بسم الله *Menang Perang Menyimpan Dendam Tentram Dalam Keadilan Tanpa Iri dan Dengki*

 

Prof. Mahmud Mustain

(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

 

 

MUQODDIMAH

 

Kemenangan sering dirayakan sebagai simbol kejayaan. Dalam peperangan, kemenangan dipandang sebagai akhir dari konflik. Namun dalam realitas sejarah dan kehidupan manusia, kemenangan tidak selalu identik dengan kedamaian. Tidak sedikit kemenangan yang justru menyisakan luka, menyimpan dendam, dan melahirkan konflik baru di masa depan.

Islam mengajarkan bahwa tujuan akhir bukan sekadar menang, tetapi menghadirkan ketenteraman dan keadilan (Modified AI, 2026).

 

FONDASI BERBUAT ADIL

 

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8 agar kebencian kepada suatu kaum tidak mendorong seseorang untuk berlaku tidak adil. QS. Al-Maidah (5: 8) memberikan dengan rinci. Ayat ini menjadi fondasi bahwa keadilan harus berdiri di atas prinsip, bukan emosi. Ayat tersebut adalah:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlakulah adil, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Tafsir ayat ini menjelaskan tentang pentingnya berlaku adil dan menegakkan kebenaran dalam Islam. Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin untuk menjadi saksi dengan adil dan tidak membiarkan kebencian atau kesukaan mempengaruhi keputusan mereka. Berlakulah adil, karena itu lebih dekat kepada taqwa dan akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Penjelasan lebih lanjut ayat ini adalah menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya keadilan dan kebenaran.

 

KEMENANGAN YANG MENYIMPAN BARA

 

Sejarah dunia menunjukkan bahwa kemenangan yang dibangun di atas dendam hanya menunda ledakan berikutnya. Setelah Perang Dunia I, kebijakan yang sarat tekanan dan balas dendam terhadap pihak yang kalah menjadi salah satu faktor yang memicu lahirnya Perang Dunia II. Dendam yang tidak diselesaikan berubah menjadi kebencian kolektif.

Dalam lingkup pribadi, hal yang sama terjadi. Seseorang mungkin menang dalam perdebatan, persaingan, atau konflik sosial. Namun jika hatinya masih menyimpan iri dan dengki, maka ketenangan tidak pernah hadir. Ia menang secara lahiriah, tetapi kalah secara bathiniah.

 

TELADAN KEMENANGAN YANG TENTRAM

 

Peristiwa Fathu Makkah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW menjadi contoh monumental. Setelah bertahun-tahun mengalami penindasan dan peperangan, beliau memasuki Makkah dalam keadaan menang. Secara logika duniawi, saat itu adalah momentum pembalasan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: beliau memberikan amnesti umum dan tidak menumpahkan balas dendam.

Inilah kemenangan yang tentram. Kemenangan yang menghadirkan keamanan, bukan ketakutan. Kemenangan yang menenangkan, bukan mengancam. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada kemampuan menghancurkan, melainkan pada kemampuan menahan diri.

 

TENTRAM DALAM KEADILAN

 

Keadilan yang sejati lahir dari hati yang bersih. Orang yang hatinya bebas dari iri dan dengki mampu melihat persoalan secara objektif. Ia tidak menilai berdasarkan rasa suka atau benci, melainkan berdasarkan kebenaran dan hak.

Iri dan dengki adalah penyakit hati yang merusak integritas. Dalam dunia akademik, politik, bahkan dakwah, keduanya dapat menghancurkan nilai keadilan. Ketika keberhasilan orang lain memicu kecemburuan, maka keputusan menjadi bias dan tidak lagi jernih.

Sebaliknya, ketika hati bersih, keadilan ditegakkan dengan tenang. Tidak ada keinginan untuk menjatuhkan. Tidak ada hasrat mempermalukan. Yang ada hanyalah komitmen pada kebenaran.

 

MENGALAHKAN EGO, MEMENANGKAN PERADABAN

 

Peradaban besar tidak dibangun di atas dendam berkepanjangan, tetapi di atas rekonsiliasi dan keadilan. Mengalahkan musuh mungkin membutuhkan kekuatan fisik dan strategi. Namun mengalahkan ego membutuhkan kematangan spiritual.

Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu memaafkan tanpa kehilangan prinsip, dan menegakkan keadilan tanpa menyimpan kebencian. Dari sinilah lahir masyarakat yang tentram—bukan karena tidak pernah berkonflik, tetapi karena mampu menyelesaikan konflik tanpa mewariskan dendam.

 

PENUTUP

 

Menang perang bukanlah tujuan akhir. Tujuan sejati adalah menghadirkan ketenteraman dan keadilan. Kemenangan yang menyimpan dendam hanya memperpanjang siklus permusuhan. Namun kemenangan yang disertai kebersihan hati, bebas dari iri dan dengki, akan melahirkan kedamaian yang hakiki.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bukan hanya mampu menang, tetapi juga mampu tentram dalam keadilan. Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri. Semoga bisa mengutamakan demikian.

 

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

 

Mekkah,

15 Romadlon 1447

atau

04 Februari 2026

m.mustain