
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Peradaban manusia berdiri di atas dua pilihan besar: membangun dengan adab atau menghancurkan dengan kebiadaban. Dalam setiap konflik, manusia diuji apakah ia memilih jalan perdamaian yang bermartabat atau jalan perang yang sering kali mengabaikan nilai kemanusiaan.
ADAB PERDAMAIAN: KEKUATAN YANG BERMARTABAT
Perdamaian bukanlah kelemahan. Ia justru puncak kedewasaan moral dan spiritual. Adab perdamaian menuntut kesabaran, keadilan, kemampuan mendengar, dan keberanian untuk menahan ego.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, yakni sebuah momentum ketika Rasulullah ﷺ memilih jalur diplomasi meskipun secara lahiriah tampak merugikan. Namun justru dari keputusan yang penuh adab itulah lahir stabilitas dan pembukaan jalan dakwah yang lebih luas.
Adab perdamaian memiliki beberapa prinsip utama:
1. Menjaga martabat manusia, bahkan terhadap lawan.
2. Mengutamakan dialog sebelum konfrontasi.
3. Menyelesaikan akar masalah, bukan sekadar gejalanya.
4. Menghindari dendam dan balas sakit hati.
Perdamaian yang beradab membangun ruang kolaborasi, memulihkan luka sosial, dan menumbuhkan generasi yang sehat secara psikologis. Sungguh konsep ini yang diperlukan untuk membangun perdamaian yang menentramkan.
BIADAB PERANG: KETIKA NILAI DITINGGALKAN
Sebaliknya, perang sering kali membuka pintu pada kebiadaban. Ketika amarah dan ambisi menguasai, batas etika mudah dilanggar. Sipil menjadi korban, infrastruktur hancur, dan kebencian diwariskan lintas generasi.
Sejarah dunia modern menyaksikan kehancuran besar dalam Perang Dunia II, ketika teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan justru berubah menjadi alat pemusnah massal. Di titik itu, perang bukan lagi sekadar konflik bersenjata, tetapi kegagalan moral umat manusia.
Biadab perang terlihat ketika:
1. Nyawa manusia dianggap angka statistik.
2. Kebohongan digunakan untuk membenarkan kekerasan.
3. Dendam dipelihara sebagai ideologi.
4. Kepentingan politik mengalahkan nilai kemanusiaan.
Perang mungkin dimenangkan secara militer, tetapi hampir selalu kalah secara moral.
Perspektif Spiritual:
1. Kemenangan yang Hakiki
Dalam ajaran Islam, perang bukanlah tujuan, melainkan opsi terakhir dengan syarat dan etika yang sangat ketat. Bahkan dalam kondisi konflik sekalipun, Islam melarang pengkhianatan, pembunuhan non-kombatan, dan perusakan yang tidak perlu.
2. Kemenangan sejati bukanlah menguasai wilayah, melainkan menguasai diri. Ia adalah kemenangan atas ego, amarah, dan keserakahan.
Inilah esensi adab yang membedakan manusia berperadaban dari manusia yang dikuasai insting destruktif.
PERDAMAIAN SEBAGAI INVESTASI PERADABAN
Perdamaian membuka ruang bagi ilmu pengetahuan, ekonomi, dan budaya untuk berkembang. Kota-kota besar dalam sejarah berkembang bukan karena terus-menerus berperang, tetapi karena stabilitas yang memungkinkan kreativitas tumbuh.
Sebaliknya, wilayah yang lama berada dalam konflik cenderung tertinggal dalam pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
PENUTUP
Adab perdamaian adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Biadab perang adalah jalan cepat yang penuh kehancuran.
Kita boleh berbeda, tetapi tidak harus saling memusnahkan. Kita boleh tegas, tetapi tetap dalam koridor keadilan.
Semoga kita termasuk golongan yang menjadikan adab sebagai fondasi setiap keputusan, dan menjadikan perdamaian sebagai pilihan utama dalam membangun masa depan. Semoga bisa demikian aamiin.
Wallahu a‘lam bish-showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
15 Romadlon 1447
atau
04 Februari 2026
m.mustain
