
By Dr. Sukidin, M Pd.
Beberapa hari yang lalu, saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat mengalami bencana banjir bandang. Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah, membawa dampak korban meninggal, pengungsian warga dan kerugian besar bagi ribuan masyarakat.
Curah hujan yang tinggi dan kondisi alam yang tidak stabil menyebabkan jalan terputus, rumah terendam, serta banyak keluarga terpaksa mengungsi untuk mencari keselamatan.
Kita hanya bisa membayangkan tentang kehidupan warga yang sebelumnya berjalan normal, tiba-tiba berubah menjadi bencana. Dalam hitungan jam, mereka harus meninggalkan rumah, harta benda, bahkan kenangan yang selama ini sudah mereka bangun. Tidak sedikit yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Pemandangan ini membuat kita merasa miris, sedih sekaligus tersadar betapa rapuhnya kehidupan umat manusia ketika berhadapan dengan kekuatan alam yang mengguncang.
Namun di balik bencana itu, terdapat sisi lain yang sangat menyentuh yaitu tumbuhnya semangat gotong royong. Banyak relawan datang membantu, warga saling menguatkan, dan berbagai bantuan mulai berdatangan dari berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan, persatuan dan solidaritas sosial masih terawat di masyarakat.
Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November silam, kembali menunjukkan betapa rentannya masyarakat ketika cuaca ekstrem berlangsung beberapa hari. Banyak wilayah berubah menjadi zona darurat dalam waktu singkat dan memaksa warga bergerak untuk menyelamatkan diri.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa bencana hidrometeorologi membawa dampak sosial yang jauh lebih dalam dari sekadar genangan air. Peristiwa ini mengingatkan bahwa krisis cuaca kini menuntut respons sosial yang jauh lebih intensif dan terkoordinasi.
Peristiwa banjir bandang di Sumatra sebagai pertanda serius bahwa tata kelola risiko masih carut-marut di berbagai daerah. Munculnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan ekologi makin nyata dan berdampak pada kerusakan aspek yang lainnya. Situasi ini memperlihatkan lemahnya konsolidasi negara dalam merespons bencana berskala besar.
Ditilik dari perspektif historis, masyarakat Sumatra memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana, termasuk solidaritas komunitas yang tumbuh secara alami. Namun, ia melihat banyak kelompok yang berada dalam posisi rentan karena kondisi ekonomi dan lokasi tempat tinggal. Warga yang hidup di bantaran sungai atau kawasan sempadan sering kali tidak memiliki pilihan selain tetap tinggal di area rawan tersebut.
Ketika bencana datang, mereka mengalami dampak yang jauh lebih berat. Mayoritas warga dengan keterbatasan ekonomi yang tinggal di pinggiran sungai menjadi kelompok paling rentan, utamanya bila terjadi bencana.
Penulis mengamini pandangan para sosiolog, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketimpangan sosial dan dampak bencana yang membesar bagi kelompok tertentu. Terdapat keterbatasan akses layanan dasar dan perlindungan sosial memperburuk keadaan kelompok masyarakat marginal.
Bencana yang berlangsung cepat membuat kelompok berpenghasilan rendah menghadapi tekanan yang berlapis. Hal ini menegaskan bahwa situasi tersebut harus dilihat sebagai persoalan besar yang membutuhkan respons serius dari negara.
Bencana alam, seperti banjir bandang ini selalu membuat kelompok rentan secara ekonomi mengalami dampak paling berat.
Solidaritas warga tetap menjadi penopang utama di fase awal bencana, terutama ketika akses bantuan resmi belum sepenuhnya tiba.
Komunitas bergerak membuka ruang aman, mengumpulkan logistik, dan menopang kebutuhan dasar warga lain yang kesulitan memperolehnya. Diakui bahwa solidariras sosial merupakan modal besar, namun belum cukup jika tidak diperkuat kehadiran negara.
Skala bencana membuat peran pemerintah tetap menjadi unsur paling menentukan. Solidaritas harus terus dirawat agar bertumbuh kuat, tetapi skala bencana besar tetap membutuhkan peran negara dengan sumberdaya yang kokoh.
Negara harus hadir dengan memprioritaskan pada proses evakuasi, penyediaan kebutuhan dasar dan hunian sementara sebagai langkah darurat yang tidak bisa ditunda.
Pemenuhan makan, minum, obat-obatan, pakaian, dan ruang tinggal yang aman adalah solusi awal pemulihan. Langkah-langkah tersebut harus dibarengi perencanaan jangka menengah yang jelas agar masyarakat dapat pulih lebih cepat. Pemulihan sosial membutuhkan dukungan logistik dan koordinasi lintas sektor yang kuat. Negara harus berperan besar memproteksi masyarakat mulai dari evakuasi hingga pemenuhan kebutuhan dasar.
Dalam fase pasca bencana, akan ditemukan adanya trauma sosial yang bersamaan dengan kerugian fisik yang dialami warga. Upaya pemulihan tidak berhenti pada perbaikan rumah atau sarana umum saja, tetapi juga pada upaya memulihkan rasa aman dan daya tahan komunitas. Penanganan pasca banjir diperlukan layanan dukungan yang cepat agar masyarakat tidak terjebak dalam situasi pasca krisis yang berkepanjangan.
Dari pengalaman dalam penanganan bencana, diperlukan perencanaan lintas sektor yang lebih kuat. Situasi krisis seperti ini menuntut perpaduan kinerja dan kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan lintas sektor.
Fenomena banjir di Sumatra ini mengingatkan kita agar merefleksikan kembali nilai-nilai luhur nenek moyang. Sila kemanusiaan dan persatuan sedang diuji dalam situasi bencana banjir bandang seperti ini. Kita diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memiliki rasa empati, simpati dan kepedulian terhadap sesama.
Bencana bukan hanya urusan satu daerah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama sebagai kesatuan anak bangsa.
Kita berharap ke depan, upaya pencegahan bencana dapat lebih ditingkatkan, mulai dari menjaga lingkungan, mengelola hutan dan sungai dengan bijak, hingga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Namun lebih dari itu, kita berharap rasa solidaritas yang muncul saat bencana ini tidak hanya hadir di masa sulit, tetapi juga terus hidup dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk nyata pengamalan nilai luhur bangsa.
Semoga Sumatra segera pulih, dan masyarakatnya kembali bangkit menjadi lebih kuat. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kebersamaan adalah kekuatan terbesar bangsa Indonesia.
*Penulis adalah Dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember
