
Oleh:
MOH FAIZIN
Dan
Mahasiswa Mata Kuliah Public Speaking B
Prodi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
- Pendahuluan
Pada abad ke 21 Public Speaking bukanlah sebuah skill yang harus dimiliki oleh seorang MC (Master of Ceremony), pembicara, penyiar, ataupun pembawa berita saja, melainkan sebuah skill yang harus dimiliki oleh setiap orang, di zaman yang penuh tantangan ini. Public Speaking sangat berguna untuk menunjang seseorang dalam berkarya, menyampaikan sebuah temuan pada khalayak umum ataupun melakukan sebuah inovasi. Bukan hanya itu skill Public Speaking juga berguna dalam sebagaian profesi yang dimiliki setiap orang, seperti tenaga pendidik, staf HRD di sebuah perusahaan, staf marketing, dn masih banyak lagi sebuah profesi yang membutuhkan skill Public Speaking.[1] Dan pada dasarnya setiap orang memunyai sebuah informasi ataupun pengetahuan yang dapat di sampaikan kepada orang lain, maka dari itu kemampuan Public Speaking menjadi salah satu ilmu yang sangat dibutuhkan dan perlu untuk dipelajari bagi setiap orang.
Namun, tidak semua orang memiliki jiwa public speaker yang besar. Kebanyakan, kaum milenial saat ini merasa dirinya insecure, bahkan menganggap bahwa public speaker ini sebuah momok yang harus dihindari. Dalam hal ini terkhusus mahasiswa. Seringkali mahasiswa yang memiliki jiwa introvert tidak bisa mengembangkan gaya berbicaranya sehingga ia tidak memiliki ruang speak up.
Dalam belajar Public Speaking, tak hanya terkait dengan teori akan teknik Public Speaking saja, melainkan penting adanya seorang rele model atau tokoh idola sebagai acuan bagaimana menjad seorang public speaker, karena setiap penyampaian terdapat ciri khas dan karakter yang tentunya tak jauh berbeda dari tokoh yang diidolakan. Dengan adanya tokoh idola, dapat melahirkan model-model kreatif dan inovatif para public speakers pemula melalui proses meaning-making. Diharapkan dengan adanya tokoh idola sebagai tolok ukur para public speaker pemula dapat diperoleh pembelajaran yang terkesan melalui tokoh idola yang mengadopsi persepsi estetik dan memiliki sudut pandang yang menekan.[2]
- Public Speaking
Public Speaking dalam bahasa Indonesia disamakan dengan pidato, sedangkan dalam Bahasa Yunani pidato disebut dengan retorika, dan dalam Bahasa Arab disebut muhadhoroh (ceramah, kuliah). Pidato merupakan kegiatan berbicara di depan umum dengan menyatakan pemikiran atau idenya kepada orang lain dengan bahasa yang santun dan mudah dipahami.
Menurut Nikitina,public speaking adalah sebuah proses, sebuah tindakan dan seni dalam membentuk pidato (speech) di hadapan audiens. Menurut Compassion & Choices, public speaking melibatkan pengiriman kata-kata kepada audiens sebagaimana halnya seorang juru bicara, untuk persoalan tertentu.[3] Warner & Bruschke mengatakan bahwa public speaking memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik.[4] Menurut Amirullah Syarbini dalam Webster’s Third New International Dictionary, public speaking adalah:
- The act of process of making speeches in public (proses pembicaraan didepan publik).
- The art of science of effective oral communication with an audience (seni serta ilmu pengetahuan mengenai komunikasi lisan yang efektif dengan para pendengarnya).[5]
Public Speaking diidentikkan dengan kegiatan latihan berbicara. Contoh Public Speaking yang rutin dilakukan orang Islam adalah pada hari Jumat, karena pada hari itu pasti ada kegiatan khutbah (ceramah, pidato) sebelum sholat. Seseorang yang berpidato harus bisa menguasai, mengambil hati para audience agar pesan yang disampaikan mengenai padaa sasaran yang tepat.
- Public Speaking dan Public Speaker
Pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa adalah sesuatu yang perlu diperhatikan.[6] Ketika memperoleh pendidikan di perguruan tinggi, pastinya pembelajaran tentang Public Speaking adalah sesuatu yang utama. Hal ini penting ketika hendak melakukan presentasi, mengerjakan tugas, terjun di masyarakat saat KKN, dan lain-lain. Semuanya jelas akan menjadi hal sangat penting untuk dilakukan. Selain public speaking, mahasiswa juga akan mendapatkan wawasan baru dari Seminar, Webinar, dan lain-lain.
Dalam hal ini, skill Public Speaking akan mampu memberikan banyak manfaat dan juga keuntungan. Berikut adalah alasan pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa yang perlu diketahui.
- Sarana peningkatan rasa percaya diri[7]
Pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa berkaitan dengan peningkatan dari segi kepercayaan diri. Memiliki rasa percaya diri yang baik pada dasarnya adalah sesuatu yang amat penting untuk dicapai. Ketika memiliki rasa percaya diri yang bagus, maka melakukan semuanya akan terasa sangat mudah. Dengan adanya peningkatan kepercayaan diri, sudah pasti hal tersebut akan mendatangkan sesuatu yang lebih maksimal.
- Melatih diri berekspresi secara positif dan layak di hadapan publik
Pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa juga akan terasa dalam melatih diri untuk berekspresi secara baik. Terkadang beberapa mahasiswa merasa minder dan malu untuk mengekspresikan dirinya. Ada ketakutan apakah ekspresinya tersebut diterima oleh para audience atau tidak. Nyatanya, ini harus terus dilakukan supaya melatih diri untuk bisa berekspresi secara positif, dan juga mampu melakukan semuanya dengan baik.
- Meningkatkan kualitas dan value yang dimiliki
Pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa juga akan bisa anda dapatkan dalam rangka meningkatkan kualitas atau value yang dimiliki secara maksimal. Memiliki Value yang baik sebagai seorang mahasiswa adalah hal yang sangat utama. Pasalnya, ini akan membuat kamu memiliki spirit boost atau semangat yang lebih baik lagi.
- Dapat menjalankan berbagai tugas kuliah yang berkaitan dengan public speaking secara lancar
Pentingnya memiliki skill public speaking bagi mahasiswa yang keempat adalah membuat kamu mampu menjalankan berbagai tugas kuliah yang berkaitan dengan public speaking. Sebut saja mata kuliah Public Speaking, KKN, dan lain-lain yang pastinya akan mengedepankan yang kemampuan verbal seorang mahasiswanya. Jika semua itu dilakukan secara baik, sudah pasti ada banyak manfaat maksimal yang akan bisa dicapai di dalamnya dengan baik.
- Berguna bagi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi
Kemampuan Public Speaking juga akan amat berguna jika mahasiswa tersebut cukup aktif dan antusias dalam kegiatan organisasi. Tentu tidak mungkin dalam kegiatan organisasi, mahasiswa tersebut hanya diam saja. Pastinya ada pendapat yang ingin dikemukakan. Dari sinilah kemampuan yang satu ini benar-benar amat penting untuk kegiatan organisasi dalam masa kuliah yang panjang itu sendiri.
Bukti yang menunjukkan bahwa kegiatan public speaking mempunyai andil yang sangat besar terhadap perubahan adalah seperti yang dikemukakan Jalaludin Rahmat dalam buku Retorika Modern menyatakan bahwa seorang kopral kecil, veteran perang dunia II berhasil naik menjadi Kaisar Jerman. Dalam bukunya, Mein Kampf dengan tegas Hitler mengatakan bahwa keberhasilannya disebabkan oleh kemampuannya berbicara. “Ich Konnte Reden”, katanya, lebih lanjut Hitler berkata “Jede grosse bewegung auf dieser erde verdankt ihr wachsen den grosseren rednern und nicht den grossen schreibern”, yaitu setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan.
Dalam dunia public speaking, sosok idola untuk dikagumi merupakan sebuah hal yang lazim. mengagumi tokoh public speaking dapat diartikan sebagai perasaan suka ataupun tertarik pada seorang publc speaker. Dengan mengagumi seseorang ada banyak hal baru yang didapatkan, hal ini karena ketika memiliki ketertarikan dengan seseorang ada kecenderungan untuk mempelajari atau mengulik inforasi baru tentang sosok yang dikagumi. Entah melalui media sosial yang dimilikinya, ataupun melakukan pencarian informasi melalui platform lain.
Seseorang yang dikagumi tentunya memiliki kisah hidup tidak semulus sebagaimana yang dilihat masyarakat luas, ada banyak rintangan dan lika-liku yang dihadapi. Oleh karena itu saat mengidolakan seseorang dapat menimbulkan sebuah perasaan semnagat untuk berjuang dan meraih yang dicita-citakan.
Dapat dipastikan jika mengagumi seseorang maka orang yang dikagumi tersebut akan menjadi panutan (role model). Dan hal ini di sadari atau tidak akan memberi dampak. Inilah yang disebut sebagai motivasi dari luar. Sebuah motivasi yang datang dari kisah, perbuatan atauoun perjalanan hidup orang lain dan menjadikannya sebuah contoh.
Begitupun ketika mengidolakan seorang public speaker, yang tentunya dapat menjadikan sebuah motivasi, pengalaman baru, serta panutan yan akan dijadikan contoh dalam melakukan public speaking. Bagi mahasiswa yang masih minim pengalaman mengidolakan seorang publc speaker dapat membantunya untuk lebih percaya diri, mencoba hal baru juga memberi motivasi bagi diri. Namun perlu diingat ketika mengidolakan seseorang jangan sampai membunuh karakter diri sendiri. Dan inilah yang penting bahwa yang diidolakan hanya sebagai inspirasi bukan untuk menjadi sesosok lain, namun tetap menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
- Metode
Penelitian ini dilakukan dengan konsep kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.[8] Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif melalui metode survei dengan kuisioner google form yang disebar pada sampel penelitian. Sampel penelitian untuk terlaksananya penelitian ini yaitu Quota Sampling. Pengambilan sampel kuota telah diatur sebelumnya dengan memilih mahasiswa Semester 5 kelas Public Speaking B sebanyak 31 mahasiswa dan kelas Public Speaking A sebanyak 5 mahasiswa.
- Temuan
Berdasarkan penyebaran kuisioner kami menemukan bahwa banyak dari mahasiswa dari Pendidikan Agana Islam semester 5 kelas Public Speaking B adalah Najwa Shihab, Ustazah Oki Setiana Dewi, Merry Riana, Ustaz Hanan Attaki, Wirda Mansur, dan KH. Bahauddin Nur Salim (terlampir).
Dari pemaparan alasan dapat ditemukan bahwa mahasiswa membutuhkan sosok yang luas, tegas, kritis, dan memiliki kemampuan berbahasa yang baik dengan menggunakan diksi-diksi yang menarik, memiliki khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan prestasi yang dapat diunggulkan. Dari masing-masing idola dengan ranking teratas dapat kita temui pesan dari analisis mahasiswa sebagai berikut:
- Najwa Shihab: sosok jurnalis yang dikagumi karena simbol dari kemandirian perempuan. Dari berbagai argumen mahasiswa yang telah terkumpul dapat ditarik garis besar dibutuhkannya sosok wanita yang dapat menjadi role model dalam kelugasan, ketegansan, keilmuan, bertanggung jawab atas keluarga, kepekaan sosial yang tinggi, berani. Itu merupakan value yang dibutuhkan oleh mahasiswa, tidak hanya terbatas pada penampilan, melainkan juga isi otak.
- Ustazah Oki Setiana Dewi: sosok pendakwah dan pebisnis yang mewakili pada sosok perempuan yang berwibawa dengan nilai-nilai agama, mampu bertanggung jawab dalam kegiatan dalam dan luar rumah, kecerdasan dalam membagi waktu, dan ekspresif dalam berkomunikasi.
- Merry Riana: sosok perempuan yang menggeluti bidang usaha, youtuber, aktris, dan motivational speaker dapat mengarahkan mahasiswa untuk bergerak pada kreatif dan inovatif dalam mengembangkan minta dan bakat. Seorang perempuan yang menggeluti banyak bidang memperlihatkan kesiapan dalam menanggung risiko, percaya diri untuk terus bergerak dan tidak mudah putus asa.
- Wirda Mansur: seorang pemudi yang menekuni dakwah di media sosial, merintis usaha dan penulis yang dikagumi kalangan muda. Dapat ditarik garis besar dengan mengidolakan seorang perempuan dengan segudang prestasi bahwa mahasiswa perlu adanya sebuah dorongan yang bersifat membangun kearah optimistis, pintar dalam menempatkan diri dan berbaur, serta keerdasan yang mumpuni.
- Bahauddin Nur Salim: sosok pendakwah dan pengasuh pesantren yang melejit namanya di media sosial karena penguasaan dalam bidang tasawuf, fikih, hadis, dan tafsir. Dari pengaguman terhadap beliau ada sisi akhlak dan ilmu yang didambakan oleh mahasiswa, yaitu kerendahan hati dan kecerdasan dalam memandang permasalahan dalam berbagai sisi. Dengan latar belakang pendidikan non-gelar membawa pandangan mahasiswa pada arah perjuangan terhadap kehidupan dan semakin menguatkan kepercayaan mengenai tingginya derajat ahli ilmu di dunia dan akhirat.
- Kesimpulan
Dari penelitian Public Speaker Idola Perpektif Mahasiswa mahasiswa membutuhkan sosok panutan yang mampu bersaing dalam berbagai mutidisplin ilmu. Ranking teratas dari mahasiswa responden memilih seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional. Hal ini tidak menutup kemungkinan sebagai sosok suri teladan dalam mencari jati diri di perjalanan kehidupan untuk pendidikan dan karir berikutnya.
- Daftar Pustaka
Susilo, Heri. Lancar Berbicara: Practical Public Speaking With EFT (Emotional Freedom Techniques). Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. 2020.
Qomariyah, U’um. “Model Pembelajaran Apresiasi Prosa Berbasis Kisah Inspiratif Tokoh Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Mahasiswa”. Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. Vol 2. No. 1. 2018.
Oktaviani, R., Rusdi, F. “Belajar Public Speaking Sebagai Komunikasi Yang Baik”. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia. Vol 2. No. 1. 2019.
Binti Yulianti, Dwiana. “Strategi Belajar Dalam Program Public Speaking Berdasarkan Gender”. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 07. No. 02. 2019.
Syarbani, Amirullah. Buku Panduan Guru Hebat Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz. 2015.
Fahrimal, Yuhdi., dkk. “Peningkatakan Public Speaking Skill Melalui Pendekatan POBC dan Mind Mapping Bagi Mahasiswa Universitas Teuku Umar”. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar. Vol 2. No 1. 2020.
Tamelab, Petrus., dkk. “Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa Dalam Kemampuan Public Speaking Di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang”. Jurnal Seputar Penelitian Pendidikan Keagamaan. Vol. 2. No. 1. 2021.
Kusumastuti, Adhi., Mustamil Khoiron, Ahmad. Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: Lembaga Pendidikan Sukarno Pressindo. 2019.
- Lampiran
Grafik.1 Diagram Batang Suara Mahasiswa Mengenai Public Speaker Idola
| NAMA | Idola I | Idola II | Idola III | Idola IV | Idola V |
| Tsalasati Nur Adha Laila | Najwa Shihab | Ustd. Oki Setiana Dewi | Merry Riana | Ust. Nur Maulana | Andy F Noya |
| Alfi Yatunnaafi’ah | Kim Namjoon | Min Yoongi | Najwa Shihab | Prilly Latuconsina | Cinta Laura |
| Farihatul Ismaniyah | Ustd. Oki Setiana Dewi | Najwa Shihab | Ust. Hanan Attaki | Buya Yahya | Ust. Felix Xiauw |
| Akbar Pandodo | Habib Umar bin Hafidz | Habib Mundzir al Musawa | Habib Idrus Alaydrus | Habib Rizieq bin Shihab | Habib Muhammad Shihab |
| Af’idatun Nafiah | Kirisnamurti | Najwa Shihab | Merry Riana | Merry Riana | Ernest Prakasa |
| Nadiva Fahma Zushida | KH. Abdurrahman Wahid | KH. Baha’uddin Nur Salim | Najwa Shihab | Sheila Hasina | Ust. Hanan Attaki |
| Alya Okta Nurjanah | Mamah Dedeh | Ust. Nur Maulana | Ustd. Oki Setiana Dewi | Merry Riana | Mario Teguh |
| Alliya Yenni Min Zannuba | Ustd. Oki Setiana Dewi | Ust. Adi Hidayat | Ust. Abdul Shomad | KH. Anwar Zahid | Merry Riana |
| Bunga Nur Anggrawardani | Nabi Muhammad Saw. | Ust. Hanan Attaki | Najwa Shihab | Maudy Ayunda | Fardi Yandi |
| Alfiatul Wahdah | KH. Asep Syaufuddin | Najwa Shihab | Ust. Adi Hidayat | Ustd. Oki Setiana Dewi | Merry Riana |
| Rohmatul Afifah | Najwa Shihab | Ustd. Oki Setiana Dewi | Prilly Latuconsina | Mulya Hany Safitri | Moh. Faizin |
| Fiantika Rizky Nurhayati | Najwa Shihab | Ernest Prakasa | Ary Ginanjar Agustian | Ustd. Oki Setiana Dewi | Muhammad Ainun Najib (Cak Nun) |
| Ardiyaksa Wahyu K | Cak Nun | Sudjiwo Tedjo | Rocky Gerung | Fahruddin Faiz | KH. Asfiyak Muhammad |
| Himaya Qotrun Nada Salsabila | Jerome Polin Sijabat | Najwa Shihab | Tri Rismaharini | Tobias Justin | Susi Pudjiastuti |
| Arini Al Bariroh | Najwa Shihab | Yulia Baltschun | Nessie Judge | M. Najib Muhammad | Cinta Laura |
| Fia Ayu Putri Agustin | Prof. Abdul Kadir Riyadi | Ustd. Oki Setiana Dewi | Zakir Naik | Fahruddin Faiz | KH. Baha’uddin Nur Salim |
| Tri Wasesa Aulia Sakti | B.J. Habibie | KH. Abdurrahman Wahid | Najwa Shihab | Emma Watson | Buya Hamka |
| Alaina Ahmad Wildan S | KH. Muhammad Zaini | KH. Abdurrahman Wahid | KH. Abdurrahman al-Kautsar | KH. Anwar Zahid | Habib Luthfi bin Yahya |
| Nurul Aulia Sagita | Ustd. Oki Setiana Dewi | Najwa Shihab | Wirda Mansur | Cak Teguh | – |
| Zelda Isputri | Cak Lontong) | Merry Riana | Ustd. Oki Setiana Dewi | Handy Mahmud | Syekh Ali Jaber |
| Rinta Rizkiyah | Moh. Faizin | Raye Shabrina | Ust. Hanan Attaki | Najwa Shihab | Ust. Muhaimin |
| Abdul Qodir Jaelani | Wirda Mansur | Habib Syaikh Assegaf | Najwa Shihab | KH. Muchtar Jamil | KH. Baha’uddin Nur Salim |
| Akrima Wachidah | Najwa Shihab | Maudy Ayunda | Belva Devara | Sherly Annavita Rahmi | Ust. Abdul Shomad |
| Moh. Auliya Rizqy Akbar | Ustd. Oki Setiana Dewi | Ary Ginanjar Agustian | Najwa Shihab | Ernest Prakasa | Pandji Pragiwaksono |
| Dina Khasana Anshori | Cak Nun | KH. Abdurrahman Wahid | Najwa Shihab | Wirda Mansur | Jack Ma |
| Miftahul Jannah | KH. Anwar Zahid | Najwa Shihab | Pandji Pragiwaksono | Ir. Soekarno | Andy Flores Noya |
| Aisyah Nurcholifah | Najwa Shihab | Ria Ricis | Husain Basyaiban | Sherly Annavita Rahmi | Ust. Hanan Attaki |
| Achmad Afandy Khoiri | Quraish Shihab | Najwa Shihab | KH. Baha’uddin Nur Salim | Pandji Pragiwaksono | Zawawi Imron |
| Liofiani Dwi Nur Hidayati | Najwa Shihab | Merry Riana | Ustd. Oki Setiana Dewi | Krisnamurti | Nur Ali Hasan |
| Nailatus Sa’adah Maziyah | KH. Masbuhin Faqih | Maudy Ayunda | KH. Anwar Zahid | Najwa Shihab | Wirda Mansur |
| Rachmad Hidayat | Nabi Muhammad Saw. | Ust. Miftachul Munir | Ust. Abdul Jalil | Habaib/Ahbab | KH. Baha’uddin Nur Salim |
| Hanna Luthfi Laily | Ustd. Oki Setiana Dewi | Najwa Shihab | Ria Ricis | Wirda Mansur | Handy Bonny |
| Latifatul Fitriyah | Ust. Adi Hidayat | Sara Neyrhiza | Ust. Hanan Attaki | Ust. Felix Xiauw | Najwa Shihab |
| Miladi Aini Zahra | Buya Hamka | KH. Mustofa Bisri | KH. Hasyim Muzadi | Asma Nadia | Eric Nam |
| Lailatul Lutfiyah | Merry Riana | Najwa Shihab | Maudy Ayunda | Ustd. Oki Setiana Dewi | Cinta Laura |
| Shofiyatun Na’imah | Najwa Shihab | Cak Nun | Ustd. Oki Setiana Dewi | Merry Riana | Mario Teguh |
Tabel.1 Rekap Data Public Speaker Idola Mahasiswa
| No. | Nama Public Speaker | Total Suara |
| 1. | Najwa Shihab | 27 |
| 2. | Ustd. Oki Setiana Dewi | 15 |
| 3. | Muhammad Ainun Najib (Cak Nun) | 4 |
| 4. | B.J. Habibie | 1 |
| 5. | Habib Umar bin Hafidz | 1 |
| 6. | Ir. Lies Hartono (Cak Lontong) | 1 |
| 7. | Jerome Polin Sijabat | 1 |
| 8. | KH. Abdurrahman Wahid | 4 |
| 9. | KH. Anwar Zahid | 4 |
| 10. | KH. Asep Syaifuddin | 1 |
| 11. | KH. Masbuhin Faqih | 1 |
| 12. | KH. Muhammad Zaini | 1 |
| 13. | Kim Namjoon | 1 |
| 14. | Krisnamurti | 2 |
| 15. | Mamah Dedeh | 1 |
| 16. | Nabi Muhammad Saw. | 2 |
| 17. | Prof. Abdul Kadir Riyadi | 1 |
| 18. | Quraish Shihab | 1 |
| 19. | Ust. Adi Hidayat | 3 |
| 20. | Wirda Mansur | 5 |
| 21. | Ary Ginanjar Agustian | 2 |
| 22. | Ernest Prakasa | 3 |
| 23. | Habib Mundzir al-Musawa | 1 |
| 24. | Habib Syaikh Assegaf | 1 |
| 25. | KH. Baha’uddin Nur Salim | 5 |
| 26. | Maudy Ayunda | 4 |
| 27. | Merry Riana | 10 |
| 28. | Min Yoongi | 1 |
| 30. | Raye Shabrina | 1 |
| 31. | Ria Ricis | 2 |
| 32. | Sara Neyrhiza | 1 |
| 33. | Sudjiwo Tedjo | 1 |
| 34. | Ust. Hanan Attaki | 6 |
| 35. | Ust. Miftachul Munir | 1 |
| 36. | Ust. Nur Maulana | 2 |
| 37. | Yulia Baltschun | 1 |
| 38. | Belva Devara | 1 |
| 39. | Habib Idrus Alaydrus | 1 |
| 40. | Husain Basyaiban | 1 |
| 41. | KH. Abdurrahman al-Kautsar | 1 |
| 42. | Nessie Judge | 1 |
| 43. | Pandji Pragiwaksono | 3 |
| 44. | Prilly Latuconsina | 2 |
| 45. | Rocky Gerung | 1 |
| 46. | Tri Rismaharini | 1 |
| 47. | Ust. Abdul Jalil | 1 |
| 48. | Ust. Abdul Shomad | 2 |
| 49. | Zakir Naik | 1 |
| 50. | Buya Yahya | 1 |
| 51. | Cak Teguh | 1 |
| 52. | Emma Watson | 1 |
| 53. | Fahruddin Faiz | 2 |
| 54. | Habaib/Ahbab | 1 |
| 55. | Habib Rizieq bin Shihab | 1 |
| 56. | Handy Mahmud | 2 |
| 57. | Ir. Soekarno | 1 |
| 58. | KH. Muchtar Jamil | 1 |
| 59. | M. Najib Muhammad | 1 |
| 60. | Mulya Hany Safitri | 1 |
| 69. | Sheila Hasina | 1 |
| 70. | Sherly Annavita Rahmi | 2 |
| 71. | Tobias Justin | 1 |
| 72. | Ust. Felix Xiauw | 2 |
| 73. | Jack Ma | 1 |
| 74. | Susi Pudjiastuti | 1 |
| 75. | Cinta Laura | 3 |
| 76. | Moh. Faizin | 2 |
| 77. | Andy F. Noya | 2 |
| 78. | Buya Hamka | 2 |
| 79. | KH. Asfiyak Muhammad | 1 |
| 80. | Habib Muhammad bin Shihab | 1 |
| 81. | Syekh Ali Jaber | 1 |
| 82. | Habib Luthfi bin Yahya | 1 |
| 83. | Nur Ali Hasan | 1 |
| 84. | Fardi Yandi | 1 |
| 85. | Mario Teguh | 2 |
| 86. | Ust. Muhaimin | 1 |
| 87. | Zawawi Imron | 1 |
| 88. | KH. Mustofa Bisri | 1 |
| 89. | KH. Hasyim Muzadi | 1 |
| 90. | Asma Nadia | 1 |
| 91. | Eric Nam | 1 |
Tabel.2 Rekap Suara Public Speaker Idola Mahasiswa
[1] Heri Susilo, Lancar Berbicara: Practical Public Speaking With EFT (Emotional Freedom Techniques), (Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia, 2020, 1.
[2] U’um Qomariyah, Model Pembelajaran Apresiasi Prosa Berbasis Kisah Inspiratif Tokoh Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Mahasiswa, Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 2 No. 1, Universitas Negeri Semarang, Semarang: Maret 2018, 25.
[3] R. Oktaviani, F Rusdi, “Belajar Public Speaking Sebagai Komunikasi Yang Baik”, Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia, Volume 2 No 1 Tahun 2019: Untar, hal. 117-122.
[4] Dwiana Binti Yulianti, “Strategi Belajar Dalam Program Public Speaking Berdasarkan Gender”, Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, ISBN 2303-3800, Vol. 07, No. 02, Juli 2019: Universitas Muhammadiyah Ponorogo, hal. 46-608
[5] Amirullah Syarbani, Buku Panduan Guru Hebat Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2015), hal. 42-43
[6] Yuhdi Fahrimal dkk, Peningkatakan Public Speaking Skill Melalui Pendekatan POBC dan Mind Mapping Bagi Mahasiswa Universitas Teuku Umar, Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar, Vol 2, No 1 (Januari – Juni, 2020), 28.
[7] Petrus Tamelab dkk, Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa Dalam Kemampuan Public Speaking Di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang, Jurnal Seputar Penelitian Pendidikan Keagamaan, Vol. 2. No. 1. (Januari – Juni, 2021), 54.
[8] Adhi Kusumastuti, Ahmad Mustamil Khoiron, Metode Penelitian Kualitatif (Semarang: Lembaga Pendidikan Sukarno Pressindo, 2019), 6.
