
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Ketika ada orang senam dengan gerakan persis seperti sholat berikut juga bacaannya, maka tetap disebut senam bukan sholat. Artikel ini mengkritisi pentingnya niat dalam segala perbuatan.
Hadits “Innamā al‑A‘māl bi‑Niyyāt” ada lanjutannya, yakni (Muttafaq alaih, Bukhori No 1 Muslim No 1907):
*إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى*
Terjemahan (Indonesia)
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”
Hadits ini dijadikan pembuka pada Kitab Shahih Bukhari, juga ada di Shahih Muslim. Imam Bukhari menempatkannya di awal untuk menegaskan bahwa niat adalah pondasi setiap amal.
Pendapat dua ulama besar sebagai rujukan yakni:
1. Imam Nawawi (Arba’in Nawawi, Hadis 1) memasukkan hadits sebagai dasar Ihsan dan Ikhlas.
2. Ibn Hajar al‑Asqalani (Fath al‑Bari) menjelaskan bahwa niat membedakan antara ibadah dan kebiasaan (misalnya mandi karena junub vs mandi karena panas).
Poin-Poin Penting yang tersimpan dalam hadits ini adalah (Modified Meta AI, 2025):
1. Ikhlas (Keikhlasan), amal diterima jika diniatkan semata-mata karena Allah. Contoh: Shalat karena ingin dilihat orang (riya’), maka sholatnya tidak sah.
2. Perbedaan Antara Ibadah dan Adat (Kebiasaan) contoh mandi. Jika diniatkan mandi wajib (junub) maka menjadi ibadah. Jika hanya karena panas, maka sekedar kebiasaan.
3. Penghargaan Pahala Sesuai Niat, jika niat hijrah karena Allah SWT, maka ada pahala hijrah. Jika hijrah karena dunia (menikah, bisnis), maka tidak dapat pahala hijrah.
4. Niat Bukan Ucapan, Tapi Hati. Dalam fiqh, niat diucapkan dalam hati sebelum takbiratul ihram (shalat), wudhu, puasa, dll. Niat tidak disyaratkan melafalkan dengan lisan (kecuali dalam haji/umrah karena ada rukun tertentu).
5. Konsep “Maqasid al‑Shariah” (Tujuan Syariah). Niat menjaga kemurnian tujuan hukum (mashlahah) dan mencegah kerusakan (mafsadah).
Contoh Praktis kekinian: fenomena ini memberikan situasi niat yang salah/kurang dan niat yang benar.
1. Sedekah memberi karena ingin dipuji (riya’), maka pahala hilang. Memberi semata karena Allah SWT, maka mendapat pahala sedekah.
2. Puasa Senin-Kamis , berpuasa karena diet (duniawi), maka tidak bernilai ibadah. Berpuasa karena mengikuti Sunnah Nabi, maka bernilai pahala.
3. Menuntut Ilmu Hanya untuk gelar/jabatan, mendapat duniawi. Niat mencari ridha Allah, manfaat umat, maka bernilai ibadah.
Sebagai Pelajaran Moral
1. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal.
2. Tingkat keikhlasan menentukan kualitas ibadah, dalam meraih pahala yang berlipat ganda.
3. Tanggung jawab individu, Allah menilai isi hati bukan penampilan luar.
4. Motivasi tetap pada jalan yang benar menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan dunia.
5. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
12 Jumadil Akhir 1447
atau
02 Desember 2025
m.mustain
