Lembaga Pendidikan Islam : Pondok Pesantren Sunan Derajat Lamongan

Catatan Faidatul Himmah dkk & Saefullah Azhari, Yahya Aziz : Mahasiswi PIAUD & Dosen FTK UINSA

Surabaya, Menara Madinah Com
Inilah riset penelitian kelompok kami :
1. Regita Nur afidah (06040923087)
2. Faidatul Himmah (06040923065)
3. Fitri shouniyah
(06040923068)
Ke 3 mahasiswi ini dibimbing langsung oleh Yahya Aziz & Saifullah Azhari Dosen FTK Uinsa dalam riset penelitian mata kuliah Pancasila dan Bahasa indonesia dengan tema : Pondok Pesantren Sunan Derajat Lamongan.

1. Pondok Pesantren Sunan Drajat didirikan pada tanggal 7 September 1977
di desa Banjarwati Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan oleh KH. Abdul
Ghofur. Pondok pesantren ini terletak di Desa Banjaranyar yang termasuk dalam
wilayah Kecamatan Paciran, terletak di daerah dekat pantai utara Kabupaten
Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Sedangkan letak desa tersebut dari Kabupaten
Lamongan 35 km. Sukodadi (Telon Semelaran) belok ke kiri terus ke utara
sampai di Desa Banjaranyar. Sunan Drajat merupakan putra sunan ampel yang menjadi tokoh utama
dalam penyebaran agama Islam yang ada di wilayah Lamongan. Raden Qosim
atau Sunan Drajat, Beliau mengatakan bahwa
barang siapa yang mau belajar mendalami ilmu agama di tempat tersebut, semoga
Allah menjadikannya manusia yang memiliki derajat luhur. Berkat do’a Raden Qosim inilah para pencari ilmu turut berbondong-bondong belajar di tempat
beliau dan Raden Qosim pun mendapat gelar Sunan Drajat.
Setelah beberapa lama beliau berdakwah di Banjaranyar, maka Raden
Qosim mengembangkan daerah dakwahnya dengan mendirikan masjid dan
pondok pesantren yang baru di kampung Sentono. Beliau berjuang hingga akhir
hayatnya dan dimakamkan di belakang masjid tersebut. Kampung di mana beliau
mendirikan masjid dan pondok pesantren itu akhirnya dinamakan pula sebagai
Desa Drajat. Sepeninggalan Sunan Drajat, tongkat estafet perjuangan dilanjutkan
oleh anak cucu beliau. Namun seiring dengan perjalanan waktu yang cukup
panjang kebesaran nama Pondok Pesantren Sunan Drajat semakin pudar dan
akhirnya lenyap ditelan masa. Setelah mengalami proses kemunduran, bahkan sempat menghilang dari
peradaban Islam di Pulau Jawa, pondok pesantren Sunan Drajat dibangun kembali
oleh K.H. Abdul Ghofur pada tahun 1977. Pesantren Sunan Drajat kembali bersinar dan nuansa keagamaan pun mulai mewarnai kehidupan masyarakat Banjaranyar.

2. Prof. Dr. (H.C). K.H. Abdul Ghofur (lahir 12 Februari 1949 di Lamongan, Jawa Timur) adalah Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, sekaligus sebagai Mustasyar PWNU Jawa Timur. Beliau merupakan keturunan dari pasangan H. Martokan dan Hj. Kasiyami dan merupakan keturunan ke-14 dari Kanjeng Sunan Drajat. Pondok pesantren yang diasuhnya merupakan satu-satunya pesantren peninggalan Wali Songo yang masih ada dan saat ini menjadi salah satu pesantren dengan jumlah santri terbanyak di Indonesia.ranyar dan sekitarnya. Dalam waktu relatif singkat Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan perkembangan yang luar biasa pesatnya. KH. Abdul Ghofur memulai pendidikan formal di TK Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Lamongan pada tahun 1956. Kemudian beliau melanjutkan jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah di tempat yang sama, dan jenjang Madrasah Aliyah di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Seusai tamat di salah satu pesantren tertua di Indonesia tersebut, beliau melanjutkan belajar di Pesantren Keramat dan Pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan.

Selepas itu, beliau melanjutkan pendalaman belajar agama di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang asuhan KH. Maimun Zubair selama 1 tahun dan kemudian belajar ke berbagai pesantren di Kediri, di antaranya Pesantren Lirboyo, Pesantren Al Hidayah Tertek, serta Pesantren Raudhotul Qur’an pada rentang tahun tahun 1970-an

3. Kurikulum Pesantren
Sebagai sebuah pesantren, secara umum tentu saja kurikulum di Pesantren Sunan Drajat berlandaskan islam. Hanya saja nanti pada praktiknya kurikulum tersebut mengikuti kurikulum Kemenag atau kurikulum DIKNAS sesuai dengan unit pendidikan formal yang ada.

4. Pondok pesantren Sunan Drajat Kini Memiliki Santri Kurang Lebih 9000
orang, Terdiri dari santri putra Mukim 3400 orang, Santri putri mukim 2000
orang, santri karyawan 1200 orang, santri tidak menetap 2400 orang. Para santri
ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan mulai dari madrasah Ibtida’iyah
sampai Perguruan Tinggi yang ada di Ponpes Sunan Drajat.

5. “Saya berharap alumni dari Pesantren Sunan Drajat turut serta mewarnai dan mengoptimalkan perannya untuk mengawal proses pembangunan yang ada di Lamongan agar bisa memberikan kemanfaatan kepada masyarakat,” tutur Abdul Ghofur saat membuka Munas II Pessandra di Aula Pesantren Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran. Semoga ponpes ini bisa mencetak santri yang menjadi kebanggaan bagi kita semua. Sehingga nantinya bisa mewarnai dan mengoptimalkan perannya untuk mengawal pembangunan di Lamongan,” ucap Ghofur.
Barakallah….