
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Ketika muncul referensi Fiqih non peribadatan seperti Fiqih Sosial, Fiqih Politik, Fiqih Gempa dll., maka baru terfahamkan bahwa fiqih itu adalah aturan atau regulasi hidup. Tetapi khasnya fiqih adalah berbasis pada syariat agama. Sedangkan Sains adalah dokumen ilmiah tentang keberadaan alam dan isinya,dengan kata pendekatan juga bisa disebut aturan atau regulasi.
Artikel ini menggagas bagaimana sains ke depan itu terikat dengan nilai positif saja, tidak seperti sains modern ini bersifat netral artinya bisa diajak positif atau diajak negatif. Sehingga ke depan siapa yang pintar dalam sains sudah berarti pintar dalam berbuat baik, dengan kata lain ahli ilmu otomatis menjadi juga ahli ibadah. Dengan demikian muncul ide kasar integrasi sains dan fiqih.
Ada hadits yang relevan dengan pemikiran integrasi tersebut, HR Bukhori dan Muslim, yakni;
_مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ_
Artinya: _”Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Allah akan pahamkan dia tentang agama.”
Kata kunci hadits ini adalah baik dan faqih atau berilmu agama. Di sini muncul ide integrasi fiqih dengan sains, karena kita harapkan fiqih bisa menarik sains untuk membawa kebaikan. Bukannya sains dibiarkan liar tidak bernilai, yang sudah barang tentu terbukti sekarang secara umum sains terkuasai oleh arah negatif. Hal ini terbukti dunia masih dilanda permusuhan, di sana-sini banyak kerusakan lingkungan dst.
Ide integrasi ini tidak hanya diperuntukkan kita yang beragama saja apalagi hanya Islam. Tetapi juga untuk semua manusia yang nota benenya memiliki regulasi atau aturan untuk berbuat baik demi kemaslahatan umat. Kita cari point-point yang sama dari rincian berbagai bentuk yang menuju pada kebersamaan dalam kehidupan di muka bumi. Sudah barang tentu untuk membangun dan mewujudkan perdamaian global, ketentraman hidup, pelestarian lingkungan dll.
Mohon maaf, mari kita sesama manusia ini meletakkan hasrat untuk menguasai yang lain. Mari kita balik, berlomba saling memberikan manfaat terhadap sesama saudara manusianya, yang ini adalah ruh kemanusiaan sejati. Mari kita batasi keinginan kita, jangan kita turuti maaf kerakusan kita (greeding) yang terlalu jauh dari kebutuhan. InsyaAllah bila mayoritas penghuni muka bumi ini sepakat seperti itu, pelestarian hidup akan lebih terjamin. Semoga demikian adanya aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
Surabaya,
22 Jumadil Akhir 1447
atau
12 Desember 2025
m.mustain
