Perbedaan antar Ormas Islam bisa dibesar-besarkan, bisa dikecilkan, bisa dihilangkan

 

Oleh : Firman Syah Ali

Sejarah mencatat bahwa persamaan dan perbedaan antar Ormas Islam di Indonesia bisa dicari-cari sesuai dengan kepentingan politik. Kalau kepentingan politiknya tidak ketemu maka dibesar-besarkanlah perbedaan, kalau kepentingan politiknya ketemu maka dihapuslah semua perbedaan, kemudian persamaan yang dibesar-besarkan.

Terkini kita melihat Ormas NU yang selama ini selalu mengekspresikan perbedaan dengan Ormas FPI tau-tau menikung ke kanan mengekspresikan kesamaan-kesamaannya dengan Ormas FPI. Ini pasti karena frekuensi sedang sama. Namun hingga tulisan ini diunggah ke media, rasanya kok belum ada tanggapan dari pihak FPI, terutama dari Imam Besar Habib Rizieq Shihab, yang menyatakan bahwa FPI sangat banyak persamaan dengan NU. Padahal kalau HRS mau respon, dua kekuatan Aswaja Asy’ariyah Maturudiyah akan membentuk sebuah barisan besar, apalagi jika eks HTI dan lain-lainnya ikut bergabung. hahaha.

Orang yang tumbuh dalam budaya literasi tinggi, tentu paham akan semua perubahan ini dan tidak akan kaget. Dan memang tidak ada kata “kaget” dalam kamus kehidupan kaum literer. Sedangkan orang yang tumbuh dalam dalam budaya literasi rendah tentu saja kaget. Itu wajar. Namanya juga males baca buku.

Kaum pesantren termasuk kaum yang tumbuh dalam budaya literasi tinggi terutama literasi teks-teks klasik islam, mereka juga tidak akan kaget, tugas mereka sederhana sekali, tinggal manut Kyai, ora usah neko-neko. Kyai begini mereka begini, kyai begitu merekapun begitu.

Jadi marilah kita yang terbisa hidup dalam budaya literasi tinggi segera menyadarkan kaum literasi rendah yang saat ini masih terkaget-kaget dan sering ngegas dan mbleyer di medsos.

Sadarlah wahai manusia, NU itu memang bisa ke kanan dan ke kiri, bisa juga di tengah dengan aduhai, karena semua ada landasan usul fiqhnya. Tapi sesungguhnya ormas-ormas islam itu memang berbeda dalam persamaan, dan sama dalam perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika. Kadang rukun kadang rebutan, wajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *