
NTT-Di sebuah sudvt sederhana di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, seorang penju4l sayuran hanya ingin menyambvn9 hidvp dari teras rumahnya sendiri. Di tempat kecil itulah ia menggantvn9k4n harapan—menat4 kangkung, sawi, dan terong dengan penuh ketulusan, demi memastikan dapur tetap meng3pul dan keluarganya tetap bisa mak4n.
Namun pada Kamis (19/2/2026), harapan itu terasa tergvnc4n9. Petugas Satu4n P0lisi Pam0n9 Praja (Satp0l PP) datang dan meminta agar ia mengh3ntikan aktivitas jual belinya. Ia disebut membuka pasar tand1n94n di lingkungan tersebut.
Dengan wajah yang men4h4n g3tir, sang ibu mencoba menjelaskan. Ia tidak berju4l4n di badan jalan. Ia tidak mengambil ruan9 publ1k. Ia hanya memanf44tkan ter4s rumahnya sendiri—ruang kecil yang menjadi s4ksi perjuangan hari demi hari.
“Saya jualan di teras rumah sendiri, bukan di jalan atau pasar,” ucapnya lirih, seolah berharap ada yang benar-benar mau memahami.
Bagi petug4s, langkah itu adalah bagian dari menjal4nkan atur4n daerah agar aktivit4s ekon0mi lebih tertata. Pem3r1nt4h disebut telah menyediakan lokasi khusus untuk para pedagang, demi ketert1b4n dan keadil4n bersama.
Namun bagi ibu itu, teras rumah bukan sekadar bangunan—itu adalah tempat ia bertah4n. Tempat ia menuk4r kerin94t dengan beberapa lembar rupiah. Tempat ia menjaga har94 dir! sebagai seorang ibu yang memilih berjuan9, bukan meminta.
Di antara atur4n dan kenyat44n hidvp, ters3lip kisah tentang rakyat kecil yang hanya ingin bertahan dengan cara sederhana. Hingga kini, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai solusi yang bisa menjemb4t4ni kebutuhan pen3g4kan atur4n dengan denyvt kehidupan pedagang kecil seperti dirinya.
Karena di balik setiap lap sederhana, ada doa yang diam-diam dipanj4tkan. Ada harapan yang tak pernah berhenti diperjuangkan.
