
BLITAR — Adab makan dan minum dalam Islam merupakan bagian dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya mengatur tata krama, tetapi juga mengandung hikmah besar bagi kesehatan dan keberkahan hidup. KH Syaikhuddin Rohman SH, MH, atau yang akrab disapa Kiai Cikut, mantan Ketua MUI Kabupaten Blitar, menjelaskan pentingnya penerapan adab ini secara konsisten dalam acara Khataman Kajian kitab Ta’limul Muta’alim dan buka bersama di Masjid Al Musthofa Bakung, Udanawu, Blitar,Kamis 12/3 2026.
Artikel ini menguraikan dan membahas berbagai sunnah makan dan minum yang dapat diamalkan sehari-hari, dilengkapi dengan contoh nyata dari figur atlet Indonesia yang secara disiplin menjaga adab makan dan minum sesuai tuntunan Nabi.
Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas dalam hidup, termasuk makan dan minum, seharusnya diawali dan diakhiri dengan doa serta dilakukan dengan penuh kesadaran spiritual. “Salah satu adab paling dasar adalah mengucapkan Bismillah sebelum makan dan minum,” ujar Kiai Syaikhuddin Rohman.
Rasulullah SAW bersabda: lanjut salah satu pengasuh Pesantren Al Mahmud Bacem,Ponggok,Blitar.
“Sebutlah nama Allah, maka makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari bagian yang terdekat darimu.” (HR. Muslim dan Ahmad),” sitirnya.
Mengucap Bismillah menandakan bahwa segala rezeki adalah anugerah Allah dan sekaligus mengusir setan agar tidak ikut menikmati santapan kita. Dengan demikian, makan dan minum menjadi tindakan ibadah penuh berkah.
Selanjutnya, Rasulullah SAW menyerukan agar umatnya makan dan minum menggunakan tangan kanan. Beliau bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum, minumlah dengan tangan kanannya.” (HR. Muslim)
Tangan kanan dianggap lebih mulia dan bersih, sehingga mengikuti sunnah ini menjadi wujud penghormatan pada tubuh dan ajaran agama.” Selain itu, makan dengan tangan kanan menjaga kita dari tindakan tidak sopan sekaligus merupakan tanda ketaatan langsung kepada Rasulullah sehingga setiap tindakan menjadi ibadah,” kata mantan Ketua DPRD Kabupaten Blitar ini.
Adab berikutnya yang sangat penting adalah menjaga porsi makan agar tidak berlebihan. Nabi Muhammad SAW memberi petunjuk bijak dengan membagi isi perut menjadi tiga bagian:
“Ukurlah perutmu, bagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.” (HR. al-Tirmidzi)
Imam al-Ghazali menegaskan bahwa makan berlebih dapat menimbulkan berbagai penyakit dan menghambat ibadah. “Sikap sederhana dalam makan sejalan dengan nilai Islam yang mengajarkan keseimbangan dan rasa syukur,” kata Kiai Cikut.
Tidak kalah penting, sunnah makan dengan duduk dan tidak tergesa-gesa sangat dianjurkan Rasulullah. “Sikap ini bukan semata sopan santun, tetapi juga menyehatkan pencernaan dan memberi kesempatan hati menghayati nikmat Allah,” ungkap Kiai Cikut.
Selain itu, ada hadits yang sangat unik terkait lalat, yang menunjukkan kedalaman ilmu kenabian:
“Jika lalat jatuh di dalam bejana salah satu di antara kalian, celupkanlah seluruhnya, karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap yang lain ada obat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kiai Cikut menjelaskan bahwa hadits ini mengandung makna fiqih yang membolehkan air tidak menjadi najis jika lalat mati di dalamnya, serta pengertian medis bahwa zat beracun pada satu sayap lalat dinetralisasi oleh zat penawarnya pada sayap yang lain. Ini menunjukkan betapa rasional dan ilmiah ilmu kesehatan dalam syariat Islam.
Di samping itu, ada satu adab yang sering terlupakan namun sangat dianjurkan, yaitu tidak makan dan minum sambil berdiri. Walaupun hukumnya makruh, bukan haram, perbuatan ini adalah sesuatu yang Allah SWT tidak sukai. Hal ini juga diamalkan oleh banyak tokoh olahraga dan figur publik di Indonesia yang disiplin menjaga adab makan dengan duduk sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan pada sunnah Rasul. Contohnya adalah Megawati “Megatron”, atlet voli putri terbaik Indonesia, dan Rizky Ridho, pemain sepak bola Timnas Indonesia. Mereka secara konsisten menjaga pola makan yang sehat sesuai ajaran Nabi, termasuk makan dan minum dalam posisi duduk dengan sopan.
Mengakhiri makan pun diajarkan dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai bentuk syukur. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang mengucapkan Alhamdulillah setelah makan akan mendapatkan pengampunan dari dosa.
Penutup dan Motivasi
Adab makan dan minum yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tidak hanya membuat hidup kita lebih sehat dan penuh berkah, tetapi juga mengajarkan kita keikhlasan dan rasa syukur dalam setiap aktivitas. Mari kita jadikan sunnah-sunnah ini sebagai bagian dari keseharian, baik untuk kesehatan jasmani maupun pendewasaan spiritual. Dengan disiplin mengikuti ajaran ini, insya Allah hidup kita menjadi lebih harmonis dan diridhai Allah SWT, pungkas Kiai Cikut.
Sebelum ceramah, acara diisi dengan penyerahan sertifikat dan buku ringkasan hasil kajian kitab Ta’limul Muta’alim yang ditulis oleh Takmir Masjid Al Musthofa. Usai acara buka bersama, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah. Setelah jeda, dilanjutkan dengan salat Isya’ dan salat tarwih. Acara ditutup dengan Tahlil Maleman ke-23.
“Terus nanti malam dilanjut salat Lailatul Qadar,” ujar Ustadz Imam Makrus.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa menjaga adab dalam setiap langkah, khususnya dalam makan dan minum. Berikanlah kami keberkahan, kesehatan, dan ridha-Mu. Aamiin.*Imam Kusnin Ahmad*
