PBNU Gelar Koordinasi Tanggap Darurat, Saling Sinergi dengan Upaya BNPB untuk Korban Bencana.

JAKARTA–Bencana alam terus menjadi tantangan bagi negara, terutama di wilayah yang rawan seperti Sumatera, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Tanggapan cepat dan terkoordinasi dari berbagai elemen masyarakat menjadi kunci untuk meringankan beban korban.

Dalam situasi ini, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut berperan aktif dengan menggelar rapat koordinasi tanggap darurat, yang selaras dengan upaya terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menangani musibah.

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf memimpin rapat koordinasi tanggap darurat untuk menangani dampak bencana alam di sejumlah daerah, terutama di wilayah Sumatera. Dalam konferensi pers, Gus Yahya menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam PBNU kepada korban dan masyarakat terdampak.

Untuk memperkuat respons yang sudah berjalan, ia telah mengoordinasikan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPBI) NU dan LAZISNU Pusat dengan struktur Pengurus Wilayah (PWNU) serta Pengurus Cabang (PCNU) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Kita bangun satu struktur tanggap bencana yang sistematis. Ini untuk menyempurnakan langkah-langkah yang sejak awal sudah dilakukan langsung oleh LPBI dan LAZISNU,” jelas Gus Yahya, Selasa (3/12/2025) sore di Kantor PBNU Jakarta.

Rapat tersebut melibatkan 34 PCNU dan tiga Badan Otonom (Banom) NU di wilayah terdampak. Koordinasi serupa juga akan segera dilanjutkan untuk daerah lain yang mengalami musibah, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gus Yahya menegaskan bahwa meskipun fokus pada penanganan bencana, seluruh agenda dan program organisasi NU di semua tingkatan tetap berjalan tanpa hambatan. Ia berharap kerja sama semua elemen dapat meringankan beban saudara-saudara yang terdampak bencana.

Selaras dengan upaya PBNU, BNPB juga terus berkomitmen dalam penanggulangan dan mitigasi bencana. Di Jawa Timur, BNPB mendukung pemerintah daerah menyusun pemaduan perencanaan penanggulangan bencana ke dalam dokumen pembangunan, yang selaras dengan paradigma pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui program “Jatim Harmoni” yang memasukan Indeks Risiko Bencana (IRB) sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU).

Di Sumatera Barat, BPBD provinsi melaporkan kejadian angin kencang dan hujan lebat yang menyebabkan banjir dan tanah longsor, dengan upaya penanganan melalui evakuasi dan pengerahan personil gabungan bersama BNPB, Basarnas, TNI, dan Polri.

Sementara di Aceh, BNPB telah melakukan upaya mitigasi jangka panjang seperti penanaman 6.000 pohon mangrove untuk mengurangi risiko tsunami, serta memberikan bantuan darurat kepada korban banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten.

Ketum PBNU juga mengajak seluruh warga NU terus istiqomah ihtiyar agar kehidupan bangsa dan negara berjalan dengan aman dan damai.

Harapan, Motivasi, dan Doa

Kita berharap bahwa kerja sama erat antara PBNU, BNPB, pemerintah, dan masyarakat dapat mengakselerasi penanganan bencana, sehingga korban segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan dan dapat memulihkan kehidupannya secepat mungkin.

Semoga semangat gotong royong yang kental di tengah kesulitan ini tetap terjaga, dan setiap langkah yang diambil membawa kebaikan bagi semua. Doa kita selalu menyertai korban bencana, semoga mereka diberi kekuatan, ketabahan, dan kelancaran dalam proses pemulihan. Semoga negara kita semakin tangguh menghadapi tantangan bencana, dan damai serta kesejahteraan selalu meliputi seluruh tanah air.*Imam Kusnin Ahmad*