
Oleh: Ririe Aiko
(Puisi esai terinspirasi dari kisah nyata Erik Andesra dan ibunya, korban banjir bandang yang terjadi di Sumatera Barat pada 28 November 2025.) (1)
—000—
Ia sudah mencoba percaya
bahwa ibunya masih bernyawa
meski banjir telah merenggut banyak nama
Menghapus jejak kaki manusia
melarut bersama tanah
Yang memberikan duka
“Mak pasti selamat…”
“Mak pasti ditemukan…”
Kalimat itu ia ulang
seperti sebuah mantra keyakinan
meski di dadanya penuh gemertak
seribu rabun ketakutan.
Malam itu,
air datang tanpa permisi (2)
menghantam rumah, masjid, jalan,
dan ratusan kehidupan yang tak sempat berpegangan.
Di tengah kalut,
ibunya sedang bersujud
mengenakan mukena putih
Menegakkan iman yang tak goyah
Meski air bah mengepung tanpa aba-aba
Tapi siapa yang bisa melawan galodo?
Air tak pandai memilih.
Ia tak membedakan iman
Mereka menelan siapapun
Yang digariskan untuk berpulang
“Innalilahi wa innailaihi Raji’un”
—000—
Esoknya,
Diantara puing rumah yang hancur lebur
Sang anak masih memunguti serpihan harapan
ia membawa tekad kuat
Menyewa mesin raksasa dengan lengan baja
Ia menggali,
batu demi batu,
lumpur demi lumpur,
menyibak reruntuhan rumah
tempat ibunya dulu menunggu di beranda.
Setiap dentum lengan besi itu
menggetarkan dadanya,
membuat harap dan gentar
bertubrukan dalam satu degup.
“Semoga, Mak…
semoga engkau masih bisa kutemukan.”
Di sela keramaian relawan,
ia berdiri dengan getar di jiwa
yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Karena apa yang ia cari
akhirnya ditemukan
Entah harus sedih atau bahagia
Tapi tubuhnya terjebak
Dalam jiwa yang kehilangan ruh
Kaku, diam, gemetar
Diantara takdir yang memaksanya menerima dengan sabar
Di sana,
di sebuah cekungan lumpur yang dingin,
ibunya ditemukan.
Masih memakai mukena.
Masih seperti seseorang
yang hendak menyelesaikan sujud.
—000—
Lumpur itu membungkus tubuhnya,
tapi tak mampu menutupi ketenangan wajahnya,
ketenangan yang membuat siapa pun percaya
bahwa ia pergi bukan dalam ketakutan,
melainkan dalam jemputan terindah dari Tuhan.
Erik jatuh berlutut.
Tangan yang dulu menuntunnya belajar berjalan,
kini ia genggam dengan hati yang remuk redam.
“Mak…”
Bukan teriakan,
bukan kemarahan,
hanya getaran paling dalam
dari cinta yang kehilangan.
Di sekelilingnya,
tak ada sirene.
Tak ada headline media.
Hanya suara lumpur
yang merayap pelan
Diantara tangisan korban lain yang bersahutan
Erik memeluk ibunya,
Diantara lumpur yang dingin
Dan diantara doa yang tak sempat ia aminkan.
CATATAN:
(1)https://teritorial.com/daerah/ditemukan-masih-memakai-mukena-kisah-erik-mencari-ibunya-saat-banjir-sumbar/
(2)https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_dan_longsor_Sumatra_2025
