PASTIKAN KESIAPAN PRODI KEAGAMAAN, DIREKTUR DIKTIS KEMENAG RI, KUNJUNGI UNUSIDA

Sidoarjo-menaramadinah.com-Bertempat di Ruang Pertemuaan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Kampus Lingkar Timur pada Jumat (21/5) berlangsung pembinaan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Prof. Dr. Suyitno, M. Ag. Mantan Direktur GTK itu didampingi A. Rafiq ZM dari Diktis sekaligus mewakili LPTNU dan Tholhah dari Kopertais Wilayah IV Jatim.

Dalam kesempatan itu, Prof. Suyitno menyampaikan, bahwa selama ini Nahdlatul Ulama dikenal cakap mengelola pesantren, tapi lemah dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Salah satu faktor penyebabnya adalah merasa memilikinya terlalu tinggi. Dengan berseloroh, jadinya banyak lembaga NU yang diakui sisi secara pribadi.

Lahirnya Universitas Nahdlatul Ulama merupakan upaya reformasi pendidikan di kalangan NU. “Ini adalah reformasi pendidikan di PBNU”, tuturnya.

Saat ini tantangan duna pendidikan lanjutnya, termasuk pendidikan tinggi adalah perkembangan tatatan secara kompleks. Sekularisasi keilmuwan antara agama dan umum menjadi isu penting hingga kini.

Hadirnya prodi keagamaan adalah dalam upaya menghindari disparitan antara ulumuddunya dan ulumuddiniyah.

Man aradaddunya itu Perguruan Tinggi umum. Man aradal akhirah itu pondok pesantren. “Nah, UNUSIDA itu (harus menjadi) man aradahuma”, tegasnya. Hingga saat ini, informasi dari tim pengajuan prodi keagamaan sudah tahap proses upload bukti fisik persyaratan yang tentu harus dikawal.

Selanjutnya, tata kelola prodi harus dikelola dengan Good University. Jika tidak dikelola dengan baik sama dengan menjerumuskan alumni ke jurang kesesatan. Dlallu wa adlalluh. Mereka bisa jadi beban masyarakat. Jika dilihat dari prodinya (Perbankan Syariah, PIAUD, PGMI), ini menjanjikan.

Karena itu perlu dilakukan branch marking kepada lembaga yang sudah berhasil. Dipastikan mereka sudah mendapatkan pekerjaan. Jangan sampai terjadi pembodohan publik, yaitu alumni tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Tantangan selanjutnya akhir-akhir ini pada konsep link and match dengan sasaran kerja. Secara fungsional pemilhan prodi memang harus sesuai pasar kerja. PGMI contohnya terjadi surplus guru. Di Jawa mungkin masih belum seberapa, tapi di luar Jawa banyak terjadi.

Ke depan perlu dipikirkan pendidikan guru dilanjutkan dengan pendidikan profesi agar tidak menjadi beban pemerintah. Menurutnya Pendidikan Profesi Guru telah menhadi beban tersendiri. Karena itu harapannya alumni direformulasi lngsung mendapat sertifikat profesi.

Sebelumnya dilaporkan rektor UNUSIDA Dr. H. Fatkul Anam, M.Pd tentang perkembangan Unusida, terutama berkaitan dengan progress report pendirian prodi keagamaan.

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah H. Maskhun, Sekretaris PCNU H. Suwarno, Ketua BPP H. Arli Fauzi, Wakil Ketua H. Zainul Arifin, Sekretaris BPP Dr. H. Sholehuddin, M, Pd.I, serta jajaran rektorat dan civitas akademika UNUSIDA. SHD