
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Judul artikel ini ada arti persis dari potongan redaksi hadits yang muttafaq alaih, yakni kedua Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan. Teks potongan haditsnya adalah “Al-Ḥayā’ min al-Īmān”, arabnya adalah,
*الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ*
_(Muttafaq ‘Alaih – Bukhari 24, Muslim 35)_
Adapun riwayat dan redaksi lengkapnya adalah,
*عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:*
*“الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ، وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ.”*
Arti terjemahan,
“Malu (hayā’) adalah bagian dari iman.”
_(Dalam riwayat lain ditambahkan): “Dan iman itu di surga, sedangkan kata-kata kotor (badhā’) adalah dari kekasaran, dan kekasaran itu di neraka.”_
Penjelasan sebagai rujukan dari dua ulama yang terkenal adalah; 1). Imam Nawawi (dalam kitab Syarh Shohih Muslim) menjelaskan bahwa, malu adalah akhlak mulia yang mendorong seseorang melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. 2). Ibn Hajar al-Asqalani (dalam kitab Fath al-Bari) menyebutnya malu sebagai ciri orang mukmin yang memiliki kesadaran akan pengawasan Allah SWT.
Makna dan Dimensi Malu yang dirangkum dari beberapa sumber adalah sebagai berikut (Modified Meta AI, 2025);
1. Malu kepada Allah,
– Menyadari Allah selalu melihat dan mendengar.
– Menjaga diri dari maksiat meski sendirian (misalnya: tidak berbuat dosa di tempat sepi).
2. Malu kepada Sesama Manusia,
– Tidak mengucapkan kata-kata kotor, tidak mengganggu privasi yang lain.
– Menutup aurat dan menjaga adab dalam interaksi.
3. Malu dalam Beribadah,
– Khusyu’ dalam shalat, tidak tergurui oleh pikiran duniawi.
– Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu karena takut tidak memahami.
4. Malu dalam Muamalah (Sosial),
– Menjaga amanah, tidak menipu, tidak mengambil hak orang lain.
Selebihnya dari empat point tersebut adalah bahwa malu bukan sifat rendah diri yang mencegah kebaikan. Sedangkan Badhā’ (kata kotor) dan jafā’ (kekasaran) adalah lawan dari hayā’ (Malu) yakni menunjukkan kerusakan akhlak.
Contoh praktis dalam situasi tertentu;
Tindakan dengan hayā’/malu, terlihat/melihat konten buruk di internet langsung menutup atau berhenti karena takut dosa.
Tindakan tanpa Hayā’/malu, terus menonton karena tidak ada yang melihat.
Tindakan dengan haya’/malu, diberi uang lebih oleh kasir, mengembalikan karena malu berbuat curang.
Tindakan tanpa haya’/malu, diam saja, memanfaatkan kesalahan.
Tindakan dengan haya’/malu, berbicara di depan umum, memilih kata yang santun, tidak menyinggung.
Tindakan tanpa haya’/malu, mengucapkan kata kasar, merendahkan pendengar.
Pelajaran moral bagi kita yang bisa kita ambil adalah (Modified Meta AI, 2025);
1. Hayā’ adalah cerminan iman yang kuat.
2. Malu yang benar mendorong akhlak mulia, menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia.
3. Kehilangan hayā’ membuka pintu kerusakan moral (badhā’, jafā’) yang bisa menjerumuskan ke neraka (sebagaimana disebutkan dalam riwayat tambahan).
Semoga kita bisa mengambil pelajaran besar ini aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
10 Jumadil Akhir 1447
atau
30 November 2025
m.mustain
