Surapati : Tugas Media Branding

Kemarin mas Surapati salah satu narasumber buku Alumni Inspiratif menjawab pertanyaan (daftar interview) melalui WA. Berikut  ini  Laporan Singgih Sutoyo

Ada beberapa pertanyaan dia jawab singkat-singkat. Selebihnya cerita tentang dirinya masa lalu saat kuliah dan lepas kuliah, aktivitas kerja dan kegiatan sosialnya. Bentuk tulisannya sangat santai bahkan asal menjawab sekenanya dari sisi tata bahasa. Melenkapi CV singkat dan pose foto-foto. Diabilang aku gak bisa nulis bro, wkwkwkwk.
Saya menjawabnya no problem, udah cukup mas”, jawab saya.
Ada beberapa narasumber buku Alumni Kauje yang menolak untuk ditampilkan dalam buku. Alasannya yang dia sampaikan adalah belum pantas, belum berprestasi, belum menjadi orang hebat dan sejumlah alasan lainnya yang kita sebetulnya gak paham. Padahal nama-nama yang dimunculkan menjadi narasumber bukan asal-asalan. Mereka adalah nama-nama terpilih karena memiiki kapasitas yang diharapkan menjadi inspirasi banyak orang. Termasuk melalui tim seleksi dengan beberapa kriteria.
Ada istilah media branding, yakni tugas media untuk berfungi melakukan personal branding. Para narasumber buku, sebetulnya memiliki banyak kelebihan dalam banyak hal yang terkait pekerjaan, profesi, karya, pandangan, ide, gagasan. Semunaya itu perlu orang lain tahu. Salah satunya melalui media, salah satu media branding adalah masuk dalam buku Alumni Inspiratif. Tugas media branding untuk melakukan personal branding yang bersangkutan menjadi lebih terjangkau komunitas dan masyarakat luas. Tugas media branding adalah menulis dari hal-hal yang biasa menjadi hal yang menarik dan luar biasa. Memberikan ruang yang lebih luas bagi pembaca.
Bagi jurnalis yang memiliki cukup panjang jam terbang sudah memilki kepekaan tidak hanya dalam menentukan kriteria kepantasan seorang figur untuk layak menjadi narasumber sesuai kriteria , tapi seorang jurnalis juga memilki insting kuat apakah narasumber ini memilki kekuatan berita yang menarik atau tidak. Tugas jurnalis adalah menemukan hal-hal yang menarik meski mungkin masih tersembunyi. Dari mana? Salah satunya dari hasil interview. Selain sumber data lain, misalnya CV.
Ada beberapa pertanyaan (daftar interview) yang kami sodorkan untuk menajadi bahan buku dari profiling para narasumber. Ini adalah salah satu teknis mendapatkan data sumber berita/profiling melalui interview tertulis dengann alasan lebih praktis dan efisien. Sebetulnya kami bisa melakukan interview langsung, tapi perlu waktu khusus untuk bertemu. Sangat sulit untuk mencari kesepakatan waktu. Di dunia jurnalistik teknis interview langsung menjadi sangat andalan karena memiliki banyak kelebihan, diantaranya lebih mendalam mendapatkan bahan yang dibutuhkan, selain ada ha-hal yang dianggap menarik saat wawancara berlangsung. Hal yang menarik ini biasanya menjadi fokus wawancara untuk mengejar lebih mendalam.
Menjawab daftar interview adalah hal yang mudah. Karena terkait dengan apa yang ada pada diri narasumber. Tidak perlu apakah narasumber bisa menulis bagus atau tidak. Tugas utaamnya hanyalah memberikan jawaban atas pertanyaan. Sedangkan untuk menulis bagus adalah tugas media branding (jurnalis/penulis). Narasumber dapat menjawab sambil minum kopi atau tiduran sambil pegang hp tak beda dengan menulis komen-komen di medsos IG, FB atau WA. Untuk menambah data lebih lengkap maka sangat baik kalau disertakan curriculum vitae (CV) dan foto-foto pose yang menarik.
Sedangkan teknis menulis narasi naskah profiling adalah teknis yang paling mudah dan sederhana bagi jurnalis. Format penulisan yang paling sederhana dan gampang dibandingkan dengan narasi berita hard news atau yang lain seperti laporan utama, features, gaya penulisa novel, prosa liris dan sejenisnya. Sebab penulisan profiling tidak banyak mengandung unsur problematik dan terikat kaidah-kaidah jurnalistik.