalui rumah ibadah di Tanah Suci. Ia mengaku terharu dan tak menyangka mendapat kehormatan tersebut.
Sejak usia 16 tahun, Baso Tang dipercaya menjadi imam tetap Masjid Baburrahman di Pulau Kambuno.
Meskipun kehilangan penglihatan pada 1997, ia tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab tanpa pernah diselingi keluhan.
“Menjadi imam ini amanah dari orang tua,” ujar pria yang telah menghafal juz Amma dan berbagai surah melalui kaset murattal tua.
Walaupun tunanetra, Baso Tang mampu menghafal jalan menuju masjid tanpa tongkat penuntun, berbekal ingatan dan sentuhan pagar yang membentang menuju tempat ibadah. Ia berjalan sendiri setiap hari dan tetap semangat melayani jamaahnya.
Dalam kesehariannya, Baso Tang menghidupi keluarga lewat warung kecil yang menjual gas elpiji, bensin, beras, dan kebutuhan pokok lainnya.
Meski nafkah imam hanya Rp200 ribu per bulan, ia mampu menabung bertahun-tahun melalui usaha dagangnya dan ikut arisan hingga mengumpulkan dana untuk biaya hajinya.
“Orang-orang sekitar membantu menyebutkan nominal uang ketika bertransaksi. Saya percaya saja, alhamdulillah tidak pernah ditipu,” ungkap Baso Tang dengan senyuman tulus.
Di Tanah Suci, dua doa yang selalu dipanjatkannya adalah agar penglihatannya kembali dan agar dipertemukan dengan jodoh.
“Saya dulu hanya melihat gambarnya Ka’bah, sekarang bisa merasakan berada di depan Ka’bah sungguhan,” kata Baso Tang penuh rasa syukur.
Kini Baso Tang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah hidupnya yang sederhana namun penuh kesabaran dan pengabdian mengajarkan arti keikhlasan dan kekuatan iman.
Meski penglihatannya tak lagi berfungsi, Baso Tang justru menjadi sosok yang banyak dilihat dan dihormati oleh masyarakat luas, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi dan berbakti.*Wallahu A’lam Bisshawab*
