Mengapa Manusia Terkunci Dokrin serta Dokma Kesadaran Mati

Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH,  MH Ketum HPK

Selama ribuan tahun agama telah membentuk peradaban manusia. Tetapi dibalik semua itu ada satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur. Agama juga seni mempengaruhi pikiran manusia, dengan cara yang halus, perlahan, dan sering kali tidak disadari oleh penganutnya sendiri. Sebagian orang bahkan tidak pernah sadar saat mereka telah masuk pada perangkap-perangkap ini, karena perangkap itu bekerja perlahan-lahan, dan ditanamkan pada usia dini.

Di sini akan kita jelaskan beberapa perangkap psikologis dan social yang digunakan agama untuk membentuk keyakinan, mengontrol cara berpikir, dan membuat ide-ide tertentu terasa suci, bahkan ketika ide-ide itu tidak memiliki bukti sama sekali. Sebenarnya ketika anda melihat polanya, selayaknya anda akan mulai menyadari bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang illahi, ini hanyalah cara-cara untuk mempengaruhi pikiran manusia.

Perangkap pertama adalah pengkondisian pada masa kanak-kanak; Ketika seseorang didogma sebuah ajaran sebelum ia memiliki kemampuan berpikir kritis, maka ajaran itu tidak masuk sebagai kesimpulan, tapi masuknya sebagai identitas. Seorang anak tidak diberi kesempatan untuk memilih, ia hanya diberi tahu bahwa ini adalah kebenaran mutlak, ini kitab yang sempurna, dan mempertanyakannya adalah dosa.

Maka ketika anak itu dewasa, keyakinan itu tidak terasa seperti sebuah pendapat, malainkan terasa seperti bagian dari dirinya sendiri. Bukan sesuatu yang ia pikirkan, tetapi sesuatu yang ditanamkan. Bayangkan jika sejak kecil anda diajari bahwa langit berwarna merah bukan biru, dan setiap kali anda mengatakan langit itu biru, anda dihukum.

Setelah bertahun-tahun menerima warna asli lagit seperti penghianatan, bahkan seperti dosa kalau kita mengakui bahwa sebenarnya langit itu memang biru, bukan merah. Inilah pola yang sama dimana keraguan dibingkai sebagai kejahatan, bukan sebagai proses berpikir.

Perangkap berikutnya adalah mengulangan; Pikiran manusia sangat rentan terhadap pesan yang diulang-ulang, bahkan ketika pesan itu tidak memiliki bukti apapun. Kalimat yang diulang terus-menerus akhirnya terasa seperti kebenaran. Itulah sebabnya mengapa ritual agama dipenuhi dengan do’a harian, ayat-ayat harian, kalimat yang dianggap suci yang diulang tanpa henti. Pengulangan tidak menembus logika, ia langsung masuk ke emosi.

Seseorang merasa tenang bukan karena sesuatu itu benar, melainkan karena sesuatu terasa akrab. Bayangkan mengucapkan setiap hari selama 20 tahun atau lebih bahwa kitab ini sempurna, tanpa pernah melakukan satupun penyelidikan ilmiah, maka kalimat itu akhirnya akan terasa benar walaupun tidak pernah diuji. Pengulangan menciptakan alur di otak yang sangat sulit dihapus.

Perangkap berikutnya adalah ikatan emosional; Agama mengikat ajarannya dengan emosi-emosi kuat ke dalam diri manusia. Seperti rasa takut, cinta, harapan, rasa bersalah, dan rasa terima kasih. Ketika sebuah ide dilapisi emosi, maka ide itu menjadi kebal dari kritik. Sebuah keraguan bukan lagi sekedar pertanyaan, tapi ia menjadi rasa bersalah.

Banyak orang takut meragukan agama, karena mereka merasa akan mengecewakan keluarga, mereka takut mengkhianati orang tua, leluhur. Mereka takut akan hukuman, mereka takut kehilangan harapan, dan semua emosi-emosi ini bekerja seperti alarm dalam pikiran. Alarm yang menghentikan analisis rasional sebelum analisa itu sempat dimulai.

Sebuah ide itu bisa saja kosong dari bukti, tapi bobot emosinya menjaganya tetap hidup. Dan dari semua emosi, ketakutan adalah senjata agama paling kuat. Ketakutan hukuman abadi akan membuat manusia yang berpendidikan sekalipun akan menerima klaim luar biasa absurdnya.

Jika ada seseorang berkata bahwa ada seekor Naga di langit yang mengawasi setiap gerak-gerik anda, anda mingkin akan tertawa. Tetapi jika ia menambahkan bahwa Naga itu akan menyiksa anda jika anda meragukannya, maka pikiran anda akan kena dan mulai ragu jangan-jangan Naga itu memang ada.

Ketika anda mulai berpikir jangan-jangan Naga itu memang ada, itu bukan karena klaim itu masuk akal, tetapi karena resikonya terasa menakutkan. Bukan karena ide itu meyakinkan, tapi karena taruhannya terasa terlalu besar. Ketakutan itu akan mematikan semua rasa ingin tahu, dan pemuka agama tahu cara memanfaatkannya.

(Youtube-Logika akal sehat, menghidupkan nurani, menajamkan Bhatin)