Dominasi Bendera NU dalam Deklarasi Cawapres Muhaimin

Catatan : Gus Miskan Turino.

Muhaimin berstatmen Partai PKB gak ada hubungannya dengan NU.

Ingat..!

Partai PKB didirikan sebagai bentuk menyambut dan mengawali pembangunan politik demokrasi menggantikan politik otoriterianisme.

Gusdur adalah tokoh sekaligus pendiri PKB bermaksud memberikan pendidikan politik kepada warga dan para generasi muda nahdliyin agar punya wadah untuk menyalurkan bakat sekaligus syahwat politiknya.

Jika menilik dari pernyataan Almaghfurlah KH. Hasyim Muzadi dimana pembagian tugas antara PKB dan NU harus terpisah. Kala itu telah disepakati bahwa Kyai Hasyim Muzadi wa ala alihi(warga NU) khusus ngurusi NU dan Gusdur ngurusi PKB (partai politik), artinya bagaimana PKB sebagai organ yang dilahirkan oleh NU tetap berdiri pada garisnya (mengikuti arahan para masyayikh) bukan memanfaatkan, mendorong apalagi membenturkan para masyayikh termasuk membawa NU secara kelembagaan masuk pada ranah politik praktis, seperti memakai gedung NU atau bendera NU sebagai sarana kampanye maupun momen momen politik lainnya.

Seiring dengan lengsernya Gusdur dari kursi Presiden hingga Gusdur dilengserkan oleh kadernya sendiri (Muhaimin) dari PKB melalui keputusan pengadilan yang ditengarai ada campur tangan penguasa kala itu, yang pada akhirnya PKB beralih ketangan Muhaimin hingga hari ini.

Rupanya Muhaimin merasa sebagai cucu salah satu muassis besar (KH. Bisri Syansuri) sehingga sepak terjangnya dalam memimpin PKB terlihat selalu mengabaikan para masyayikh NU, bahkan terkesan sebaliknya seakan akan NU harus mengikuti langkah PKB, hal itu terbukti antara lain : gerakan memaksa NU secara kelembagaan agar merekomendasi dirinya sebagai cawapres hingga memaksa dengan mobilisasi warga untuk mendemo PWNU Jawa Timur, begitu juga menggunakan fasilitas baik gedung maupun struktur NU, klimaksnya hari ini saat melakukan deklarasi dirinya menjadi cawapres Anies di Surabaya melakukan konvoi menggunakan bendera NU bahkan dalam konvoi bendera PKB tenggelam oleh dominasi bendera NU.

Luar biasa mental monarki yang ia sandang seolah para masyayikh NU tak berguna bagi dirinya.

Semoga NU Surabaya sebagai pemilik wilayah bisa memperingatkan pihak pihak yang terkait dengan konvoi partai politik yang menggunakan bendera NU.

Semoga Tuhan (Allah Swt) tidak marah…

Salam,
Miskan Turino