
Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
SEJARAH BESAR SEPAK BOLA INDONESIA, kembali ditulis oleh Persib Bandung. Keberhasilan meraih gelar juara tiga musim berturut-turut bukan sekadar keberhasilan teknis semata, melainkan bukti kekuatan stabilitas, loyalitas, dan manajemen klub yang matang.
Di balik trofi Super League 2025/2026 ini, ada satu fakta menarik yang menjadi pondasi kekuatan tersebut: adanya tujuh pemain yang menjadi saksi hidup dan aktor utama dari tiga periode kejayaan Maung Bandung.
Mereka adalah Achmad Jufriyanto, Dedi Kusnandar, Beckham Putra, Marc Klok, Teja Paku Alam, Kakang Rudianto, dan Robi Darwis.
Kehadiran ketujuh nama ini adalah jawaban dari masalah klasik sepak bola kita: pergantian pemain yang terlalu cepat dan hilangnya identitas tim. Achmad Jufriyanto misalnya, di usia 39 tahun dan berstatus player-coach, menjadi simbol keberlanjutan sejarah. Ia satu-satunya pemegang empat gelar juara, menjembatani kejayaan masa lalu dengan masa kini.
Begitu pula Beckham Putra, bukti bahwa menjaga produk asli akademi justru melahirkan pemain yang tak tergantikan, bahkan di tengah kerumunan pemain asing bintang.
Sementara Marc Klok, mencatatkan namanya sebagai kapten legendaris yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah kompetisi kita. Stabilitas inilah yang membuat mentalitas juara tumbuh subur di skuad Persib.
Namun, di balik euforia Persib, kita juga harus memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada sosok yang menjadi penantang paling gigih dalam dua musim terakhir: Borneo FC.
Kisah Pesut Etam ini adalah apa yang saya sebut sebagai tragedi indah. Indah karena mereka mampu membangun kekuatan yang sangat konsisten, namun tragis karena takdir selalu berkata lain di detik terakhir penentuan juara.
Ada pola menarik dari kegagalan Borneo FC merebut gelar. Pada musim 2023/2024, mereka adalah penguasa musim reguler namun tersandung sistem babak gugur. Musim 2025/2026, mereka mengoleksi poin sama dengan Persib (79 poin), namun kalah karena regulasi pertemuan langsung atau head to head.
Ini bukan kegagalan karena kualitas, melainkan kegagalan karena nasib dan aturan main.Namun, di situlah letak pentingnya perjalanan Borneo FC. Dua kali menjadi juara kedua dengan cara yang menyakitkan sebenarnya adalah tanda bahwa fondasi mereka sudah sekuat karang.
Mereka bukan lagi tim yang datang dan pergi, melainkan kekuatan besar yang kini menjadi tolak ukur kualitas di Liga Indonesia. Jika Persib belajar bahwa stabilitas tim melahirkan kemenangan, maka Borneo FC belajar bahwa konsistensi yang luar biasa akan segera berbuah manis, asalkan kesabaran tetap dijaga.
Persib kini menikmati puncak kejayaannya berkat kesetiaan para pemain kuncinya. Di sisi lain, Borneo FC sedang membangun istana kesuksesan melalui kerja keras yang nyaris sempurna.
Hattrick juara Persib adalah sejarah emas, namun perjalanan Borneo FC adalah kisah inspiratif tentang bagaimana menjadi kekuatan raksasa meski belum mengangkat trofi.
Bagi saya, keduanya sama-sama pemenang di mata sejarah sepak bola Indonesia.*Wallahu A’lam Bisshawab*
