Kisah Negeri Maling

Penulis:  KRAT Wirahadiningrat.

“Kita menggantung pencuri kecil dan menunjuk yang besar untuk jabatan publik.”
(AESOP, penyair Yunani 620-564 SM)

Di sebuah dusun yang subur, makmur dan damai, diantara lembah dan ngarai, dimana dari puncak bukitnya terlihat laut dan pantai, hiduplah masyarakatnya yang ramah, ramai dan piawai. Dusun itu membuat iri seluruh dusun sekitarnya karena segala kelebihan dan anugerah yang dimilikinya. Sehingga banyak sekali yang ingin pindah menjadi warganya. Dengan segala kiat mereka lakukan. Ada yang cuma jadi wisatawan, hingga berbesanan atau menikahi penduduknya demi punya alasan tinggal di tempat bak surga tersebut.

Namun selain cara yang terhormat, banyak pula yang menempuh jalan pintas agar bisa ikut menikmati kemakmurannya. Yaitu dengan menjadi maling dan menjarah ke dusun tersebut. Hingga ada yang menempuh jalan keduanya. Para maling yang memilih pindah dan menjadi warga dengan resmi. Dengan cara apa? Tentu saja yang paling mudah dengan menikahi para perempuannya. Awalnya mereka memang membuat masalah, tetapi karena adanya ketegasan dari kepala dusun dan tokoh-tokoh setempat mereka pun bisa ditertibkan. Hingga perubahan pun terjadi…

Si komplotan maling yang sekarang beranak pihak itu sadar, bila mereka selamanya sulit diterima dengan sepenuhnya. Track record permalingan mereka selamanya akan tercatat dalam sejarah. Namun pada akhirnya mereka dengan segala naluri malingnya menjadi sadar, bahwa segala kemakmuran dusun tersebut sungguh sayang bila tidak dijarah dengan maksimal. Sehingga mulailah komplotan tersebut memakai bulu domba, padahal mereka sejatinya serigala. Bagaimana caranya? Menciptakan kader dan simpatisan dari warga lokal !

Perlahan mereka dengan bulu dombanya membuat sebagian warga lupa bahwa mereka adalah serigala. Hingga kemudian bisa merayu salah satu tokoh rendahan yang bodoh untuk dijadikan boneka. Dia orang yang gemar dipuji, bermental budak serta mudah dininabobokkan. Pendekatan awal adalah dengan memberinya gelar, kemuliaan palsu serta mendidik anaknya dengan disekolahkan di kampung asalnya para maling tersebut. Tujuannya apa? Agar bila misi mereka berhasil kelak, ada tongkat estafet dari anaknya agar tetap bisa menjadi boneka para maling tersebut.

Walhasil, dijalankanlah siasat penyusupan. Tokoh rendahan yang sebenarnya kemampuannya juga pas-pasan tersebut kemudian disulap menjadi orang yang meyakinkan. Padahal boneka para maling ya tentu saja punya bibit bermental maling pula. Dengan serangkaian tipu-daya, akhirnya tokoh rendahan itu mampu menjadi ketua RT, hingga naik menjadi ketua RW, dan tinggal 1 langkah lagi. Yaitu Kepala Dusun.

Dijalankanlah siasat berikutnya, sebagian maling itu harus melepas bulu dombanya, dan kembali menjadi Serigala. Seketika geger dan resahlah situasinya. Dan skenarionya, si Serigala itu harus bisa dijinakkan menjadi domba lagi bila si Ketua RW itu turun tangan. Temanya adalah penertiban yang dramatik dan manipulatif. Dan benarlah, keadaan seolah tenang kembali. Semua orang kini tertipu dan memuji si Ketua RW bonekanya para maling tersebut.

Pemilihan Kepala Dusun itupun tiba. Dengan serangkaian topeng dan uang suap, akhirnya si Boneka Maling tersebut mampu menjadi Kadus di kampung itu. Yang mana tidak akan pernah sama lagi kondisi dan masa depannya. Awan hitam memayungi Dusun yang indah tersebut. Karena kini dusunnya telah dikuasai para maling.

Namun nasib sebuah boneka tetaplah akan menjadi boneka. Dia hanyalah mahluk mati yang hanya menjadi alat. Lho bukankah dia manusia yang hidup dan bernyawa? Iya benar, dalam konteks tersebut memang demikianlah keadaannya. Namun manusia hidup yang mati akal sehatnya sama saja dengan sebuah boneka bukan?!?

Pembuktian pun terjadi. Ketika si Kadus itu masih berambisi naik jabatan lagi untuk menjadi Kades, atau kepala desa. Seketika para maling menolaknya. “Kamu cukup jadi Kadus tolol !” Bagitulah umpatan mereka. Rupanya operasi penyusupan itu tidak hanya menimpa dusun tersebut saja. Ternyata semua dusun sama nasibnya, walaupun memang dusun itu yang paling alot pengkondisiannya.

Begitulah, akhirnya Desa tersebut kini dipimpin seorang pentolan maling. Dan perlahan semua warga yang tidak mau gabung dalam komplotannya pada dimalingi asetnya. Dan pada periode berikutnya, dari seluruh kepala dusun, RT dan RW-nya total sudah diganti para maling semua.

Begitulah kisah DESA MALING. Kelak mereka akan semakin solid, dan pasti akan mengulang kisah sukses tersebut di tingkatan kecamatan, kabupaten hingga bila mungkin harus merebut Negara.

Selamat datang dan jayalah negeri para maling !!!

Ini negeri para pencuri
Dikira wali ternyata gali
Ngakunya cucu Nabi ternyata Yahudi
Punya boneka rasa FPI !!!

 

KRAT. FAQIH WIRAHADININGRAT
(Bumi Empu Gandring, di Hari Kesaktian Pancasila 2024, semoga Pancasila tetap sakti untuk menghancurkan para maling negeri)