Samin Surosentiko Tidak Mau Bayar Pajak Sama Belanda Kini Keturunannya Bangkit Protes Pajak

Catatan Drs. Husnu Mufud, M PdI Sejarawan Surabaya.

Gonjang ganjing korupsi di Kemenkeu RI yang dipimpin  Sri Mulyani hingga kini masih belum reda. Malahan  semakin tinggi kemarahan rakyat. Karena mereka tidak terima pajak rakyat di korupsi. Sehingga rakyat mengancam tidak mau bayar pajak.

Hal tersebut sebenarnya zaman Belanda sudah ada.  Korupsi di lembaga perpajakan merajalela. Kemudian timbul perlawanan dari rakyat. Dipimpin Samin Surosentiko.

Kemudian  Samin Surosentiko. Bersama rakyat keluar dari Keraton menuju Blora untuk hidup mandiri tanpa mau membayar pajak. Meskipun pemerintah Belanda terus memaksa untuk bayar pajak lewat hasil pertanian.

Keberanian Samin Surosentiko patut diacungi jempol menolak membayar pajak pada zaman Belanda. Karena pihak Keraton Jogja dan Solo tidak bisa berbuat banyak untuk membela rakyatnya.

Kini gerakan Samin Surosentiko dilanjutkan  oleh anak turunnya ketika ramai ramainya korupsi di Kementrian Keuangan RI

Salah satunya adalah Pendiri Social Movement Institute, Eko Prasetyo, menyebut Samin Surosentiko berjuang dengan menolak membayar pajak pada zaman kolonial. Hal tersebut berbeda dengan masyarakat hari ini yang patuh membayar pajak.

Namun, dia menyayangkan kondisi tersebut kontradiktif dengan para pejabat negara yang justru mangkir dari kewajiban membayar pajak.

Eko dalam acara peresmian Pendopo Pengayoman Samin Surosentiko di Ploso Kediren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah, Rabu, 15 Maret 2023 mengatakan,  tujuan negara untuk memakmurkan rakyat seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, tujuan untuk memakmurkan rakyat itu kini ditafsirkan secara sempit dengan ideologi pembangunanisme.

“Pokoknya cara pemerintah memakmurkan bangun sebanyak-banyaknya, banyak jalan tol, tetapi rakyat tetap harus membayar.”

Menurutnya,  bahwa kebutuhan rakyat bukan hanya berdirinya bangunan, tetapi bagaimana alam melindungi dan memasyarakat.

 

Oleh karena itu, kaum Samin lebih mementingkan kekayaan alam. Gerakan Samin menolak ketidakadilan lingkungan.

Pada zaman kolonial, Samin berhadapan dengan ketidakadilan dalam pajak dan hukum. Namun sekarang, justru lebih banyak lagi ketidakadilan, termasuk ketidakadilan lingkungan.

“Samin mendorong agar lingkungan dipertahankan agar pembangunan tidak hanya fisik saja, tetapi juga lingkungan agar dapat diwariskan kepada anak.