
.
oleh: taryokolanjar
.
Lumajang.
๐๐๐๐ช๐ฃ 1301โ1302 ๐ / 1223โ1224 ๐๐๐ ๐
Senja di desa terpencil itu melukis langit dengan warna jingga yang muram, sama seperti suasana hati Lembu Sora. Rumah panggungnya di Lumajang yang sederhana terasa dingin. Sejak kepulangannya dari Trowulan, setelah pedangnya merenggut nyawa Kebo Anabrang, penyesalan tak pernah meninggalkannya. Ia, salah satu dari Nฤrendra Nฤyaka (Panglima Utama) pendiri Majapahit, kini hanya seorang petani yang terpuruk, merenungi takdirnya yang selalu berujung darah.
.
Di kejauhan, debu mengepul di jalanan desa. Tak lama kemudian, rombongan prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Nambi tiba. Nambi, dengan jubah kebesarannya yang sedikit longgar di tubuhnya yang menua, turun dari kudanya. Matanya yang biasanya tajam kini memancarkan keraguan dan kesedihan.
Nambi berdiri di depan pintu rumah Sora.
Nambi: “Sora… keluarlah, Anakku.”
Lembu Sora melangkah keluar. Tubuhnya tegap, namun matanya lelah. Ia melihat barisan prajurit yang mengepung rumahnya. Ia melihat pedang-pedang yang terhunus. Namun, pandangannya terkunci pada wajah gurunya, sahabatnya, Nambi.
Lembu Sora: “Kakanda Nambi. Sudah kuduga. Kedatanganmu membawa kabar yang lebih pahit dari empedu.”
Nambi: (Suaranya serak, matanya berkaca-kaca) “Sora, kau tahu apa yang aku bawa. Aku tidak menginginkannya, demi dewa-dewa di Trowulan, aku tidak menginginkannya. Tetapi titah Rฤjaputra Jayanegara adalah titah dewa. Kau dituduh berkhianat. Berniat memberontak.”
Lembu Sora: (Tertawa getir) “Memberontak? Kakanda, lihatlah aku. Pakaianku kusam, tanganku memegang cangkul, bukan keris. Sejak kematian Kebo Anabrang, jiwaku telah mati separuh. Aku hanya ingin damai. Aku sudah meninggalkan istana, meninggalkan kekuasaan! Siapa yang membisiki Rฤjaputra dengan racun ini?”
Nambi: (Menghela napas panjang, menunduk) “Tidak penting siapa dia, Sora. Yang penting… Rฤjaputra sudah murka. Ia melihat ketiadaanmu sebagai pengakuan atas kesalahanmu. Ia melihat pengunduran dirimu sebagai awal dari pengumpulan kekuatan.”
Lembu Sora: “Fitnah! Semuanya fitnah! Aku bersumpah demi langit dan bumi, aku tak pernah berniat mengkhianati Majapahit, apalagi Raden Wijayaโayahnya yang mulia. Kitalah yang mendirikannya bersama, Kakanda!”
Nambi: “Aku tahu, Sora! Aku tahu! Kau adalah Bhre Tumapel, salah satu dari tiang penyangga yang menyelamatkan Majapahit dari tangan Jayakatwang! Tapi di mata Rฤjaputra yang kini bertakhta, kesetiaan lama tidak lagi berlaku. Ia hanya melihat pedang yang bisa ia gunakan, atau pedang yang harus ia patahkan.”
Lembu Sora: “Lalu, apakah kau akan menjadi tangan yang mematahkan pedang sahabatmu sendiri, Kakanda?”
Nambi: (Mengangkat pandangannya, kesedihan mendalam tampak jelas) “Aku harus, Sora. Aku adalah Patih Amangkubhumi. Aku bersumpah atas nama negeri. Jika aku menolak, darahku yang akan tumpah, dan keluargaku… Ah, Sora. Pilihlah jalanmu. Kembalilah bersamaku, biarkan Rฤjaputra mengadili. Aku akan membela mati-matian!”
Lembu Sora: (Tersenyum getir, menggelengkan kepala) “Adil? Di mana keadilan bagi Kebo Anabrang? Di mana keadilan bagi mereka yang mati sia-sia? Tidak, Kakanda. Aku tidak akan membiarkan leherku digantung di alun-alun Trowulan atas dasar fitnah seorang lintah darat. Aku bukan pengkhianat, dan aku akan mati sebagai seorang kesatria.”
Sora menoleh ke belakang, ke arah istrinya dan anak-anaknya yang bersembunyi.
Lembu Sora: “Aku tidak akan menyerahkan diri, Kakanda Nambi. Keluargaku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menyaksikan aku dibantai. Jika aku harus mati, biarlah Majapahit tahu, bahwa Lembu Sora mati membela diri dan kehormatannya!”
Nambi: (Menutup matanya sejenak, air mata menetes di pipi tuanya) “Ya dewa… Jangan salahkan aku, Sora. Jangan salahkan aku.”
Nambi mengangkat tangan yang gemetar. Ia tidak berani menatap mata Sora lagi.
Nambi: “Majapahit… Serbu!”
.
Teriakan komando Nambi adalah isyarat. Prajurit Majapahit yang sebenarnya enggan, maju dengan ragu-ragu. Mereka tahu betul siapa Lembu Sora.
Lembu Sora mengeluarkan kerisnya, yang terukir indah namun mematikan. Dengan raungan kemarahan dan kepedihan, ia menerjang barisan prajurit. Ia bergerak lincah dan ganas, didorong oleh tekad untuk melindungi keluarganya dan membela nama baiknya.
Ia berhasil menjatuhkan banyak prajurit yang maju, namun jumlah mereka tak terhitung. Satu keris melawan puluhan tombak dan pedang. Ia bertarung hingga ia terdesak ke depan pintu rumahnya. Ia memejamkan mata, memohon maaf pada istri dan anak-anaknya, sebelum akhirnya…
Tombak-tombak Majapahit menembus tubuh sang mantan panglima dengan kejam.
Lembu Sora jatuh, darah membasahi tanah kampung halamannya. Matanya terbuka, menatap langit senja, sebelum pandangannya meredup. Ia pergi, bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai korban fitnah dan kesalahpahaman yang tragis.
Nambi memejamkan mata rapat-rapat. Ia tak sanggup melihat pemandangan itu.
.
Perjalanan kembali ke Trowulan terasa seperti prosesi pemakaman. Nambi duduk di atas kudanya, tanpa suara, namun dadanya sesak oleh badai kesedihan.
Langit Majapahit terasa berat. Malam telah tiba, dan bintang-bintang seolah enggan menampakkan diri, seakan ikut berduka atas matinya seorang kesatria. Suara derap kaki prajurit yang kembali terdengar sayu, seperti nyanyian kematian yang bergema di hati Nambi.
.
Ia merasa menjadi pembunuh. Bukan pembunuh musuh negara, melainkan pembunuh adiknya, sahabatnya, dan salah satu saudara seperjuangan yang setia.
“Aku gagal, Raden Wijaya. Aku gagal menjaga mereka,” bisiknya pelan, seolah berbicara pada arwah mendiang raja. “Sora mati, dan aku yang bertanggung jawab atas darahnya. Bagaimana aku bisa berdiri tegak lagi di hadapan para dewa?”
Tangisan Nambi bukan lagi air mata duka biasa, melainkan tangisan penyesalan yang membakar. Ia tahu ia hanya melaksanakan perintah, tapi ia juga tahu kebenaranโbahwa Sora difitnah. Ia telah menukar kebenaran dengan ketaatan. Sebuah harga yang terlalu mahal. Ia merasa dirinya sudah tua dan lelah, namun ia harus terus hidup membawa beban ini.
.
Sementara itu, jauh di sudut istana Trowulan, di bawah rembulan yang tersaput awan, sesosok bayangan tampak di lorong gelap.
Mahapati Halayudha mendengar laporan tentang tewasnya Lembu Sora. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang tipis, licik, dan puas.
Target ketiga sudah tumbang.
Jalan menuju puncak kekuasaan kini terbuka lebih lebar.
.
Mahapati tahu, tragedi ini belum usai. Ia telah menanam benih kecurigaan, ketidakpercayaan, dan pengkhianatan di hati Jayanegara dan di antara para Nฤrendra Nฤyaka lainnya. Ia hanya perlu menunggu benih-benih itu tumbuh dan Majapahit akan memanen badai.
.
.
Terinspirasi dari Kitab Pararaton .
—
๐๐ข๐ณ๐ข๐ณ๐ข๐ต๐ฐ๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ 32:
โ๐๐ข๐ถ๐ฏ 1224 ๐๐ข๐ฌ๐ข, ๐ด๐ช๐ณ๐ข ๐๐ฐ๐ณ๐ข ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฅฤ๐จ๐ข๐ฌฤ๐ฏ ๐ธฤ๐ฏ๐จ๐ช ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐จ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฌฤ๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข, ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐ช๐ณ๐ข ๐ด๐ช๐ณ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช๐ฉ ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช. ๐๐ฐ๐ณ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ณ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐๐ข๐ธ๐ฆ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ, ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐จ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ ๐๐ฐ๐ณ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ณ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ถ๐ณ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐๐ข๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ต๐ช.โ
—
