Cerita Kuliah S 3 Bersama Emak Emak Rempong dari Ambon

 

 

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia!” (Nelson Mandela)

Tadi malam penulis sedang berbincang dengan kolega yang sama-sama tengah menempuh pendidikan di program doktoral. Yaitu beberapa emak-emak rempong kolega penulis.

Dan masih saja berlanjut sebentar pada pagi tadi, sesaat penulis sebelum terlibat dengan urusan domestik: antar istri ke kantornya, bebersih rumah, lalu urus urusan pribadi sebagai anak manusia yang sama-sama berstatus sebagai mahasiswa program doktoral yang tengah berjibaku urusi urusan printilan administrasi berkenaan dengan pendaftaran wisuda!

Sebuah perspektif menarik diperoleh penulis ketika tengah berbincang dengan kolega sesama mahasiswa doktoral: “Pak Andi, sebenarnya cerita tentang pernak-pernik urusan kuliah S3 ini bila di pahat narasinya ala tulisan mister AAS, akan menjadi menarik,” tegas mama rempong dari Kepulauan Ambon tersebut.

Tak perlu tunggu waktu lama, penulis pun membalas komentarnya dengan jawaban begini,” Boleh saja bila kita bisa *tandem* dalam menuturkan kisahnya selama menjadi mahasiswa doktoral di Pascasarjana FE UB Malang tersebut,” jawab penulis!

“Ayuk, mister AAS, siapa takut!”

Tidak jarang, cerita menjadi mahasiswa doktoral adalah sebuah manuskrip yang begitu *epik* bila diceritakan dalam bahasa ala pelakunya langsung, ditulis dengan bahasa nan sederhana namun tidak melupakan detail di dalamnya! Kisah mahasiswa saat kuliah dari semester awal hingga bagaimana disertasi itu diselesaikan di semester akhir, penuh gelak tawa, tak jarang cacian, juga sumpah serapah lengkap dialami oleh seorang *promovendus*. Mencaci nasib yang acap kali tak berpihak kepada seorang murid, atau si mahasiswa nya sendiri, kalau ini rada lebay kayaknya, upps!

Bagaimana seorang promovendus dituntut menjadi *dewasa* secara alami, bukan dengan di karbit. Ia harus belajar mandiri untuk mengatasi berbagai rintangan dan kerikil halangan yang kerap dialaminya saat menjadi mahasiswa doktoral. Mulai dari urusan keluarga, pekerjaan, urusan uang, urusan dengan tim promotor, dan tentu yang paling utama adalah urusan perihal: kapasitas diri soal knowledge perihal bagaimana sebuah *disertasi* kudu dibuat, mulai dari bab satu latar belakang hingga bab 6 kesimpulan, dan perjuangan terberatnya bagaimana sejak dari judul hingga disertasi itu menemukan kesimpulan dari sebuah penelitian yang dilakukan dan mendapatkan persetujuan dari tim promotor adalah benar-benar *sesuatu*!

Nah, semua cerita dan haru birunya itu saat menjadi mahasiswa doktoral, tentu saja setiap promovendus akan mengalami ceritanya masing-masing yang pasti saja bakalan menarik untuk didengar, dibaca, di ceritakan ulang kisahnya, untuk bahan motivasi bagi adik tingkat atau generasi selanjutnya hehehe. Begitu tegas sang kolega itu memotivasi mister AAS, untuk mengiyakan ajakan membuat buku bersama tentang topik di atas.

Satu jam menjelang salat Jumat didirikan, tak salah sebuah cerita tadi malam berlanjut hingga tadi pagi, sebelum nantinya akan dieksekusi ditulis menjadi sebuah *buku*, hal yang paling utama, adalah mister AAS mencoba memahatnya sebentar. Menjadi sebuah tulisan sederhana ini untuk di titip simpan di aplikasi FB, sebagai pengingat diri, bahwa buku itu layak ditulis kedepannya!

Kadang sebuah ide tentang sebuah *karya* tak mesti hebat dan selalu harus besar. Peristiwa kecil yang menemani kita meraih sebuah cita-cita juga layak kita kumpulkan menjadi sebuah cerita yang utuh dalam sebuah buku. Cerita saat kuliah S3 dan berhasil menyelesaikan nya barangkali! Adalah sebuah etalase yang cukup layak di sorot untuk orang lain mau melakukan jalan yang sama.

Semoga, mestakung terjadi dan aamiin yra…????????????????❤️

AAS, 03 November 2023
Emper Rumah Rungkut Surabaya