Kisah Pengkhianatan

Oleh : KRT. Faqih Wirahadiningrat aktivis Perlawanan Terhadap Kaum Ba’alawi.

“Pengkhianatan biasa terjadi pada orang yang tidak memiliki hati nurani.” – Toba Beta

TRANSISI KEAGAMAAN DI NUSANTARA
Kita sebagai sesama warga Nahdhiyyin, dilahirkan dari keluarga Nahdhiyyin, pernah berorganisasi di keluarga besar Nahdhiyyin, dan hidup di komunitas masyarakat berkultur Nahdhiyyin, tentunya FENOMENA HABAIB sungguh sangat memprihatinkan.

Bagaimana Kaum Habaib Imigran Yaman telah mencabik-cabik bangunan Keislaman yang pondasinya ditancapkan kokoh di Nusantara oleh para penyebar Islam yang bergelombang datang sejak abad ke-10 hingga 15. Dari Samudera Pasai hingga ke seluruh penjuru Nusantara. Bagaimana pula akhirnya mampu merubah Imperium Majapahit yang beragama SYIWA-BUDDHA beralih menjadi Islam dalam waktu relatif singkat. Bagaimana pula kisah 9 ulama yang terkenal dengan Walisongo mampu mengawal transisi dengan damai secara kekuasaan kepada Kesultanan DEMAK BINTORO. Dan transisi politik kekuasaan ini diiringi dengan kisah yang damai pula pada transisi kebudayaan dan kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Ada beberapa yang membuat Islam cepat diterima sebagai agama mayoritas, yaitu antara lain :
A. Transisi kekuasan yang damai dengan didukung melalui pendekatan pernikahan dan kekerabatan. Contohnya pernikahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) dengan Putri Champa, Ratu Darawati, bibi dari Sunan Ampel, atau Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah dengan Ratu Pakungwati putri dari Prabu Siliwangi III di Jawa Barat.

B. Penghapusan sistem kasta.
Sistem pembagian kelas dalam masyarakat atau KASTA di Nusantara pra-Islam, segera dirubah menjadi sistem egaliter yang penuh kesetaraan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa di era PRA-ISLAM, masyarakat dibagi menjadi 7 kasta :
1. Kasta Brahmana, untuk para agamawan.
2. Kasta Ksatria, untuk para raja dan bangsawan.
3. Kasta Waisya, para abdi negara dan pengusaha.
4. Kasta Sudra, para kaum pekerja.
5. Kasta Candala, keturunan Sudra yang berani menikahi kasta diatasnya.
6. Kasta Mlecchia, kaum Imigran atau nonpribumi. Tome Pires, pelaut Portugis mencatat bangsa Nusantara sebagai kaum pemberani dan arogan, siapa saja berani menatap matanya maka seketika akan dihajar terutama bagi kaum Imigran.
7. Kasta Tuccha, kaum kriminal. Siapa saja yang melakukan kejahatan maka setelah divonis seketika kastanya menjadi hina paling bawah.

Ketika Islam datang Kasta dihapus dan relatif hanya menyisakan 3 kelompok masyarakat saja, yaitu kaum agamawan, bangsawan dan masyarakat luas. Artinya siapapun yang mau belajar dengan rajin dan berprestasi maka bisa naik menjadi kaum agamawan maupun kaum bangsawan dengan pengabdian.

C. Dan dengan pendekatan ala kaum sufistik yang mampu memikat spiritualisme Jawa maupun suku-suku lainnya di Nusantara. Sehingga penyebaran Islam tidak kaku dan mampu menyatu dengan tradi dan budaya masyarakat lokal. Selain itu, penuh dengan kisah mitologi keajaiban atau ‘karomah para wali’ sebagai pertanda dari hamba yang dicintai Tuhan sebagaimana Nabi dengan kisah mukjizatnya (baca ATLAS WALISONGO, karya Kyai Mas Ngabehi Agus Sunyoto).

Dari sini dapat diambil 3 kesimpulan bagaimana Islam cepat berkembang : Dilakukan dengan cara damai dan kekeluargaan, membangun kesetaraan dengan menghapus sistem kelas, dan yang terakhir adalah akulturasi kebudayaan dan membangun keruhanian.

Dan entitas Islam di Nusantara dengan segala metodologinya ini menjadi role model yang telah diakui oleh dunia sebagai wajah Islam yang agung sebagaimana yang diperjuangkan oleh Nabi dengan konsep Rohmatan Lil ‘Alamin. Atau Islam sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam sebagaimana tercantum di dalam Al Quran sebagai konteks KENABIAN itu sendiri.

Namun apa yang terjadi kini? Kaum Habaib Imigran Yaman yang didatangkan oleh Penjajah Belanda ini justru telah menghancurkan bangunan yang agung tersebut. Setidaknya hal itu bisa dilihat pada poin berikut ini :
1. Bekerja untuk kepentingan Penjajah dengan menjadi mufti yang mengharamkan pemberontakan dan banyak menjadi kapitan di tiap kota yang justru lebih kejam dari Belanda.
2. Mendukung sistem politik kelas yang rasis dimana menempatkan pribumi sebagai warga paling bawah.
3. Membuat fatwa rasis dengan melarang pernikahan putri-putri mereka dengan diluar golongan mereka atas dasar klaim palsu mengaku sebagai keturunan Nabi SAW.
4. Banyak menyerang tradisi dan budaya lokal serta berupaya menunjukkan superioritas budaya dan tradisi Yamani.
Hal ini masih diperparah dengan kapitalisasi agama, klaim sesat kisah datuk leluhurnya dan negeri muasalnya yang kesemuanya melahirkan PERBUDAKAN SPIRITUAL. Ini belum termasuk melakukan kegiatan radikalisme dan terorisme yang mengancam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Diantaranya mendirikan organisasi yang mendukung gerakan terorisme Internasional maupun pengeboman Candi Borobudur di era sebelumnya. Dan tidak boleh dilupakan, yang mana mereka di Yaman sebagai pendiri dan pentolan Partai Komunis ternyata juga terlibat di dalam gerakan pemberontakan komunisme di Nusantara yang banyak membunuh para ulama dan kaum santri itu sendiri.

Sehingga Islam di Nusantara yang dulunya berwajah ramah menjadi ‘marah’, dulunya lunak dan damai seketika menjadi keras dan beringas.

NAHDHIYYIN YANG PENGKHIANAT
Membaca uraian diatas tentunya kita semua menjadi jelas, bahwa mengakhiri penipuan atas nama klaim sesat sebagai keturunan Nabi di Nusantara ini adalah wajib dilakukan oleh semua pihak. Karena dari sinilah legitimasi dan otoritas kesesatan mampu mengkooptasi umat Islam yang telah terdoktrin untuk memuliakan keturunan Nabi. Kaum Ba’alwi Habaib Imigran Yaman ini tidak saja mencoreng wajah Islam dan menistakan kesucian Nabi, dengan serangkaian kasus dan perilaku mereka yang jauh dari ketauladanan Nabi. Namun yang lebih fatal mereka telah mendindas, merendahkan dan memakan darah serta keringat umatnya Nabi yang seharusnya dijaga dan dibimbing oleh siapapun yang merasa sebagai pewaris Nabi. Baik itu pewaris dalam hal silsilah keturunan maupun sanad keilmuan atau lembaga keulamaan.

Perjuangan Walisongo yang kemudian di abad ke-20 bertransformasi menjadi Nahdhatul Ulama yang artinya kebangkitan ulama adalah jawaban dari pelestarian nilai Perjuangan Islam di Nusantara itu sendiri. Dan sejak awal juga menjadi penjaga kedamaian di dunia Islam dengan Komite Hijaznya. Dimana dipimpin oleh ulama Nusantara yang mendelegasikan penolakan atas penghancuran massif situs-situs Islam termasuk makam Nabi di Hijaz pasca transisi Bani Saud dengan faham Wahabismenya. Dan ironisnya, di dalam gerakan ini tidak tercatat Kaum Ba’alwi yang mengaku sebagai cucu Nabi ikut serta di dalam gerakan penolakan penghancuran makam Nabi tersebut !!!

Sebagai Ormas Islam terbesar di dunia, di dalam negara yang berjumlah muslimin terbesar di dunia pula, ternyata perbudakan spiritual yang dilakukan kaum Ba’alwi ini yang banyak menjadi korbannya adalah kaum Nahdhiyyin itu sendiri. Hal ini tidak mengherankan karena doktrin memuliakan keturunan Nabi paling kuat adalah di komunitas ini. Berbeda dengan ormas lainnya seperti Muhammadiyah, Persis, maupun Al Irsyad dimana mereka lebih rasional dan memiliki standard sendiri di dalam memandang posisi ahlil bait maupun dzurriyah Nabi. Namun di dalam tradisi NU, ajaran akan kemuliaan keluarga dan keturunan Nabi memiliki posisi penting di dalam tradisi keilmuan dan spiritualismenya. Dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh Kaum Pemalsu Nasab Nabi untuk begitu mudah dan suburnya melakukan penipuan nasabnya tersebut. Sehingga ketika kejahatan sudah begitu merajalela, pemalsuan makam begitu masif, pembelokan sejarah bangsa dan malah sejarah NU sendiri telah mereka lakukan, maka bangkiah perlawanan dan koreksi total terhadap mereka. Namun anehnya, justru ketika sebagian besar kaum Nahdhiyyin sudah bangkit melakukan penyikapan malah yang menghalangi adalah segelintir sesama kaum Nahdhiyyin itu sendiri. Padahal penyikapannya dengan cara bermartabat, yaitu dengan kajian dari berbagai disiplin keilmuan. Mereka kaum pengkhianat dari Nahdhiyyin ini seolah menutup mata terhadap realitas di masyarakat. Terhadap tindak kejahatan spiritual yang kaum Ba’alwi lakukan dan seolah menutup mata akan kajian keilmuan. Termasuk juga enggan mengkonfirmasi kepada dunia internasional dimana di hampir semua negara telah ada Lembaga Pencatat Nasab Nabi itu sendiri. Karena Kaum Ba’alwi ini mengaku sebagai imigran muasal Yaman yang datuknya dari Iraq, tentunya tidak sulit mengkonfirmasi ke Naqobah Yaman dan Iraq. Sungguh menggelikan andai Organisasi sebesar NU tidak mampu menghadirkan dan mengkonfirmasi hal yang demikian sederhana dan mudah tersebut.

Karena itulah, bagi siapa saja kaum Nahdhiyyin yang mencoba menghalangi apalagi memusuhi gerakan koreksi total terhadap penipuan atas nama Nasab Nabi di Nusantara yang sudah berjalan 200 tahun ini, maka dia telah nyata-nyata melakukan pengkhianatan fatal. Setidaknya kepada 7 entitas, yaitu :

1. Berkhianat Kepada Nabi
Memalsukan Nasab Nabi sekaligus mendukung dan melawan gerakan meluruskannya tentu saja jelas hukumnya berdosa besar dan ganjarannya Neraka Jahannam. Mereka yang menghalangi gerakan tersebut termasuk ikut serta di dalam menistakan kesucian dari Nabi itu sendiri.

2. Berkhianat Kepada Walisongo
Sebagai penerus ajaran Walisongo, Nahdhiyyin yang mendukung penipuan nasab nabi dari Klan Ba’alwi Yaman jelas berkhianat kepada Walisongo. Karena metodologi ajaran dan ketauladannya jauh dari apa yg diperjuangkan mereka. Dan tentu saja pembelokan sejarah Walisongo oleh mereka adalah serangan nyata kepada eksistensi Walisongo di Nusantara.

3. Berkhianat Kepada Muassis NU
Bila muassis NU mendirikan NU demi Agama, Bangsa dan Negara, adalah aneh apabila ada Nahdhiyyin yang mati-matian mendukung mereka yang menistakan agama, yang dulunya juga mendukung penjajahan serta sekarang justru berani membelokkan sejarah NU itu sendiri.

4. Berkhianat Kepada Muktamar NU Boyolali
Forum Muktamar NU adalah forum tertinggi organisasi. Dan salah satunya adalah Muktamar ke-31 di Boyolali. Dimana di dalam forum resmi tersebut telah menghasilkan produk hukum bahwa TES DNA bisa digunakan sebagai standard penentuan pernasaban. Apapun dalihnya itu adalah langkah maju mengakui teknologi sebagai bagian dari penentuan nasab. Dan apabila ada framing sempit serta menyesatkan dari oknum petinggi NU, yang jelas dia justru telah mencoba mengkerdilkan substansi besar kemajuan paradigma NU di dalam mengakui otoritas IPTEK, termasuk dari TES DNA dengan segala kemajuan teknologinya.

5. Berkhianat Kepada Fiqih Peradaban
NU sebagai ormas Islam terbesar di dunia telah bertekad dan mencanangkan sebagai pelopor dari kemajuan di dalam dunia Islam itu sendiri. Dimana harus tanggap dan berusaha terdepan di dalam menyongsong peradaban dengan segala kemajuan Ilmu Pengetahuannya.
(https://jateng.nu.or.id/amp/opini/memahami-kembali-tentang-fiqih-peradaban-hU5bM)

6. Berkhianat Kepada Ummat
Sudah dijelaskan diatas bahwa mayoritas yang menjadi korban dan tertipu dari perbudakan spiritual atas nama Cucu Nabi adalah Kaum Nahdhiyyin. Maka mereka yang ikut menghalangi gerakan pelurusan ini adalah jelas telah ikut menipu dan merampok ummatnya sendiri yaitu Kaum Nahdhiyyin.

7. Berkhianat Kepada Ideologi Pancasila dah Seluruh Bangsa Indonesia
Betapa rasisnya Klan Ba’alwi Habaib Imigran Yaman sangat mudah ditemukan jejaknya di dalam narasi mereka di media sosial. Hal ini juga sudah dibongkar baik dari dokumen, sejarah maupun fatwa tertulis mereka. Rasisme dan penipuan berkedok agama mereka telah jelas melawan semua sila di dalam Pancasila dan mengancam kesetaraan di dalam konteks Kebhinnekaan. Apabila merasa sebagai warga NKRI yang berideologi Pancasila maka mendukung mereka sama juga dengan berkhianat kepada Pancasila dan seluruh Bangsa Indonesia.

Bangkitlah Nusantaraku, Merdeka !!!

(KRAT. FAQIH WIRAHADININGRAT, 24 JUNI 2024)