Empat Pilar Spiritual Islam: Menelusuri Jejak Syariat, Ṭarīqah, Ḥaqīqah, dan Maʿrifah.

BLITAR-KH Syaikuddin Rohman membahas empat tingkatan spiritual Islam yang saling menyatu dan berkesinambungan, yang menjadi pijakan utama dalam pemahaman tasawuf Islam.

Bahasan ini disampaikan dalam Kajian Subuh di dihadapan jamaah Masjid Al Musthofa Bakung Udanawu Blitar,Kamis 26 Februari 2026.

Menurutnya,meskipun tidak tercantum secara terpadu dalam satu naskah suci, konsep ini dikembangkan oleh para ulama sepanjang abad dan berfungsi sebagai peta jalan dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah SWT.

“Setiap tingkatan memiliki makna dan peran krusial, dengan prinsip utama bahwa pencarian kebenaran batiniah tidak boleh terlepas dari ketaatan lahiriah kepada Syariat,” ujar Kiai Syaikuddin Rohman.

Menurutnya konsep Syariat, Ṭarīqah, Ḥaqīqah, dan Maʿrifah bukan hanya tahapan berurutan, melainkan kesatuan yang saling menguatkan.

“Fondasi lahiriah menjadi landasan bagi pencarian kebenaran batiniah, hingga akhirnya mencapai pengenalan langsung kepada Allah SWT,” ujar Kiai Cikut panggilan akrabnya.

Ia mengatakan berbagai kitab klasik tasawuf mengungkapkan konsep ini dengan bahasa Arab yang lugas dan mendalam, sebagai bukti kekayaan warisan intelektual dan spiritual umat Islam.

1. Syariat (الشريعة)

Berasal dari akar kata syaraʿa yang berarti “menetapkan” atau “mengatur”.

Dalam Kitab al-Risalah karya Imam al-Qushayri:

“الشريعة هي ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم من الأوامر والنواهي والحدود والشروط”

(Syariat adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW berupa perintah, larangan, batasan, dan ketentuan).

“Sebagai fondasi utama kehidupan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan muslim—ibadah lahiriah (shalat, puasa, zakat) hingga hubungan sosial, ekonomi, dan politik,” urainya.

“Dasar hukumnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Tanpa Syariat, upaya mendekatkan diri kepada Allah akan tanpa pijakan dan berpotensi menyimpang,” tegasnya.

2. Ṭarīqah (الطريقة)

Berarti “jalan” atau “metode”.

Dalam Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali: “الطريقة هي سبيل التحقق من الحقائق بعد التمسك بالشريعة، وتتضمن الأذكار والمراقبة والتوكل”

(Ṭarīqah adalah jalan untuk mencapai kebenaran setelah berpegang teguh pada Syariat, dan mencakup dzikir, pengawasan diri, dan ketawakan).

Yakni pengamalan batiniah dari Syariat, di mana pencari spiritual (murīd) belajar mengendalikan hawa nafsu dan memperdalam hubungan dengan Allah melalui latihan rohani terstruktur.

“Dilakukan di bawah bimbingan guru spiritual (murshid) sesuai dengan tradisi tertentu seperti Thariqoh Qadiriyah, Naqshabandiyah, atau Shadziliyah,” singgung mantan Ketua MUI Kabupaten Blitar ini.

3. Ḥaqīqah (الحقيقة)

Berarti “kebenaran sejati” atau “esensi”.

Menurut kitab: Dalam Lata’if al-Minan karya Sheikh Abdul Qadir al-Jilani:

“الحقيقة هي معرفة أن الله هو الحق الوحيد، وأن كل شيء سواه هو باطل، وتكون هذه المعرفة في القلب لا في العقل فحسب”
(Ḥaqīqah adalah pengetahuan bahwa Allah adalah Kebenaran yang Maha Esa, dan segala sesuatu di luar-Nya adalah tidak benar, dan pengetahuan ini berada di hati bukan hanya di akal semata).

Ia kstakan puncak pemahaman terhadap ajaran agama setelah menjalani Syariat dan Ṭarīqah.

“Pada tahap ini, seseorang merasakan esensi kebenaran secara langsung melalui dimensi dalam, di mana batasan ilmu lahiriah dan batiniah mulai menyatu,” terangnya.

4. Maʿrifah (المعرفة)

Artinya “Pengetahuan mendalam” atau “Pengenalan langsung”.

Menyitir kitab al-Futuhat al-Makkiyah karya Imam Ibn al-ʿArabi:

“المعرفة هي تجربة القلب بالله تعالى، لا مجرد علم بل هي حالة حيث القلب يلاحظ صفات الله وتأمل كماله”.

“Maʿrifah adalah pengalaman hati terhadap Allah SWT, bukan hanya pengetahuan semata melainkan keadaan di mana hati menyaksikan sifat-sifat Allah dan merenungkan keagungan-Nya,” sitir Kiai yang mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar ini.

“Puncak perjalanan spiritual yang merupakan karunia dari Allah. Orang yang mencapai tahap ini tetap mematuhi Syariat, bahkan ketaatannya menjadi lebih tulus dan mendalam,” jelasnya.

*Hubungan Antar Keempat Konsep*

Keempat pilar ini diibaratkan sebagai sebuah pohon:

Syariat = akar yang menjaga kestabilan.

*Ṭarīqah*= batang dan dahan yang membawa nutrisi.

*Ḥaqīqah* = buah yang dihasilkan

*Maʿrifah* = rasa manis yang dirasakan ketika memakannya.

“Semua bagian saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan,” tambahnya.

Diakhir kajiannya
Kiai Syaifuddin Rohman menyimpulkan bahwa keempat konsep ini bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis untuk mencari kedekatan dengan Allah SWT.

Pesan utama adalah menjaga keseimbangan antara ketaatan lahiriah dan pencarian batiniah, karena tanpa Syariat sebagai landasan, perjalanan spiritual akan menyimpang.

“Konsep ini tetap relevan di era modern sebagai panduan menghadapi kompleksitas kehidupan, menjadikan hati sebagai tempat bertemu dengan kebenaran sejati,” pungkasnya.*Imam Kusnin Ahmad*