Kemenag Lakukan Evaluasi MoRA The Air Funds Menuju Riset yang Akuntabel dan Berdampak

 

Oleh: H.Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior dan Aktif di PW ISNU Jawa Timur.

RISET KOLABORATIF telah menjadi landasan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan masalah kemasyarakatan. Salah satu contohnya adalah program MoRA The Air Funds yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Kementerian Agama RI.

Program ini yang telah berjalan sejak 2024 membawa harapan besar, namun keberhasilannya sangat tergantung pada dua aspek inti: akuntabilitas yang ketat dan dampak yang nyata bagi masyarakat.

Hal ini menjadi sorotan utama dalam Kegiatan Koordinasi dan Evaluasi yang diadakan di Jakarta pada Kamis (4/12/25), di mana para pemangku kepentingan sepakat bahwa riset tidak hanya harus berkualitas akademik dan administratif, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan ke publik.

Pada acara tersebut, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) DR H.Ruchman Basori menekankan bahwa akuntabilitas adalah kata kunci untuk memastikan penyelenggaraan riset berjalan efektif dan efisien.

Hal ini terutama penting dalam rangka pencairan dana tahap kedua (30%) dan perencanaan anggaran multi-tahun 2026. Sebagai aktivis mahasiswa 1998, Ruchman menekankan bahwa riset harus dapat dipertanggungjawabkan baik dari sisi keuangan maupun hasil yang dicapai. “Riset harus dapat dipertanggungjawabkan ke publik,” ujarnya, yang menunjukkan komitmen untuk menjadikan program ini transparan dan bermanfaat.

Selain akuntabilitas, dampak sosial juga menjadi fokus utama. Ruchman mengajak 47 Tim Peneliti Alumni IAIN Walisongo yang berasal dari 19 PTKIN, 1 STAKAT Pontianak, dan 1 PTKIS (FAI UNUGA) Garut untuk meramaikan media sosial dengan quote atau esai terkait hasil riset. Tujuannya adalah agar hasil penelitian dapat menjangkau masyarakat luas dan menyelesaikan masalah kemanusiaan serta kebangsaan.

Dia juga memberikan contoh hubungan riset dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi, di mana riset harus mendukung nilai-nilai cinta kepada Allah, manusia, ilmu, lingkungan, dan tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai yang positif bagi masyarakat.

Kegiatan evaluasi yang diselenggarakan Puspenma bersama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) bertujuan untuk menilai pelaksanaan riset tahun 2024 yang dilaksanakan pada 2025. Para peneliti yang dipandu oleh LPDP dan Puspenma menyampaikan progres kerja kepada Tim Analis Kemenag dan LPDP, sehingga akuntabilitas program semakin meningkat.

Puspenma juga memberikan apresiasi kepada tim peneliti yang menghasilkan laporan akademik dan tata kelola keuangan yang optimal. Sebagaimana diketahui, Kemenag melalui Puspenma mendapatkan alokasi dana 50 milyar per tahun selama tiga tahun berturut-turut (2024-2026), dan insya Allah LPDP akan menaikan anggaran menjadi 150 milyar tiap tahunnya.

Hal ini menunjukkan kepercayaan yang besar terhadap program ini dan harapan untuk memperluas jangkauan serta dampak riset.

Program MoRA The Air Funds adalah langkah penting dalam menggerakkan riset berbasis keagamaan yang berdaya guna dan bertanggung jawab.

Dengan akuntabilitas yang ketat dan fokus pada dampak sosial, riset ini tidak hanya akan memperkaya ilmu pengetahuan tetapi juga menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.

Mari kita dukung dan berpartisipasi dalam memastikan bahwa setiap rupiah dana yang dikeluarkan memberikan manfaat maksimal, sehingga riset dapat menjadi motor perubahan positif bagi negeri dan bangsa.

Semoga program ini terus berkembang dan memberikan kontribusi yang luar biasa untuk masa depan Indonesia.****