
By: Dr. Ir. Hadi Prajoko, MH Ketum PP HPK.
Ada pepatah yang berbunyi ;
“Hanya ikan mati yang tak mampu melawan arus”.
Orang buta netra tidak bisa membedakan warna, tak tahu seperti apa keindahan bulan purnama, tak mengerti betapa mentakjubkan bintang-bintang di langit malam, tak bisa menikmati keindahan taman bunga beraneka warna.
Orang buta batin jauh lebih parah daripada orang yang buta netra. Tidak bisa membedakan madu dan racun, walaupun tahu bahwa itu adalah racun, tetap saja dimakan dengan harapan mampu menyehatkan jiwa-raganya.
Ketika orang-orang buta batin berkumpul jadi satu, mereka tidak bisa lagi berpikir jernih, tidak mampu lagi untuk membedakan baik dan buruk ; penjahat pemetik bunga (penjahat kelamin) pun akan disanjung sebagai manusia suci penuh ilmu, penipu yang merugikan banyak orang pun akan dihormati layaknya dewa yang turun dari langit, provokator pengadu domba masyarakat pun akan disanjung sebagai pemimpin bijak.
Bumi dimana orang orang buta batin berkumpul, pasti kacau balau penuh intrik, penuh intoleransi, penuh kebodohan, semaunya sendiri, merasa paling benar, walaupun penuh dengan kebusukan.
Orang-orang buta batin akan manut saja digiring menuju ke dalam jurang kebodohan tanpa batas, karena orang-orang buta batin akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak.
Dimana orang banyak menjalankan sesuatu, entah itu benar atau itu tidak benar, entah itu bermanfaat atau itu malah mencelakakan, entah itu pembodohan atau itu penjajahan, bagi mereka apa yang diikuti oleh orang banyak adalah benar adanya, walaupun sejatinya sangat jauh dari kebenaran.
Orang buta netra tidak merugikan orang lain.
Orang buta netra bahkan bisa tampil melebihi orang dengan indera yang normal.
Orang buta netra bahkan seringkali memiliki batin yang lebih tajam serta lebih bersih hatinya daripada orang orang normal.
Tetapi orang buta batin buta hati justru jauh lebih kejam, lebih berbahaya daripada orang yang buta netra.
Mereka buta bathin bisa melakukan kekejian yang Maha dahsyat yg tidak mungkin dilakukan oleh orang normal, karena buta bathin memiliki anggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu merupakan perintah persembahan bagi “tuhan”, tanpa menakar dengan pengindra jiwa’ nya.
Mereka bisa melakukan aksi-aksi intoleransi, kekerasan verbal dan fisik karena beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah “perintah tuhan”, karena Tuhan itu wujud orang atau wujud perintah bisa diwakili manusia.
Mereka Yg butha bhatin bisa melanggar hukum negara tanpa merasa bersalah, karena mereka memiliki anggapan bahwa semua hukum’ manusia bukan lah “hukum tuhan”, dan percaya hukum yg dibuat wakilnya Tuhan lebih tinggi daripada “hukum negara”.
Orang normal bisa melihat penyimpangan-penyimpangan dan kebatilan tetapi tidak peduli yang terjadi di dalam masyarakat buta batin ; tetapi orang buta batin, walaupun dicelikkan matanya untuk melihat segala penyimpangan dan kebatilan di depan matanya, tetap saja tidak mampu menyadarinya sebagai penyimpangan dan kejahatan , kebatilan, bahkan ikut tersesat serta melakukan kejahatan dan tetap mengikuti arus besar kebodohan tanpa faham kemanusiaan yang akan menyeretnya, & tanpa mampu keluar dari pusaran maut kejahatan.
Apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, Ke- roboh-an moral, kerusakan sosial yang amat menyedihkan dari sudut pandang orang normal, tetapi malah dianggap sebagai hal lumrah dan biasa saja bahkan menjadi kebanggaan bagi orang orang yang buta batin nya.
Rahayu
Teruslah berfikir kritis dan kesadaran-FREDOM OFF RELIGION
