Dalam beragama out putnya adalah jiwa humanisme

Catatan Gus Kampung : Musjan Rutino.

Terjadinya konflik agama hingga berkepanjangan sebenarnya akibat terjadi kompetisi yang kurang sehat diantara elitnya masing masing, baik di pihak muslim wa’ala alihi maupun kristen wa ‘ala alihi.

Islam dan Kristen adalah dua agama yang punya sifat sama yaitu agama yang harus disebarkan, persoalan mendasarnya adalah karena budaya kedua bangsa tersebut juga sama masing masing antar etnisnya tidak bisa bersatu dan disatukan.

Disisi lain konsep dasar bernegaranya pun adalah hasil adopsi dari bangsa lain, kemudian agama selalu menjadi paltform politik, sehingga pembangunan politiknya identik dengan agama sebagai alat untuk meraih kekuasaan.

Mestinya para cendekiawan atau ahli agama mampu memberikan literasi kemanusiaan, karena agama adalah identik dengan kemanusiaan.

Oleh karenanya bangsa Indonesia yang beragama baik Islam maupun Kristen wa’ala alihi tidak perlu mengikuti pola pola mereka karena esensi beragama itu lebih pada persoalan hubungam vertikal, sedangkan horisontalnya harusnya menitik beratkan pada jiwa humanisme.

Kenapa Indonesia punya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Sumpah Pemuda, sebenarnya adalah bagian dari implementasi dan transformasi dari kitab suci dari masing masing umat yang meyakininya.

Kenapa umat beragama di Indonesia sampai ikutan terseret pada pusaran konflik berkepanjangan ?

Berarti ada yang salah pada diri para Cendekiawan atau Ulama.

Mudah mudahan Indonesia tetap menjadi negara yang Islami dan bangsanya yang beragama selalu membangun jiwa humanisme…..

Penulis : Miskan Turino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *