Sihir. Dogma. Kultus. Dokrin dan Otak Kita Yang Tidak Mau Dewasa

Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketum PP HPK

 

Ternyata agama juga membangun Sihir itu yg nyata, karena dongeng, doktrin dan KULTUS agama yg menyebabkan ada Titik pembuka pintu halusinasi
Yang nyata ….
Intuisi kita Adalah listrik di otak kita, bias kognitif, ilusi visual, dan ketakutan kolektif yang diwariskan dari generasi yang suka halu menafsirkan petir sebagai amarah dewa, membelah lautan karena karomah.

Tapi anehnya, masih ada agama bahkan yang mengaku paling rasional yang menuntut kita percaya bahwa dongeng – mitologi dikultuskan sehingga tidak terasa itu manifestasi sihir sebagai satu faktor manipulatif Yg benar-benar ada. Bahwa ada manusia bisa mengirimkan teluh jarak jauh tanpa pulsa, bisa menundukkan realitas hanya dengan mantra, atau bisa merusak hidup orang lain cukup dengan umbul wirid lalu menghadap tembok, sugesti negatif yang berakibat rusaknya akal’.

Coba dipikir dengan kepala yang sudah pernah sekolah:
Kalau betul sihir itu nyata, kenapa tidak pernah terbukti di laboratorium?
Kenapa tidak pernah bisa diuji ulang?
Kenapa tidak pernah bisa direkam dalam kondisi terkendali?
Dan yang lebih penting: kenapa selalu gagal saat dicoba di depan orang yang paham sains?

Bahkan negeri KONOHA membuat undang undang Anti sihir dan santet yg didalangi oleh seorang profesor di universitas terkemuka, akibatnya tidak Bisa diterapkan pada dunia peradilan, sungguh memprihatinkan, tidak ada satupun orang disantet dan dipidana karena hakim tidak ingin kehilangan moralitas.

Jawabannya sederhana:
Karena sihir hanya bekerja di kepala orang yang sudah lama berhenti mengizinkan otaknya berpikir, api kesadaran nya macet total.

Ironisnya, banyak doktrin agama memelihara mitos, dongeng dan halusinasi sihir itu sebagai doktrin iman.
Bukan karena sihirnya ada tapi karena ketakutan terhadap sihir membuat umat lebih taat, umat bisakah ditaklukkan sebagai budak budak rohani, Lebih mudah diatur. Lebih tunduk pada otoritas yang katanya “punya ilmu kadigdayaan untuk melindungi.” umat.

Bayangkan: abad 21, manusia sudah mengirim teleskop ke ujung galaksi, memakai drone-drone, & satelit untuk memotret seluruh semesta, sudah memetakan gen, sudah memahami gelombang elektromagnetik, gravitasi
tapi masih ada yang yakin bahwa tetangganya bisa membuat hidupnya sengsara hanya dengan meniup segenggam garam sambil menyebut nama jin tertentu, atau para ustadz.

Kalau dipikir-pikir, siapa sebenarnya yang lebih berbahaya?, jin, syetan, Dajjal? Atau orang kafir?
Bahkan apakah orang yg kehilangan kewarasan NALAR berfikir nya???
Atau jiwa’ manusia yang mati!!!!! Dan beku.

Jin? Penyihir? Malaikat?
Atau dogma yang memaksa manusia modern percaya hal-hal yang bahkan anak kecil pun akan tertawa terbahak-bahak jika dijelaskan dengan jujur?

Sihir tidak nyata.
Yang nyata adalah manusia takut berpikir, kehilangan jiwa’ NALAR murni nya.
Takut keluar dari kurungan doktrin, DOKMA, KULTUS,
Takut mengakui bahwa hidup ini tidak sesederhana buku panduan kuno yg manipulatif kontra diksi dgn fakta sosial dan filosofis,

Kadang, yang bikin orang tiba-tiba “kejang-kejang” bukan karena sihir, tapi karena akalnya mulai hidup kembali dan melawan keyakinan yang selama ini dipeluk tanpa pernah diuji.
Karena logika yang selama ini dikurung akhirnya mulai mengetuk pintu kesadaran.

Dan pada titik itu, banyak orang memilih dua jalan:
Tetap bertahan dalam dongeng…dongeng agama atau memperbaiki diri untuk menghidupkan kembali cahaya Nalar nurani sebagai pemandu kehidupan?

atau kita berani melepaskan diri, dari pemasungan DOKTRIN dan KULTUS meskipun harus menanggung risiko:
dicap sesat, kafir, atau murtad hanya karena memilih akal sehat dan api jiwa’ murni nya hidup kembali, daripada ketakutan kuno , ketakutan sosial serta halusinasi?

Fakta doktrin KULTUS dan DOKMA agama yang mengharuskan kita percaya sihir, TELUH , gendam, santet dg suatu imbalan untuk bisa masuk surga,
mungkin surga model begitu tidak layak dihuni oleh manusia abad 21.

Karena itu manusia harus bebas merdeka, kritis, dan berpikir tidak membutuhkan doktrin KULTUS mitologi agama agar cahaya bhatin kembali’ terang dan hidup itulah sebenarnya
Yang mereka butuhkan.

hanya satu hal:
keberanian untuk menggunakan otak sehat dan Nalar waras untuk digunakan sebagai jiwa’ kemanusiaan, cahaya kesadaran dan yang sudah diberikan gratis oleh semesta.

Sampurasun

Rahayu Kalis Nir ing sambikala, hidupkan kembali intuitif Kesadaran MU.