
Oleh : H. Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
LEDAKAN DAHSYAT mengguncang ibu kota Iran, Teheran, serta sejumlah wilayah lainnya pada Sabtu (28/2/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer gabungan yang melibatkan serangan udara dan laut.
Peristiwa ini menjadi titik balik yang menandai eskalasi konflik yang sangat tajam, terjadi tepat di tengah proses negosiasi sensitif terkait program nuklir Iran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sebuah tindakan yang tidak hanya mengganggu upaya damai, tetapi juga menunjukkan sikap arogansi kedua negara tersebut terhadap kedaulatan Iran serta stabilitas kawasan secara keseluruhan.
*Serangan yang Melanggar Hukum dan Etika*
Serangan militer yang dilakukan tanpa mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB jelas merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, terutama terkait penghormatan terhadap kedaulatan dan kesatuan wilayah negara lain.
Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi bertujuan “menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran”, dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengklaim serangan dilakukan untuk “menghapus ancaman terhadap Negara Israel”, argumen ini sulit diterima secara penuh.
Berdasarkan laporan sebelumnya, pada tahun 2025 Israel telah melakukan serangan terhadap Iran dengan alasan serupa. Namun, hingga saat ini belum ada bukti konklusif yang menunjukkan bahwa Iran siap menggunakan senjata nuklir atau akan segera melancarkan serangan terhadap negara lain. .
Bahkan, serangan terbaru terjadi di tengah negosiasi, yang menunjukkan bahwa kedua negara tersebut lebih memilih jalan kekerasan daripada solusi damai melalui diplomasi.
Serangan tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material yang tidak sedikit. Beberapa wilayah padat penduduk di Teheran, seperti University Street dan kawasan Jomhouri, menjadi sasaran, dengan asap tebal terlihat membumbung di langit ibu kota.
Media Iran juga melaporkan serangan di Provinsi Ilam dan kawasan dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah dipindahkan ke lokasi aman. Gangguan komunikasi seluler di sejumlah kawasan membuat situasi semakin sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi akurat, melanggar prinsip-prinsip hukum perang yang mengharuskan perlindungan terhadap warga sipil.
*Motivasi yang Tidak Sederhana*
Di balik klaim tentang ancaman nuklir, terdapat sejumlah motivasi lain yang mungkin menjadi dasar serangan AS dan Israel. Bagi AS, dominasi di kawasan Timur Tengah telah lama menjadi tujuan strategisnya, dengan kontrol sumber daya energi dan stabilitas kawasan sebagai faktor penting.
Iran, sebagai negara dengan kekuatan militer dan pengaruh politik yang signifikan, sering dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan AS.
Selain itu, dukungan AS terhadap Israel merupakan pilar utama kebijakan luar negerinya, dan serangan terhadap Iran dapat dianggap sebagai bentuk dukungan politik dan militer terhadap sekutunya.
Bagi Israel, persaingan dengan Iran untuk pengaruh di kawasan telah berlangsung selama bertahun-tahun. Iran telah lama mendukung kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman oleh Israel, seperti Hamas dan Hezbollah.
Program nuklir Iran juga dianggap sebagai ancaman eksistensial, terutama karena Iran telah beberapa kali menyatakan bahwa Israel harus dihilangkan dari peta dunia. Namun, tindakan serangan ini tidak hanya tidak menyelesaikan masalah, tetapi juga berpotensi memperparah konflik dan meningkatkan risiko perang skala lebih besar.
*Dampak yang Mengkhawatirkan*
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran memiliki dampak luas dan mengkhawatirkan. Pertama, konflik ini berpotensi memperluas dan melibatkan negara-negara lain di kawasan, terutama yang memiliki hubungan erat dengan Iran atau Israel.
Hal ini dapat menyebabkan perang regional yang akan memiliki konsekuensi parah bagi perdamaian dan stabilitas dunia.
Kedua, serangan ini akan berdampak pada pasar energi global. Iran merupakan salah satu negara penghasil minyak dan gas alam terbesar di dunia, dan gangguan pada produksi serta ekspor energi dapat menyebabkan kenaikan harga secara global, berdampak negatif pada perekonomian dunia, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Ketiga, situasi kemanusiaan di kawasan akan tertekan. Banyak warga sipil menjadi korban, dengan risiko migrasi massal dan krisis kemanusiaan yang besar. Selain itu, infrastruktur dan layanan dasar di Iran akan terganggu, membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih sulit.
*CATATAN: Sikap OKI dan Negara Islam di Asia*
Sikap OKI
Pada Juni 2025, setelah serangan Israel ke Iran, OKI mengeluarkan “Deklarasi Istanbul” yang mengecam agresi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara muslim. OKI juga menyerukan komunitas internasional mengambil langkah disuasif dan membentuk “Grup Kontak Menteri” untuk menenangkan ketegangan. Untuk serangan terbaru, berdasarkan sikap konsisten OKI, dapat diperkirakan bahwa organisasi ini akan kembali mengeluarkan kecaman tegas dan mendorong kembali ke jalur diplomasi.
*Sikap Negara Islam di Asia Selama Ini*
– Pakistan: Sudah sejak Juni 2025 menunjukkan sikap tegas mendukung Iran, menyerukan persatuan umat Islam dan mengajak negara muslim untuk memotong hubungan dengan Israel.
– Indonesia: Pada Oktober 2024 telah mengutuk serangan Israel ke Iran sebagai pelanggaran hukum internasional. Sebagai negara muslim terbesar dan Ketua G20, Indonesia akan terus berperan aktif dalam menggerakkan diplomasi damai.
– Malaysia: Pada Oktober 2024 mengutuk serangan Israel ke Iran dan menyerukan akhir dari siklus kekerasan. Pada September 2025, Malaysia juga menyerukan tindakan tegas terhadap Israel setelah serangan di Qatar.
– Maladewa dan Bangladesh: Kedua negara ini juga telah konsisten menentang tindakan agresif Israel, dengan Maladewa mengutuk serangan di Qatar dan Bangladesh berpartisipasi dalam KTT Arab-Islam untuk menyuarakan keadilan.
Secara keseluruhan, OKI dan negara Islam di Asia memiliki posisi yang konsisten dalam menentang tindakan agresif yang melanggar hukum internasional serta mendukung upaya damai.
*Motivasi dan Himbauan Persatuan Umat Islam*
Di tengah situasi yang semakin memanas, umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk bersatu dan berkontribusi dalam mencari solusi damai. Persatuan umat Islam bukan hanya kebutuhan, tetapi juga ajaran agama yang harus ditegakkan.Pertama, umat Islam harus bersatu dalam menyuarakan kecaman terhadap serangan ini dan mendukung upaya diplomasi yang sedang dilakukan oleh negara-negara muslim.
Kedua, bekerja sama untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Iran yang terkena dampak konflik, termasuk bantuan makanan, obat-obatan, dan perbaikan infrastruktur.
Ketiga, meningkatkan pemahaman dan dialog antarumat beragama serta antarnegara untuk menciptakan perdamaian yang abadi.Perang dan kekerasan tidak akan pernah menjadi solusi bagi masalah yang kompleks.
Hanya melalui persatuan, dialog, dan diplomasi yang jujur, kita dapat menghadapi tantangan ini dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Mari kita bersatu untuk perdamaian, keadilan, dan persatuan umat Islam serta seluruh umat manusia.*Wallahul A’lam Bisshawab*
.
