
PETERNAK PERKUTUT INDONESIA
Antara Mimpi dan Ketidak Pastian
Makassar,MenaraMadinah.Com
Hobby itu mahal dan orang rela membayarnya. Sebagian kalangan berprinsip hoby harus diimbangi jiwa bisnis sehingga tidak rugi dan justru mendatangkan hoky.
Tiga faktor diatas, yakni antara hoby, bisnis dan hoky itulah yang selama ini hingga saat ini dialami para peternak burung Perkutut di tanah air.
Awalnya hoby mendengar suaranya, melihat bentuk fisik burungnya, mengikuti konkurs lomba seni suara dan meraih piala . Lama lama tertarik pada bisnisnya, menangkap peluang ekonominya. Apalagi mendengar ceritera legenda bahwa burung Perkutut adalah burung priyayi, piaraan para raja raja sejak Zaman Prabu Brawijaya IV Majapahit dahulu. Belum lagi mitos tentang Yoni dan misteri tentang Perkutut yang bisa berubah menjadi Ular dan Keris, menghilang dan sebagainya.
Yang paling menggiurkan dan ini banyak menghipnotis pikiran kebanyakan orang adalah harga Burung Perkutut bagus yang selangit.
Perkutut Juara Lomba Tingkat Nasional bisa dihargai Rp 100Juta sampai Rp 1 M . Bahkan zaman dulu sering kita dengar ada orang yang rela menukar seekor perkutut dengan Mobil Sedang baru. Burung sebesar genggaman tangan itu bisa setara nilainya dengan 10 ekor sapi dewasa. Amboy.
Mimpi untuk sukses menjadi kaya raya kini melanda para penghoby peternak perkutut tanah air. Seorang pemodal kuat, rela menggelontorkan dananya Ratusan juta hingga Milyard rupiah untuk membikin Ratusan Kandang dan Ratusan pasang indukannya.
Hitung saja 1 kandang plus sepasang perkutut indukan seharga Rp 10 Juta, kali 100 kandang maka dibutuhkan Rp 1 M untuk investasi awal.
3000 Peternak Perkutut.
Salah satu peternak perkutut di Semarang menuturkan, hingga saat ini jumlah penangkar atau peternak perkutut di Indonesia mencapai hampir 3000-an orang. Mereka terbagi dalam 3 kategori, peternak besar, sedang dan kecil. Peternak besar atau Breeding Bird Farm bisa mengelola 100- 300 kandang, peternak sedang 30-100 kandang, sedangkan peternak kecil 1 kandang hingga 20 kandang. Penggolongan kriteria ini sifatnya asumsi dan relatif. Data tersebut diatas dirangkum dari beberapa laporan informasi beberapa Media yang khusus meliput tentang Burung Perkutut dan Agrobisnis ditambah informasi tidak formal dari komunitas perkutut Indonesia yang tersebar di tanah air dan diunggah di media sosial.
Bisa dibayangkan andaikan saja 1000 peternak , masing- masing memiliki 100 pasang indukan , setiap bulannya menghasilkan sepasang anakan perkutut, maka dalam satu rate menghasilkan 1Juta pasang anakan perkutut.
Berapa Ratus juta Anakan Perkutut bakal dicetak dajam waktu setahun, dua tahun , tiga tahun dan seterusnya?. Negeri ini akan banjir bah burung perkutut .Kios dan pasar burung akan penuh sesak oleh Burung Perkutut hasil termakan para penangkar.
Runyamnya , teori ekonomi tak selamanya berlaku di dunia nyata. Dalam teori, siapa memiliki modal besar dia akan menguasai pasar. Siapa yang punya barang bagus akan mendapat profit yang bagus. Teori itu tak berlaku di dunia bisnis perkutut. Justru kenyataanya berbanding terbalik.
Banyak pebisnis dan peternak Perkutut yang bermodal besar, pusing kepala belum bisa kembali modal . Bahkan banyak yang gulung tikar karena tak mampu mengembalikan modal pinjaman dari bank. Selebihnya menunggu ketidak pastian pasar yang stagnan, akibat melubernya produksi, terbatasnya saya beli dan jumlah pembelian . Karena rata rata para penghoby punya pikiran yang sama, ingin juga berbisnis , menjadi peternak untuk bisa menjual kepada orang lain. Jeruk makan jeruk, istilahnya.
Anehnya, ternak burung perkutut tidak bisa disamakan dengan ternak ayam potong atau sapi kerbau kuda dan satwa lainnya. Perkutut dinilai dari suaranya. Dihargai dari kualitas bunyinya. Walau juga ada yang menilai dari pertimbangan jenis susuk kaki warna bulu dan body tubuhnya.
Sepasang indukan Perkutut yang bersuara bagus , belum tentu berjodoh. Jodoh belum tentu bertelur sehat. Bertelur belum tentu menetas. Menetas belum tentu hidup. Hidup belum tentu baik kualitasnya. Intinya tak semudah membalik telapak tangan. Peternak sering terjebak disini. Indukan seharga Puluhan Juta rupiah, belum tentu menghasilkan anakan bagus. Bisa bisa hanya laku kisaran harga Rp 200ribu – Rp 500rb.
Bahkan yang bernasib kurang mujur karena suaranya biasa biasa saja, tidak laku dijual seperti harapan awal dan masuk kategori amprahan atau ombyokan dijual murah.
Peternak Perkutut & Bisnis Mimpi.
Beternak perkutut ibarat bisnis mimpi. Hal ini dirasakan oleh banyak peternak lama. Sedangkan peternak baru, pemula biasanya masih berambisi, berobsesi besar dan belum menyadari bahwa bisnis perkutut adalah bisnis mimpi.
Peternak baru berusaha mencari Bibit indukan bagus , walau harus membeli dengan harga tinggi.
Peternak lama ( pemodal besar) tau kesempatan itu, mereka lihai memainkan situasi, melepaskan indukan indukan produktif dari kandangnya. Tentu para peternak kuat tidak akan melepas begitu saja indukan indukan istimewa simpanannya. Yang dilepas tetap yang tersortir ketat terbatas kualitas suaranya, hanya mengandalkan Lebel kartu Bird Farm dan Ring kakinya. Mereka istilahnya menjual Trah atau darah, tidak menjual suara.
Kondisi persaingan ketat ini yang membuat parah nasib peternak Perkutut di Indonesia. Ada kesenjangan kesempatan bagi peternak kecil, peternak pemula. Keterbatasan modal membuat sulit mendapat bibit bersuara unggul . Yang kuat menginjak yang lemah , pemodal besar menguasai pasar .Pemodal kecil susah payah mencari pasar. Maka beberapa peternak pemula ada yang berani berinovasi, membeli indukan berkualitas, walau hanya mengelola beberapa petak kandang saja. Tak perlu banyak yang penting berkualitas, prinsipnya.
Ternak Perkutut BerSyariah?
Ada seorang peternak dan pebisnis Perkutut di Semarang yang konsen, hirau sekaligus risau hatinya melihat lintang pukang, terombang ambingnya nasib peternak perkutut di tanah air. Lorong gelap bisnis perkutut yang melanda negeri ini harus segera dicerahkan. Nasib peternak pemula khususnya , harus dibangkitkan. Dengan managemen ternak yang terstruktur, terstandar, perbaiki neraca cash flow , benahi sistem kerja, mekanisme dan teknologi Breeding nya.
Yang tak kalah penting adalah sistem bisnisnya. Harus dirobah total. Dari bisnis mimpi menjadi realita. Dari angan angan besar, menjadi terukur dan sadar. Dari sistem kapitalis menjadi bisnis sosial religius , kebersamaan. Dari bisnis egosentris menjadi bisnis kerakyatan, bisnis sosial . Tanpa ada saling menginjak saling menekan saling memakan. Konsep ini disebut sebagai Ternak Perkutut BerSyariah.
Bagaimana prakteknya Ternak Perkutut BerSyariah?
Dicontohkan, misalnya antara peternak besar ( pemodal kuat) dan peternak pemula. Keduanya sepakat menjalin kemitraan . Sepasang indukan perkutut berkualitas, misalnya bernilai Rp 2 Juta, peternak pemula hanya membayar Rp 500ribu saja dulu. Kekurangannya sebesar Rp 1.500.000 menjadi catatan penting yang dikunci bersama, tidak naik tidak turun. Jika indukan tersebut nantinya menghasilkan anakan anakan yang bagus , maka ada solusi yakni Anakan dipiara secara bagi hasil , atau dijual hasilnya dibagi dua antara pemodal dan penerima modal. Sedangkan dana Rp 1,5 juta kekurangannya dulu, bisa dibayarkan oleh peternak pemula tadi , karena yakin hasil termakannya bagus.
Intinya saling membantu, bagi hasil tidak ada yang dirugikan.
Tidak hanya disitu, soal resiko kematian burung indukan , terbang atau lepaspun dibicarakan bersama. Berdasarkan kejujuran, niat baik dan keikhlasan maka semua bisa diatasi . Dan yang penting , jangan beternak perkutut secara emosional. Beternaklahv dengan perhitungan, sesuai kemampuan, jangan dipaksakan apalagi sampai berhutang di bank. Tidak menjadi peluang , malah membikin pusing kepala karena faktanya bisnis perkutut tidak bisa dipastikan kapan balik modalnya.
Perputaran perkutut harus terkontrol, caranya dibatasi jumlah kandang tak perlu banyak sampai ratusan kandang . Karena semakin banyak kandang, stmakin butuh banyak modal, modal awal indukan maupun pemeliharaan .
Ternak perkutut buksnntwtnak ayam. Perkutut dilihat didengar dinilai dari Kualitas Suaranya. Tidak serta-merta burung perkutut bagus menurunkan anakan yang yang bagus. Bahkan kebanyakan sebaliknya. Namun bukan berarti burung jelek menghasilkan anakan bagus. Ini lebih mustahil. Kalo toh ada adalah keajaiban dunia.
Teknik breeding, pengelolaan teknologi dan sistem perjodohan indukan perkutut harus dikelola lebih baik lagi. Sehingga kejayaan kualitas suara perkutut dapat dihasilkan. Tidak hanya mengimport dari Bangkok Thailand. Padahal aslinya, sesuai rujukan sejarah masa lampau, Perkutut adakah burung asli endemik Nusantara.
Nara Sumber:
Nanang Teratai BF Bird Farm Semarang,
Pelopor Peternak Perkutut BerSyariah
Penggagas Kios Perkutut Rakyat ( KPR)
Wawancara By Phone: 18/2/2020
( Samsul Hadi/MenaraMadinah.Com)
