Sejarah Tradisi Pembagian Apem Yaa Qowiyyu di Jatinom-Klaten

Menara Madinah.com,Di Jatinom,Klaten ,Jawa Tengah ada sebuah acara unik,menarik, dan akbar yaitu pembagian berton-ton kue apem untuk ribuan masyarakat Klaten dan sekitarnya yang diselenggarakan tiap tanggal 15 bulan Safar.3eskipun lokasi acara tahunan tersebut berada di Desa Suran,Jatinom,namun pelaksanaannya dihandle oleh pemda setempat dan selalu dihadiri banyak pejabat dari tingkat daerah hingga tingkat pusat dengan menghadirkan menteri.


Tradisi budaya lokal yang kental dengan unsur religi ini telah berlangsung secara turun -temurun dan berabad-abad lamanya,mampu mendatangkan ribuan orang untuk datang ke Jatinom.Maka,masyarakat Klaten pada khususnya dan warga Jateng pada umumnya selalu menanti hajatan besar tersebut.
Lalu bagaimana awal mula dari kegiatan pembagian apem Yaa Qowiyyu?
Hal ini bermula saat Ki Ageng Gribig ,seorang tokoh panutan umat ,keturunan bangsawan Majapahit yang pulang dari Mekah guna menunaikan ibadah haji.Dari tanah suci,Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh kue untuk para santrinya.Tetapi kue yang didapatnya dari oleh-oleh haji rupanya tidak mencukupi untuk diberikan bagi semua santrinya.
Dengan kata lain,jumlah kue yang dibawa beliau dari Mekah lebih sedikit daripada jumlah santrinya.
Selanjutnya Ki Ageng Gribig yang merupakan putera dari Prabu Jolodoro/RM.Guntur dan cucu dari Prabu Brawijaya berpikir bagaimana caranya supaya semua santri bisa mendapat kue.
Al hasil,beliau yang disebut juga Sunan Gribig menyuruh istrinya untuk
membuat kue bernama apem yang bentuknya bundar,terbuat dari tepung beras,rasanya manis dan gurih.
Di daerah Madiun,Nganjuk dan wilayah sekitar, lazimnya orang-orang mencetak apem pada saat menyambut Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.
Sejak saat itu,para penduduk Jatinom membuat apem dalam jumlah besar ,lalu dibagikan untuk banyak orang.
Kini,lokasi pembagian apem terpusat di sekitar maqbaroh Ki Ageng Gribig.Ribuan apem dibagikan oleh para panitia dari tempat yang tinggi ,terdapat dua panggung permanen sebagai tempat untuk melempar kebawah berton-ton apem bagi ribuan massa yang berjubel disekitar titik lokasi acara sebaran apem.
Mengenai istilah apem Yaa Qowiyyu, itu adalah satu dari 99 bacaan Asmaul Husna yang bermakna”Wahai Yang Maha Kuat “, diambil dari do’a yang dibaca Ki Ageng Gribig sebelum membagi apem untuk para santrinya dan sampai sekarang masih dipakai sebelum pembagian apem di Jatinom.
Do’a lengkapnya adalah seperti berikut ini: ” Yaa qowiyyu,yaa azis,qowina wal muslimiin,yaa qowiyyu ,warzuqna wal muslimiin.
Esensi dari do’a diatas suatu permohonan kekuatan dan rizki bagi segenap kaum muslimin.
Menurut penulis,tradisi pembagian apem Yaa Qowiyyu adalah sebuah kearifan lokal yang memang harus diuri-uri,dilestarikan ,mengingat manfaatnya yang penting bagi banyak pihak.Diantaranya:
-Sebagai sarana untuk mengingat sejarah tentang kiprah Ki Ageng Gribig yang telah berdakwah di Jatinom dan sekitarnya.Seorang alim yang mengajarkan sikap dermawan dan akhlaq terpuji lainnya.
-Dapat mengangkat potensi wisata budaya dan religi yang merupakan kebanggaan Kabupaten Klaten hingga dikenal secara nasional.
-Ajang silaturahmi antara pemerintah daerah dan warganya,juga media silaturahmi antara sesama warga Klaten dan umumnya masyarakat Jawa Tengah
-Kue apem yang resepnya merupakan warisan nenek moyang tidak akan punah ditelan zaman,meskipun saat ini bermunculan kue-kue berbagai varian.
#Bro J# 8 April 2020.Malam Nisyfu ‘ Sya’ban 1441 H.
Source:Referensi Sejarah Islam from the library of menaramadinah.com.