
Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketum PP HPK
Bumi dan segala sesuatu yang tumbuh padanya adalah saudara tertua lebih senior dari manusia. Sebab mereka diciptakan lebih dahulu … Kita baru ada setelah sato tanaman ( Plant kingdom ) dan kemudian Sato kewan ( animal Kingdom) dan selanjutnya ada kehidupan manusia.
Sebagaimana dalam lontar Kanda Pat & lontar klasik yang pernah ditulis oleh Para Brahmana dan MPU-Resi Nusantara, yg menyebutkan bahwa tubuh kita sebagai wadah dan mewadahi sang sukma dan jiwa’ sejati adalah hasil pinjaman dari :
– Tanah – mawujud Tubuh (balung, daging & kulit manusia),
– Air – mawujud darah,
– Udara – mawujud oksigen (napas manusia),
– Api – mawujud jantung manusia, dan
– Cahaya matahari mawujud pengindra manusia
itulah Ibu semesta atau senior (Sanghyang Ibu Pertiwi).
Dalam perjalanan, ketika sukma dan jiwa’ sejati kita bisa dihadirkan dalam rahim melalui panunggalan Kama Petak (sperma) dan Kama Bang (ovum), Sang Catur Sanak/Sedulur Papat menyusun tubuh kita dengan kalima senior atas ke-welas-asihan Sanghyang Ibu Pertiwi, seperti:
• Kulit kabeh nyilih ring pêrtiwi: Kulit kita sesungguhnya meminjam dari tanah.
• Bulunta kabeh nyilih ring padhang: Semua bulu di tubuh kita meminjam dari rumput.
• Tulangta kabeh nyilih ring kayu: Semua tulang kita meminjam dari kayu.
• Dagingta kabeh nyilih ring watu padhas: Daging kita meminjam dari batu padas.
• Mulukta nyilih ring êndhut: Lemak kita meminjam dari lumpur.
• Rambuta nyilih ring gulêm mwang awun-awun: Rambut kita meminjam dari awan di langit.
• Cangkêmta nyilih ring guwa: Mulut kita meminjam dari gua.
• Giginta nyilih ring sukêt têki: Gigi kita meminjam dari rumput teki.
• Cunguhta nyilih ring sêmêr: Hidung kita meminjam dari sumur.
• Matanta nyilih ring surya kalawan candra: Mata kita meminjam dari matahari dan bulan.
• Kupingta nyilih ring jurang rêjêng: Telinga kita meminjam dari jurang.
• Kêjêpanta nyilih ring tatit: Kedipan mata kita meminjam dari petir.
• Ambêkta nyilih ring lintang: Sikap atau perilaku kita meminjam dari bintang.
– darah meminjam dari Air ( Baruno, ) , jantung meminjam dari api’ ( Agni) & paru paru meminjam dari angin – oksigen ( Bayu) dan cahaya matahari berupa Pancadriya-Paningal ( Sanghyang Surya)
• Sabda swaranta nyilih ring kêtug lundhuh prakasa: Suara kita meminjam dari getar suara alam.
• Angkihanta nyilih ring angin kabeh: Napas kita seluruhnya meminjam dari angin berupa oksigen.
Demikianlah, tubuh kita sejatinya bertubuhkan tubuh alam, tubuh kita terbentuk dari banyak saham para senior ciptaan-Nya, oleh karenanya tubuh ini hasil pinjaman dari pemilik saham semesta, maka ketika sudah waktunya dan SK Selesai harus dikembalikan ke sang pemiliknya, yakni Sanghyang Ibu Pertiwi. Dan Ibu Pertiwi akan melaporkan tugas SUCI nya kepada Hyang Maha Hidup. Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itulah kesadaran prinsip akan interaktif harmonis dibutuhkan sebagai satu kesatuan nalar, akan tetapi, kebanyakan dari kita “tulah- pamali/kualat” kepada ibu alam, tumpah darah, Kita serakah nalar, kehilangan jiwa’, tidak lagi mampu mengendalikan ego bahkan semakin liar untuk meng-eksploitasi alam secara membabi buta demi pemuasan indriawi tubuh kita tanpa re-serve tanpa sadar, kita telah menyakiti dan melukai alam semesta tempat kita tinggal.
Tidak salah, jika Ibu lambang black hole, pemegang saham, Alam meminta tubuh kita sebelum waktunya tiba melalui bencana-Pralina, daur ulang, seperti PURBAYA yang menghantam tanpa ampun. Dan hal ini suatu yg mengajarkan kita kembali pada kaweruhan leluhur Nusantara, *back to nature* yakni laku memuliakan alam semesta. Memuliakannya berarti memuliakan Ibu kita, memelihara kehormatannya kehidupan semesta, Dimana Ibu adalah goa Garba alam (black hole) yang dimuliakan di sana sebagai awal – Sangkan Dumadi dan kesejahteraan, pemandu mula mula yang nglaras urip, kedamaian, harmoni, dan kerahayuan. Salam cinta tantra tanpa batas.( Sangkan Dumadi menuju Paran PARANING Dumadi) .
—–sandireka- Candi re-reka dulur papat limo pancer____
ANGGAYUH KASAMPURNANING URIP BERBUDI PEKERTI BAWA LAKSANA.
Hadi Prajoko
Hidupkan kembali INTUITIF
Kesadaran NALAR berfikir.
